Konten dari Pengguna

Mimpi Perempuan dan Peran Pendidikan dalam Membangun Kesetaraan

Jihandia Ikna
Mahasiswa Pendidikan Sosiologi Universitas Negeri Jakarta
16 Oktober 2025 21:00 WIB
·
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Mimpi Perempuan dan Peran Pendidikan dalam Membangun Kesetaraan
Pendidikan membebaskan perempuan dari stereotip gender, membuka ruang kepemimpinan, dan mewujudkan mimpi di tengah hegemoni patriarki.
Jihandia Ikna
Tulisan dari Jihandia Ikna tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi Perempuan Membaca (Sumber: Foto oleh Mikhail Nilov:https://www.pexels.com/id-id/foto/orang-wanita-perempuan-kaum-wanita-7582424/
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Perempuan Membaca (Sumber: Foto oleh Mikhail Nilov:https://www.pexels.com/id-id/foto/orang-wanita-perempuan-kaum-wanita-7582424/
Ketika kata “mimpi” terucap, Seketika hati dan pikiran kita tertuju pada impian yang ingin diperjuangkan. Mimpi bukan bayang-bayang semu, melainkan cahaya yang menuntun jiwa menuju makna dan tujuan. Mimpi adalah hak yang tak terpisahkan pada setiap jiwa, termasuk perempuan. Meskipun perempuan memiliki hak yang sama untuk bermimpi dan meraih cita-cita, kenyataannya mereka masih sering dihadapkan pada struktur sosial dan stereotip gender yang membatasi ruang aktualisasi diri.
Dalam bayang-bayang patriarki yang masih mengakar kuat, impian perempuan kerap dikerdilkan oleh norma-norma yang menempatkan mereka dalam ruang domestik dan peran yang tersubordinasi, sehingga membatasi akses terhadap pendidikan, kepemimpinan, dan pengambilan keputusan.

Pendidikan dan Stereotip Gender: Perspektif Sosiologi

Pendidikan memiliki fungsi yang krusial sebagai instrumen sosial dalam memperbaiki kondisi masyarakat, baik dari aspek kehidupan sosial maupun ekonomi. Melalui pendidikan, seseorang tidak hanya memperoleh pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga menyerap nilai-nilai yang membentuk cara berpikir dan bertindak dalam kehidupan bermasyarakat.
Melalui lensa Sosiologi kritis, Pendidikan dimaknai sebagai wadah kekuasaan sosial yang memperkuat kelompok dominan, di mana kelompok berkuasa terus mereproduksi norma-norma sosial yang mempertahankan mereka. Konsep reproduksi sosial yang dikemukakan oleh Bourdieu dan hegemoni Gramsci menjelaskan bagaimana ketidaksetaraan dalam Pendidikan.
Perspektif lanjutan teori kritis dari Frankfurt School memperlihatkan bahwa pendidikan berperan penting dalam membentuk kesadaran kolektif, nilai budaya, dan pola pikir masyarakat. Dalam isu gender, pendekatan ini membantu mengungkap bagaimana kurikulum dan praktik pembelajaran sering kali melanggengkan stereotip serta peran tradisional perempuan.
Karena itu, pendidikan yang berpihak pada kesetaraan perlu membongkar konstruksi sosial yang menempatkan perempuan sebagai pihak yang tersubordinasi, dan mendorong mereka menjadi individu yang aktif, dan mampu berpikir kritis.

Pendidikan sebagai Ruang Sosial yang Membentuk dan Membebaskan

Hegemoni patriarki dalam pendidikan di Indonesia masih bertahan karena akar budaya dan struktur sosial yang kuat. Perempuan sering kali dihadapkan pada dilema antara melanjutkan pendidikan atau menjalankan peran domestik.
Melalui pendidikan, perempuan tidak hanya memperoleh pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga membangun kesadaran kritis untuk menantang norma-norma yang membatasi. Sosiologi kritis memandang pendidikan sebagai arena kekuasaan sosial, di mana kelompok dominan mereproduksi nilai dan struktur yang menguntungkan mereka.
Dalam konteks gender, hal ini berarti bahwa stereotip seperti “perempuan tidak cocok di bidang sains” atau “perempuan harus mengutamakan keluarga daripada pendidikan” terus dilestarikan melalui praktik pendidikan yang tidak reflektif. Namun, perempuan yang berani bermimpi dan belajar adalah agen perubahan.
Melalui pendidikan, perempuan tidak hanya memperoleh pengetahuan dan keterampilan praktis, tetapi juga membentuk kesadaran kritis untuk menantang batasan sosial yang membelenggu. Pendidikan menjadi alat pembebasan dari stereotip gender, sekaligus ruang untuk menumbuhkan jiwa kepemimpinan dan mewujudkan impian yang sebelumnya dianggap mustahil.
Di tangan para pendidik, lahir generasi yang diajak melihat dunia dengan perspektif yang setara. Lewat pengajaran yang terbuka, penghapusan bias, dan lingkungan belajar yang inklusif, mereka menanamkan bahwa kesetaraan bukan sekadar wacana, melainkan fondasi penting bagi terciptanya masyarakat yang lebih adil dan berperikemanusiaan.

Teladan Kepemimpinan Perempuan dalam Menantang Stereotip

Selain dari perspektif sosiologi, nilai-nilai spiritual dalam Islam juga memberikan landasan penting bagi perempuan dalam meraih mimpi dan membebaskan diri dari stereotip. Ketika saya membaca Surah An-Naml di dalam Al-Quran mengingatkan saya akan sosok Ratu Bilqis sebagai pemimpin kerajaan Saba’ bahwa Perempuan pun mampu memimpin dengan kecerdasan dan hati yang jernih. Ia tidak hanya memiliki kekuasaan, tetapi juga menunjukkan kemampuan berpikir kritis, berdialog dengan rakyatnya, dan terbuka terhadap kebenaran.
Kisah Bilqis menjadi representasi bahwa perempuan memiliki potensi kepemimpinan yang kuat mampu berpikir strategis, mengambil keputusan, dan memimpin dengan hati nurani. Dalam konteks pendidikan dan stereotip gender, figur Bilqis menjadi simbol perlawanan terhadap pandangan sempit yang meragukan kapasitas perempuan dalam ruang publik dan intelektual.
Sebagai perempuan, saya memaknai Bilqis bukan sekadar tokoh sejarah, tetapi sebagai inspirasi dalam merajut mimpi besar. Menjadi perempuan bukan berarti harus tunduk pada batasan sosial. Kepemimpinan, kecerdasan, dan keberanian adalah kualitas yang melampaui batas gender. Pendidikan menjadi jalan bagi saya untuk menumbuhkan karakter Seperti ia yang berani, bijak, dan berpihak pada kebenaran.

Aksi nyata perempuan dalam meraih mimpi

Ilustrasi Perempuan Memimpin diskusi (Sumber: Foto oleh Viridiana Rivera: https://www.pexels.com/id-id/foto/34086093/)
Terinspirasi oleh figur Bilqis, banyak perempuan Indonesia masa kini tampil sebagai pemimpin organisasi, pendidik, aktivis, dan inovator yang berkontribusi nyata bagi masyarakat.
Di ruang belajar, mereka bukan hanya pengajar, tetapi pemantik harapan. Solidaritas tumbuh dari tangan mereka, membuka jalan bagi ilmu yang membebaskan. Kepemimpinan perempuan bukan sekadar posisi, melainkan gerakan jiwa yang mentransformasi dunia—dengan kecerdasan, kasih, dan keteguhan yang tak tergoyahkan.
“Mimpi perempuan bukanlah bayang semu, melainkan hak yang tumbuh dari keberanian dan harapan”
Pendidikan yang membebaskan menjadi ladang tempat kesadaran kritis disemai, dan stereotip gender digugurkan satu per satu. Dari ruang belajar yang jujur, lahirlah pemimpin-pemimpin yang berjalan dengan nurani, berpikir dengan kejernihan, dan melangkah dengan keberanian. Seperti Bilqis, perempuan masa kini pun mampu memimpin dunia dengan cahaya dari dalam dirinya.
Mereka tidak hanya memperoleh pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga membentuk kesadaran untuk mempertanyakan dan menantang norma-norma yang membatasi ruang gerak mereka. Selama Perempuan mau dan mampu untuk belajar mereka pasti bisa mewujudkan mimpi terlepas dari stereotip gender yang ada di masyarakat.
Trending Now