Konten dari Pengguna

Pulang Kampung, Idul adha, dan Pertanyaan yang Tak Pernah Absen

Jumansi
Saya alumnus Pendidikan Jasmani Universitas Megarezky serta alumnus Magister Pendidikan Jasmani dan Olahraga Universitas Negeri Makassar
6 Juni 2025 18:58 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Pulang Kampung, Idul adha, dan Pertanyaan yang Tak Pernah Absen
Dalam Islam, ibadah kurban bukan sekadar tradisi, melainkan bagian dari syariat yang memiliki landasan hukum yang kuat. Allah SWT berfirman: "Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah."
Jumansi
Tulisan dari Jumansi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Dokumen Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Dokumen Pribadi
Selain Idul fitri, Idul adha juga menjadi momen sakral yang dinanti-nanti oleh umat Islam, khususnya bagi para perantau. Ini adalah waktu yang tepat untuk pulang kampung, berkumpul bersama keluarga, dan merasakan kembali hangatnya suasana kampung halaman. Suara takbir yang menggema dari masjid, aroma daging kurban yang dimasak di dapur, serta obrolan santai yang penuh tawa dan nostalgia menjadi bagian dari tradisi yang melekat setiap tahunnya.
Namun, ada satu hal yang juga selalu hadir dalam suasana itu, pertanyaan klasik yang datang dengan wajah penuh senyum dan nada bercanda: “Kapan nikah?” Pertanyaan ini kadang terdengar ringan, namun bisa menjadi beban tersendiri, terutama bagi mereka yang sedang menjalani fase hidup dengan tenang tanpa tergesa.
Tapi mari kita melihat ini melalui lensa yang lebih luas, yakni semangat pengorbanan, yang menjadi inti dari Iduladha itu sendiri.
Dalam Islam, ibadah kurban bukan sekadar tradisi, melainkan bagian dari syariat yang memiliki landasan hukum yang kuat. Allah SWT berfirman:
"Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah."
(QS. Al-Kautsar: 2)
Selain itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Barang siapa yang memiliki kelapangan (rezeki) dan tidak berkurban, maka janganlah ia mendekati tempat shalat kami.”
(HR. Ahmad dan Ibnu Majah)
Hadits ini menunjukkan peringatan keras kepada mereka yang mampu secara finansial namun enggan berkurban. Sebaliknya, dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim, dijelaskan bahwa Rasulullah SAW sendiri senantiasa menyembelih hewan kurban setiap tahun sebagai bentuk ibadah sekaligus teladan bagi umatnya.
Sebagaimana dilansir dari situs resmi BAZNAS (baznas.go.id), kurban mengandung dua dimensi ibadah: Dimensi vertikal, yaitu ketaatan kepada Allah. Dimensi horizontal, yaitu kepedulian kepada sesama melalui distribusi daging kurban kepada yang membutuhkan.
Maka, pulang kampung saat Idul adha bukan hanya soal kebersamaan dan nostalgia. Ia juga mengandung makna pengorbanan dalam bentuk yang lebih luas termasuk pengorbanan emosional dan kesabaran menghadapi ekspektasi sosial, seperti menjawab pertanyaan “kapan nikah?” dengan tenang, tanpa sakit hati, dan tetap menghargai perhatian keluarga.
Karena sejatinya, Idul adha mengajarkan bahwa pengorbanan bukan sekadar menyembelih hewan, tapi juga menyembelih ego, menahan diri, dan menumbuhkan keikhlasan. Setiap bentuk kesabaran yang dijalani dengan tulus adalah bagian dari ibadah, bagian dari pulang yang sesungguhnya, yakni pulang kepada nilai-nilai luhur yang diajarkan agama.
Trending Now