Konten dari Pengguna

Menapaki Halaman Buku untuk Meraih Mimpi, Membaca Menuju Dunia Pendidikan

Jihandia Ikna
Mahasiswa Pendidikan Sosiologi Universitas Negeri Jakarta
16 Oktober 2025 17:00 WIB
Ā·
waktu baca 5 menit
comment
8
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Menapaki Halaman Buku untuk Meraih Mimpi, Membaca Menuju Dunia Pendidikan
Membaca adalah jembatan menuju masa depan. Buku membentuk cara berpikir, membuka peluang, dan mengangkat seseorang dari keterbatasan. #userstory
Jihandia Ikna
Tulisan dari Jihandia Ikna tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi Peserta didik dan Guru (Sumber Foto:oleh ROMAN ODINTSOV: https://www.pexels.com/id-id/foto/anak-kecil-anak-anak-siswa-murid-12719357/)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Peserta didik dan Guru (Sumber Foto:oleh ROMAN ODINTSOV: https://www.pexels.com/id-id/foto/anak-kecil-anak-anak-siswa-murid-12719357/)
Ketika kata ā€œmimpiā€ terucap, Seketika hati dan pikiran kita tertuju pada impian yang ingin diperjuangkan. Mimpi bukan bayang-bayang semu, melainkan cahaya yang menuntun jiwa menuju makna dan tujuan. Dalam perjalanan hidup yang penuh tantangan, selama kita masih bersedia membuka buku, harapan belum benar-benar hilang. Di balik setiap halaman, tersimpan kemungkinan-kemungkinan yang menunggu untuk ditemukan. Tak mengherankan jika banyak orang yang tumbuh dalam keterbatasan menjadikan buku sebagai jembatan untuk mengubah nasib.
Dalam kajian sosiologi pendidikan, literasi dipandang sebagai bagian dari modal budaya sebuah kekuatan tak kasat mata yang memungkinkan seseorang melampaui batas-batas sosial dan ekonomi yang membelenggu, sebagaimana dijelaskan oleh Pierre Bourdieu.
Anak-anak yang tumbuh di lingkungan yang akrab dengan buku sesungguhnya sedang memperluas cakrawala berpikir dan membuka jalan menuju masa depan yang lebih terbuka. Semakin banyak pengetahuan yang mereka serap, semakin luas pula pilihan hidup yang tersedia. Ini bukan sekadar teori. Di Indonesia—di mana ketimpangan pendidikan masih menjadi persoalan serius—buku berperan sebagai penyeimbang.
Ilustrasi perempuan baca buku. Foto: Shutterstock

Buku Mengubah Makna Pendidikan

Esensi dari pendidikan bukan terletak pada kemampuan menghafal, melainkan pada pembentukan cara berpikir kritis dan punya mimpi yang besar. Buku memiliki peran penting untuk membentuk cara pandang dan keyakinan kita. Dalam buku Dream: Seni Mewujudkan Mimpi, Didi Junaedi menekankan bahwa buku adalah sahabat terbaik bagi siapa pun yang memiliki cita-cita. Buku bukan hanya tempat menyimpan ilmu, melainkan juga mentor kehidupan yang menumbuhkan rasa percaya diri. Dari situlah keberanian untuk bermimpi besar tumbuh.
Saya teringat pengalaman saat mengajar di sebuah yayasan yang mendampingi siswa dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi. Awalnya, salah satu siswa tampak enggan belajar. Namun, segalanya berubah ketika saya mengenalkannya pada novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Tokoh Ikal—anak dari keluarga sederhana di Belitung—tetap bersemangat menuntut ilmu meski harus belajar di sekolah yang serba terbatas.
Kisah itu menyentuh hati siswa saya. Ia mulai mau mengerjakan tugas waktu itu dan menyatakan keinginannya menjadi guru. ā€œAku mau seperti Ikal kak, yang tetap belajar meski hidupnya sulit,ā€ katanya. Kalimat sederhana itu menyimpan kekuatan besar dorongan dari dalam diri yang selama ini tersembunyi.
Replika SD Laskar Pelangi atau SD Muhammadiyah Gantong, Belitung. Foto: Bella Cynthia / kumparan
Motivasi membaca memang beragam. Ada yang lahir dari rasa ingin tahu, terutama pada anak-anak yang bercita-cita menjadi dokter, guru, atau pemimpin. Ada pula yang dipicu oleh harapan akan masa depan yang lebih baik secara ekonomi. Ini sejalan dengan teori harapan-nilai dalam psikologi pendidikan yang menyatakan bahwa seseorang akan terdorong belajar jika ia percaya bahwa usahanya bernilai dan akan membuahkan hasil.
Data Kemendikbudristek tahun 2021 mendukung hal ini: siswa yang rutin membaca menunjukkan peningkatan motivasi belajar hingga 28%, berdasarkan survei terhadap 10.000 siswa SD dan SMP (Jurnal Pendidikan Indonesia, Vol. 10 No. 2).

Membaca sebagai Modal Kultural

Dari sudut pandang sosiologi pendidikan, membaca bukan hanya soal mengenal huruf dan kata. Ia adalah bagian dari warisan budaya yang tak terlihat—modal kultural yang dibentuk melalui kebiasaan belajar, nilai-nilai, dan cara berpikir. Bourdieu menyebutnya sebagai kekayaan simbolik yang membantu individu memahami dan menavigasi dunia sosialnya.
Pengunjung membaca buku di Perpustakaan Nasional (Perpusnas), Jakarta, Jumat (7/2/2025). Foto: Rivan Awal Lingga/ANTARA FOTO
Anak-anak yang tumbuh bersama buku sedang membangun fondasi berpikir yang kuat. Mereka belajar menyusun gagasan, mengekspresikan diri, dan membayangkan masa depan yang lebih luas dari realitas yang mereka kenal. Buku bukan hanya sumber informasi, melainkan juga alat untuk memperluas kemungkinan. Di wilayah seperti Nusa Tenggara Timur (NTT), hal ini terbukti nyata.
Program Perpustakaan Keliling (Perpuskel) yang berjalan sejak 2015 telah menjangkau lebih dari 50.000 orang dan menurunkan angka putus sekolah dari 8,5% menjadi 6,2%. Kisah Yuliana dari Flores Timur—yang berjalan kaki hingga 7 km demi meminjam buku dan kini kuliah di jurusan teknik—menjadi bukti bahwa literasi mampu membuka jalan mobilitas sosial.

Teladan dari Tokoh Besar

Kisah tokoh-tokoh besar memperkuat keyakinan ini. B.J. Habibie menemukan cintanya pada teknologi melalui buku-buku yang ia baca sejak kecil. Beliau bukan hanya inspirasi nasional, melainkan juga pribadi yang memengaruhi perjalanan saya. Ketekunan dan semangat belajarnya mendorong saya untuk terus punya mimpi yang besar. Di NTT, kisah Yuliana menunjukkan hal serupa bahwa buku bisa menjadi jembatan di tengah keterbatasan.
Ilustrasi anak sekolah SD Negeri Foto: Shutter Stock
Pendidikan sejati tidak hanya lahir dari institusi formal. Ia tumbuh dari kemauan pribadi untuk belajar dan membaca adalah fondasinya. Paulo Freire menyebut pendidikan yang membebaskan sebagai proses yang memungkinkan individu memahami realitas sosial dan mengambil peran aktif dalam mengubahnya.
Membaca tidak sekadar mengenal huruf, tetapi perjalanan intelektual yang membentuk kesadaran. Buku membuka ruang dialog antara pengalaman pribadi dan struktur sosial, menjadikan pembaca sebagai subjek aktif dalam penciptaan makna. Dalam sosiologi pendidikan, literasi adalah kekuatan budaya yang mampu menggeser batas-batas sosial dan membuka jalan menuju pembebasan.
Pada dasarnya, pandangan sederhana ini tentang menapaki halaman demi halaman buku dengan sungguh-sungguh. Di dalamnya, tersimpan hikmah yang tidak hanya memperluas wawasan, tetapi juga menumbuhkan keberanian untuk bermimpi. Membaca bukan sekadar kegiatan belajar, melainkan langkah awal menuju pendidikan yang membebaskan pendidikan yang membentuk kesadaran, membuka ruang berpikir, dan memberi kekuatan untuk mengubah arah hidup. Seperti yang pernah disampaikan oleh B.J. Habibie, pendidikan adalah alat paling ampuh untuk menciptakan perubahan. Lewat buku, mimpi itu bukan hanya mungkin, tapi layak diperjuangkan.
Trending Now