Konten dari Pengguna

Menjadi Petugas Negara

Bahren
Dosen Sastra Minangkabau Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas
1 Oktober 2023 5:13 WIB
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Menjadi Petugas Negara
Ini adalah cerita fiksi yang teradi bberapa tahun sebelum reformasi,
Bahren
Tulisan dari Bahren tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pagi itu, sangat pagi sekali kala itu, ketika Aini berbegas datang dan melapor dan masuk ke ruangan Pak Pujakesuma. Beliau biasa dipanggil Pak Puja oleh para sejawatnya. Laporan Aini ini sesungguhnya adalah berkaitan dengan kejadian yang menimpanya setelah San diangkat menjadi salah seorang petugas negara. San diangkat karena beliau dinilai berprestasi selama mengikuti perkuliahan di kampus ternama pulau Perca ini. San adalah salah satu bintang yang bersinar di antara teman-temannya yang lain.
Kepongahan San mulai terlihat sejak itu, terlebih Ia menjadi orang pertama di kampung Lunta dan suatu hari orang menyebutnya kampung masa depan yang menyandang gelar sarjana. Gelar yang sebagian besar orang kampung Lunta hanya bisa dikubur dalam dalam laksana mengubur bibit karet yang setiap hari ditakik mereka setiap pagi. Gelar yang bagi orang kampung Lunta menjadi sesuatu yang sangat tinggi laksana tingginya pucuk-pucuk pohon penghasil getah itu.
San menjadi orang yang beruntung, Ia dengan segala kecakapan dan kemauan keranya berhasil melanjutkan studinya setelah tamat sekolah menengah pertama di Lunta ke salah satu perguruan Aliyah yang ternama di sekitar kota Serambi Mekah. San menjadi siswa yang aktif selama di Aliyah tersebut. Bahkan dimasa-masa San menjadi salah satu santri di Aliyah itu, Ia pun pernah menjadi pimpinan santri kala mendemo kebijakan Kepala Aliyah yang mereka rasa tidak berkadilan. Bibit-bibit calon pemimpin dan calon orang sukses sudah mulai terlihat dari San sejak ia masih muda.
Ilustrasi Danau Maninjau. Foto koleksi Penulis
Dengan nafas terengah-engah dan mata berlinangan Aini bercerita pada Pak Puja. Walaupun sebelumnya Aini telah berkabar kepadanya melalui pesan singkat akan menemui Pak Puja secara langsung. Maka pagi itulah pertemuan yang dimaksud terlaksana. “Assalamulaikum...” Aini mengucap salam sambil melihat ke arah dalam ruangan Pak Puja. Pak Puja yang melihat Aini dari dalam kantornya langsung berdiri dan menjawab salam itu “Waalaikum Salam”. Silakan masuk, jawab Pak Puja singkat. Aini pun, segera melangkahkan kaki menuju meja Pak Puja. “silakan duduk Bu!” Pak Puja mempersilakan Aini duduk. Ada yang bisa saya bantu Bu?, lanjut Pak Puja.
“Saya Aini Pak, yang menirimkan pesan singkat ke Bapak beberapa hari yang lalu”, sahut Aini ketika ditanya demikian oleh Pak Puja. “ooo. Ya saya ingat”. Aini yang ingin menemui saya dan ingin mendapatkan keterangan tentang San dari saya. Saya pun sesungguhnya ingin mendapatkan informasi juga dari Aini berkaitan dengan San ini. “Iya Pak, Benar, Saya Aini” Adiknya San. Tanpa basa-basi Aini langsung meluapkan unek-uneknya tentang San.
“Begini Pak Puja. San sungguh terlalu!”
“Mentang-mentang Dia telah menjadi Petugas Negara, Dia dengan semena-mene mencampakkan kami adik-adiknya”.
“Kami diancam Pak Puja, bahkan Kami tidak diakauinya sebagai Adiknya”
“Kami dihilangkan dari daftar waris orang tua kami yang ada pada nya saat ini”.
“Tolong Kami Pak Puja, Kami diananiaya”
“Sebagai pimpinan, tentu Bapak punya hak untuk menegur nya”
“Tunggu... tunggu...Aini, apakah Sasudara sudah selesai ngomongnya?”
“Su..sudah Pak...tapii...tapi tolong Kami Pak”, jawab Aini berlinang air mata.
“Oke...oke. Saya sudah mendengar semuanya” Jawab Pak Puja data.
Ilustrasi Tugu Api Sijunjung. Foto Koleksi Pribadi
Sekarang Aini boleh keluar, tunggu kabar dari saya. Saya akan bicarakan ini dengan pimpinan. Aini pun berlalu meninggalkan ruangan Pak Puja. Sembari berharap mendapat kabar secepatnya dari Pak Puja perihal masalah yang sedang dihadapinya dengan San yang jelas-jelas kaka kandungnya sendiri.
San pun akhirnya mengetahui kedatangan Aini menemui pimpinannya. San naik pitam dan mengusir adiknya itu dari rumah. Hingga bertahun-tahun lamanya Pak Puja pun tidak mendapatkan kabar tentang Aini. Pak Puja tetap memproses laporan Aini, dan san pun dijatuhi hukuman administratif berupa penuran pangkat setingkat lbih rendah. Namun, Aini masih tidak bisa diberi kabar, dan Pak Puja Pun menyimpan jawaban atas laporan Aini hingga bertahun-tahun Lamanya.
Trending Now