Konten dari Pengguna
Derealisasi Setelah kehilangan Melalui Lensa Neurosains
26 Oktober 2025 7:00 WIB
·
waktu baca 5 menitTulisan dari Iva Lesti Ardanah Putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bayangkan jika kamu tengah berjalan santai di sebuah taman lalu mendadak suara langkah kakimu terdengar mengecil dan menjauh seolah seperti mimpi. Semua orang terlihat seperti NPC dalam video game. Taman yang selalu kamu lewati sepulang kuliah ini terasa tidak familiar meskipun kamu sudah hafal tiap sudutnya. Kamu sadar ini nyata namun rasanya terlalu aneh, seperti mimpi yang kabur, jauh, bahkan susah diingat.
Barangkali itulah yang terjadi setelah kehilangan. Dunia tak berubah, hanya kita yang tak lagi sama. Terkadang kehilangan tak hanya menciptakan jarak antara kita dan seseorang yang telah pergi, namun juga menciptakan jarak dengan diri kita sendiri.
Fenomena di atas dikenal dengan sebutan derealisasi. Sebuah sensasi di mana kita seperti terpisah dari dunia sekitar (Spiegel, 2025). Derealisasi termasuk dalam spektrum disosiasi, yaitu kondisi ketika seseorang merasa kehilangan pijakan pada ingatannya, bingung akan identitas sendiri, serta keterputusan dengan emosi dan pengalaman hidupnya sendiri.
Meskipun derealisasi kerap hadir bersamaan dengan depersonalisasi-perasaan asing terhadap diri sendiri-dalam spektrum disosiasi, esai ini akan berfokus pada pengalaman derealisasi sebagai fenomena utama. Alasannya sederhana: beberapa orang yang setelah kehilangan atau mengalami tekanan emosional, justru mendeskripsikan dunianya sebagai “rasanya seperti mimpi.” Fenomena inilah yang menarik untuk dikaji lebih dalam dengan meminjam lensa neurosains sebagai pegangan.
Kita dapat merasakan kejadian-kejadian lumrah dalam hidup menjadi tidak nyata atau kabur seolah dalam mimpi, bahkan dapat memengaruhi ingatan yang membuat orang-orang yang kita kenal seperti orang asing (Wilkhoo et al., 2024). Duka akibat kehilangan dapat menjadi pemicu derealisasi. Di mana masa-masa yang sempat dilalui bersama orang yang disayangi terasa tak nyata bak fragmen mimpi yang membuat kita mempertanyakan akal sehat kita. “Apakah dia nyata?” atau “Apakah obrolan singkat di bawah terik matahari itu pernah benar-benar terjadi?”
Derealisasi adalah wujud kasih sayang otak kepada kita. Saat duka terlalu berat untuk dipikul, otak berusaha memberi benteng antara realitas yang sedang dihadapi dengan respons emosional kita. Dalam proses ini prefrontal cortex (PFC) dan limbic system, yang mengatur emosi dan memori, bekerja dengan cara yang berbeda dari biasanya.
Rasa duka membuat otak bereaksi seolah tengah menghadapi ancaman. Neuron-neuron yang mengatur rasa takut dan memori diaktifkan berulang kali. Oleh karena itu, memori-memori kecil seperti foto, bau, atau mendengar namanya di tempat tak terduga dapat memicu kembali rasa kehilangan (Douglas, 2023). Di sinilah otak berusaha membantu kita bertahan dengan memunculkan mekanisme pertahanan diri seperti derealisasi: “mematikan” sebagian pengalaman emosional agar kita dapat bertahan dari luka yang dalam.
Menurut Shimiaie (2025), apabila derealisasi dilihat dari lensa neurosains, maka kita akan menemukan Sang Manajer Strategi di dalam otak kita yang bernama Prefontal Cortex atau nama bekennya PFC, ia bekerja tepat di belakang dahi. Ia bekerja mengatur emosi dan menjaga kita untuk tetap hadir dalam momen saat ini. Saat disosiasi, aktivitas ini cenderung menurun sehingga memicu perasaan numb atau hilangnya kepekaan emosional. Inilah yang menyebabkan lunturnya keterhubungan dengan realitas yang sedang berjalan di depan mata.
Selanjutnya, ada Kepala Keamanan yang bernama Amigdala. Ialah yang selalu mengamati bahaya, ia pula yang mengaktifkan alarm ancaman, dan pemegang kunci ruang arsip kenangan traumatis. Saat derealisasi, aktivitas amigdala mengalami kesalahan fungsi drastis yang sering menyebabkan kebas emosional atau perasaan terlepas. inilah yang memunculkan sensasi dunia seperti mimpi.
Lalu untuk menjaga orang yang kita sayang tetap ada di dalam ruang memori kita, maka hadirlah Si Satpam Memori. Ia mengemban tugas sebagai pengawas dan pengatur memori, menghubungkan pengalaman yang tengah berlangsung dengan ingatan masa lalu, sehingga otak mengetahui mana yang nyata dan yang tidak. Namun selama episode derealisasi, seringkali aktivitas Hippocampus, Si Satpam Memori, terganggu sangat ekstrem. Hal ini menyebabkan otak kesulitan untuk mengaitkan pengalaman saat ini dengan memori yang dikenal, sehingga menyebabkan memori seolah seperti fragmen-fragmen mimpi yang terputus-putus. Inilah yang seringkali menimbulkan rasa ragu, apa benar ini semua pernah terjadi atau hanya ilusi dari diri yang tak sehat.
Adapula penelitian terbaru menunjukkan bahwa melemahnya konektivitas antara inferior frontal gyrus dan insula berhubungan dengan meningkatnya sensasi “dunia seperti mimpi”, serta penurunan aktivitas di anterior cingulate cortex yang menyebabkan hilangnya sentuhan emosional pada suatu pengalaman (Jia et al., 2025).
Derealisasi bukan hanya gejala yang mengganggu melainkan bentuk perlindungan biologis dari dalamnya duka. Otak mencoba menciptakan jarak antara kita dengan kenyataan yang menyakitkan. Saat raganya tak lagi bisa diraih, sekarang memorinya pun turut luntur bersamaan dengan kepergiannya. Semua terasa tak nyata, jauh, nan asing. Ini bukan hanya perihal duka yang panjang namun juga tentang otak yang berusaha mereka ulang peta realitas baru tanpanya. Derealisasi bukan gambaran dari kegilaan melainkan sebuah respons kompleks otak untuk menjaga keseimbangan emosional saat kita terseret dalam pusaran duka kehilangan.
Namun perlahan-lahan saat waktunya tiba, kita akan kembali ke dalam hidup yang nyata. Kembali menghidupi hidup. Kembali memberi napas pada tiap peristiwa yang sedang berjalan di depan mata, saat otak sudah selesai menyiapkan peta baru untuk dihidupi. Saat otak sudah berani pulih dan melanjutkan narasi yang sempat dijeda. Lalu kita siap melepaskan segala yang perlu dilepas, meregangkan otot-otot jari, membiarkan udara mengambil mana yang perlu diikhlaskan.
Dan perlahan-lahan, kita pulang.

