Konten dari Pengguna
Budaya Healing Anak Muda: Antara Self-Care atau Gaya Hidup Konsumtif?
24 Oktober 2025 7:00 WIB
·
waktu baca 5 menit
Kiriman Pengguna
Budaya Healing Anak Muda: Antara Self-Care atau Gaya Hidup Konsumtif?
Budaya healing menjadi tren populer di kalangan anak muda. Dari liburan singkat hingga kopi estetik, tren healing menunjukkan kebutuhan generasi muda untuk menjaga keseimbangan mental. #userstoryjeanetenicolealicia
Tulisan dari jeanetenicolealicia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sebenarnya, Apa Itu Healing?
Budaya healing sedang marak di kalangan anak muda. Setiap akhir pekan, linimasa media sosial dipenuhi foto di vila sejuk, kopi di kafe estetik, atau perjalanan spontan ke pantai dengan caption “healing dulu”. Kata healing sekarang seperti mantra generasi muda saat merasa lelah. Namun di balik postingan yang terlihat tenang itu, muncul pertanyaan menarik: Apakah healing benar-benar bentuk perawatan diri, atau sudah berubah menjadi gaya hidup konsumtif yang dibungkus kata "keren"?
Awalnya, healing berarti proses penyembuhan, baik fisik maupun mental. Namun, maknanya berkembang seiring waktu. Sekarang istilah ini sering digunakan untuk hampir semua hal yang membuat hati senang. Liburan ke Bali? Healing. Nongkrong di kafe cantik? Healing. Tidur seharian di rumah juga bisa disebut healing. Intinya, apa pun yang membuat kita istirahat sejenak dari dunia yang sibuk dan memberi kebahagiaan kecil.
"Pressure" Hidup dan Kebutuhan untuk Istirahat
Fenomena ini muncul karena tekanan sosial dan budaya produktivitas yang semakin tinggi. Generasi muda hidup di dunia yang serba cepat, penuh tuntutan akademik, karier, dan media sosial. Banyak yang merasa harus selalu sukses dan terlihat “baik-baik saja”. Tidak heran jika banyak orang mencari cara cepat untuk menenangkan diri. Budaya healing pun menjadi simbol istirahat tanpa rasa bersalah, semacam “izin” untuk berhenti sejenak dari rutinitas yang melelahkan.
Namun, di sisi lain, budaya healing sekarang juga sering dikritik karena bergeser menjadi tren konsumtif. Banyak orang merasa perlu membeli sesuatu agar disebut sedang healing: tiket pesawat, makanan mahal, spa, atau staycation di tempat populer. Padahal, makna awal tren healing bukan tentang banyaknya uang yang dikeluarkan, melainkan tentang bagaimana seseorang memulihkan diri secara mental dan emosional. Saat self-care berubah menjadi ajang pembuktian sosial, nilai penyembuhannya justru hilang.
Saat Media Sosial Membentuk Cara Kita “Pulang” ke Diri Sendiri
Media sosial memiliki peran besar dalam mengubah arti healing. Di TikTok dan Instagram, unggahan bertema weekend healing sering disertai musik lembut, pemandangan indah, dan suasana tenang. Semua terlihat sempurna. Akibatnya, banyak orang merasa mereka juga harus melakukan hal yang sama agar bisa merasa bahagia. Inilah yang disebut social comparison, yaitu kebiasaan membandingkan hidup sendiri dengan hidup orang lain yang terlihat ideal.
Ironisnya, semakin sering kita mengejar momen healing seperti itu, semakin terasa bahwa kebahagiaan kita belum cukup. Bahkan muncul istilah aesthetic burnout, yaitu kelelahan karena berusaha terlalu keras terlihat damai. Kadang orang pergi berlibur bukan untuk menikmati waktu, tetapi demi hasil foto yang layak diposting. Jika sepanjang perjalanan yang dipikirkan hanya hasil konten, apakah itu masih bisa disebut healing?
Budaya Healing dan Bisnis yang Ikut Untung
Budaya healing juga membawa dampak besar bagi dunia bisnis. Industri pariwisata, kafe, dan produk self-care seperti lilin aromaterapi, perawatan kulit, hingga journaling kit meningkat pesat. Berdasarkan data Google Trends, pencarian kata healing place dan retreat Indonesia melonjak sejak 2022. Istilah retail therapy atau terapi belanja juga semakin populer karena banyak orang merasa membeli barang lucu bisa memperbaiki suasana hati walau hanya sementara.
Tentunya, tidak ada yang salah dengan menikmati hidup. Semua orang berhak berlibur, makan enak, atau membeli sesuatu yang menyenangkan. Namun jika healing selalu identik dengan pengeluaran besar, kita bisa kehilangan hubungan dengan diri sendiri. Sebab, esensi self-care bukan terletak pada tempat atau barang, melainkan pada kesadaran untuk berhenti sejenak dan mengenali apa yang benar-benar dibutuhkan tubuh dan pikiran.
Healing yang Sebenarnya Tidak Harus Mewah
Healing asli sering kali sederhana. Bisa dengan berjalan kaki tanpa ponsel, menulis jurnal pribadi, berbicara jujur dengan teman dekat, atau sekadar tidur cukup. Kegiatan seperti ini mungkin tidak tampak menarik di media sosial, tetapi justru memberi efek nyata bagi kesehatan mental.
Menurut American Psychological Association (APA), praktik mindfulness dan istirahat rutin terbukti menurunkan tingkat stres serta meningkatkan kebahagiaan jangka panjang. Sayangnya, kegiatan sederhana seperti ini sering kalah populer karena tidak terlihat menarik di dunia maya.
Sisi Positif dari Budaya Healing
Walau sering dikritik, tren healing juga memiliki sisi positif. Ia membuat generasi muda lebih sadar bahwa kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Dahulu, berbicara tentang stres dan kelelahan dianggap lemah, tetapi sekarang banyak orang mulai terbuka dan berani mencari bantuan. Kesadaran ini membantu anak muda lebih mengenal diri, menjaga batas, dan menemukan keseimbangan hidup.
Artinya, meskipun kadang terkesan konsumtif, budaya healing tetap berperan penting dalam meningkatkan kesadaran akan kesehatan mental di masyarakat.
Belajar Membedakan antara Penyembuhan dan Pelarian
Namun seperti dua sisi mata uang, healing bisa menjadi bumerang jika dijalani tanpa kesadaran. Ketika dilakukan hanya karena tren atau ingin terlihat keren, hasilnya malah membuat kita semakin lelah. Banyak yang mengira kebahagiaan bisa dibeli lewat liburan atau belanja, padahal kebahagiaan sejati sering datang dari hal-hal kecil seperti tidur cukup, makan teratur, dan menerima diri sendiri.Setiap orang memiliki cara healing yang berbeda.
Ada yang merasa tenang lewat musik, olahraga, atau waktu menyendiri di rumah. Tidak perlu membandingkan diri dengan orang lain karena self-care bukan perlombaan siapa yang paling tenang. Seperti pepatah berkata, “Jangan bandingkan bab pertama hidupmu dengan bab dua puluh orang lain.”
Kembali ke Makna Healing yang Asli
Generasi muda perlu belajar membedakan antara healing yang benar-benar menyembuhkan dan healing yang hanya memuaskan ego sesaat. Jika dilakukan dengan kesadaran, healing bisa menjadi waktu refleksi diri yang berharga dan momen untuk menenangkan hati serta mengisi ulang semangat hidup. Namun jika dilakukan hanya demi konten atau validasi sosial, hasilnya justru akan membuat kita semakin lelah.
Pada akhirnya, healing bukan tentang terlihat bahagia, melainkan tentang benar-benar merasa damai. Kebahagiaan sejati bukan berasal dari tempat yang estetik, melainkan dari pikiran yang tenang dan hati yang menerima. Jadi, sebelum berkata “healing dulu”, coba tanya pada diri sendiri: Apakah ini benar-benar penyembuhan, atau hanya pelarian yang sedang tren?

