Konten dari Pengguna
Sang Penjahit Benang Nasib
29 Januari 2025 9:59 WIB
·
waktu baca 3 menit
Kiriman Pengguna
Sang Penjahit Benang Nasib
Temukan makna cinta terhadap takdir dalam kehidupan melalui pandangan Fatum Brutum Amor Fati. Pelajari bagaimana menerima nasib dengan lapang dada dan terus berusaha meski menghadapi tantangan.Jody jeremi hadrian ritonga
Tulisan dari Jody jeremi hadrian ritonga tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
"Kuncinya dalam menjahit adalah kesabaran." Begitulah salah satu pesan dari sebuah artikel yang membahas seorang penjahit yang telah menggeluti bidangnya selama belasan tahun. Benar. Bekal kedua untuk menjadi seorang penjahit adalah memiliki kesabaran yang ekstra.
Bagaimana tidak? Memasukkan benang ke dalam lubang jarum saja bisa menjadi tantangan tersendiri. Meskipun menggunakan mesin jahit, prosesnya tidak semudah yang dibayangkan. Mesin jahit pun memerlukan pengaturan dan keterampilan khusus untuk menggunakannya dengan tepat. Mulai dari mengukur, menyatukan benang, hingga berbagai tahapan lainnya. Belum lagi, jika terjadi kesalahan, benang-benang yang sudah terjahit tidak dapat dengan mudah diperbaiki atau dihapus.

Menarik benang-benang dengan berbagai warna dan jenis, seperti menyatukan elemen-elemen yang saling melengkapi. Tiap helai benang yang menyilang membentuk pola indah, menari di antara jarum dan kain, hingga tercipta sebuah pakaian. Pakaian kita adalah buah dari kesabaran para penjahit, yang dengan telaten merajut setiap helai dengan penuh perhatian.
Menjahit bukan hanya soal estetika, melainkan juga soal fungsionalitas. Ketika kancing celana kita terlepas atau pakaian kita mulai melepaskan benang-benangnya, tukang jahitlah yang kita cari untuk memperbaiki kekurangan itu, menyatukan kembali apa yang terurai, dan memberi kehidupan baru pada pakaian yang kita kenakan. Setiap kali penulis menyaksikan proses menjahit, benaknya pun terlintas sebuah gambaran "Bagaimana jika, selama ini, sang Pencipta merajut nasib setiap individu seperti seorang penjahit yang telaten, menyatukan setiap benang dengan tujuan yang penuh makna, meskipun seringkali tak tampak oleh mata kita?"
Nasib yang tak bisa diubah datang dengan cara yang tak terduga, seperti pencuri yang menyelinap di malam hari. Ketika kita merasa telah menyusun rapi setiap jalan kehidupan, layaknya kancing yang terlepas, begitu mudah rencana yang telah kita jahit dan ukur dengan teliti bisa terurai dan lari dari alur nya.
Ketika nasib sudah lepas dari jalur, seringkali yang kita lakukan sebagai anak Adam adalah mengutuki takdir itu, berseru kepada langit, "Mengapa kau memberiku nasib seperti ini? Mengapa aku tidak kaya? Sudah kuciumi tanah dengan jidatku, namun mengapa nasib orang itu jauh lebih baik?" Dan setelah itu, yang kita lakukan hanya terus mengutuki dan meratapi nasib yang telah dijahitkan untuk kita, seolah tidak ada ruang bagi penerimaan atau pengharapan.
Ada pandangan yang membuat kita belajar mencintai setiap nasib yang telah dirajut oleh sang Khalik, menerima dengan hati yang lapang. Sebuah pandangan yang mengajarkan kita untuk memeluk takdir dengan penuh kesadaran, yaitu Fatum Brutum Amor Fati.
Jika ditelaah setiap katanya, dari bahasa Latin, fatum atau fati berarti takdir, brutum berarti kejam atau kasar, dan amor berarti cinta. Jadi, arti dari Fatum Brutum Amor Fati adalah cinta terhadap nasib yang keras. Konsep ini mungkin sudah tidak asing bagi mereka yang mendalami aliran Stoisisme dan Nihilisme.
Alih-alih mengutuki nasib, lebih baik kita menerima apapun yang Penjahit Takdir lekatkan pada kita. Tentu, ini bukanlah hal yang mudah, tidak secepat guratan pena di artikel ini. Namun, dengan belajar untuk menerima dan berkata:
Tentu, kita bisa terus berusaha menjadi lebih baik setiap hari, namun semaksimal apapun kita mencoba, terkadang hidup menghadirkan tantangan yang tak terduga. Ditolak masuk ke perusahaan, skripsi yang tak kunjung di-ACC oleh dosen pembimbing, atau bahkan kehilangan seseorang yang begitu kita cintai.
Percayalah, Sang Penjahit sedang memintal kita, dengan teliti menyilangkan benang-benang nasib kita. Benang kesedihan, kebahagiaan, semua ia rajut dengan penuh perhatian, agar kita menjadi mahakarya yang indah di mata-Nya. Jangan pernah menyerah. Bersedih boleh, namun jangan pernah menyerah. Cintailah nasibmu, karena Sang Penjahit belum selesai menjahitkan benang-benang nasib itu kepada kita.

