Konten dari Pengguna

Warnaku yang Berbeda

Jumansi
Saya alumnus Pendidikan Jasmani Universitas Megarezky serta alumnus Magister Pendidikan Jasmani dan Olahraga Universitas Negeri Makassar
23 Mei 2025 8:14 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Warnaku yang Berbeda
Warnaku berbeda. Bukan lebih baik, bukan lebih mulia. Hanya berbeda karena tidak terbiasa menyebut terang pada yang samar
Jumansi
Tulisan dari Jumansi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi fotografi. Foto: New Africa/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi fotografi. Foto: New Africa/Shutterstock

Jatuh, Patah, dan Bangkit Kembali

Di antara gelombang suara dan barisan langkah yang seragam, ada satu warna yang tak menyatu dalam pola umum. Bukan karena enggan menjadi bagian, melainkan karena ada suara batin yang tak ingin ikut larut dalam gema kepura-puraan.
Warnaku berbeda. Bukan lebih baik, bukan lebih mulia. Hanya berbeda karena tidak terbiasa menyebut terang pada yang samar, dan enggan menyebut pengabdian pada hal yang tak sepenuhnya untuk orang banyak.
Di dunia yang gemerlap oleh citra, lilin-lilin kebenaran coba dinyalakan. Namun sering kali padam, ditiup angin kepalsuan yang datang dari segala arah, berbalut senyum, dikemas rapi dalam kata-kata publik.
Kini dokumentasi menjadi segalanya. Kegiatan demi kegiatan tak pernah luput dari jepretan lensa. Foto-foto berlatar belakang spanduk besar, dengan tema yang mencolok, huruf kapital dan warna cerah. (keren mantong desainna tawwa).
Spanduk itu dibawa ke mana-mana. Lakban menjadi teman setia, mudah dipasang dan dilepas, berpindah lokasi, berpindah fungsi, namun tetap dalam narasi yang sama. Serangkaian kegiatan berjalan, semua siap menjadi dokumentasi.
Tak berselang lama, muncullah berita: “Menyerahkan bantuan…” “Menampung aspirasi…” (Asiiiiiik sekali tawwa). “Merespon kebutuhan masyarakat…” Bahasanya tertata rapi, dikonstruksi dengan diksi profesional agar tampak bermakna, meskipun seringkali makna itu hanya mengambang di permukaan.
Media sosial menjadi corong yang menyuarakan semua itu. “Inilah kinerjaku,” katanya.
“Beginilah aku menyerap suara publik.” Barangkali benar, barangkali juga hanya dokumentasi yang mengabadi di layar, sementara suara rakyat yang katanya diserap mengambang di udara, tanpa jejak, tanpa tindak, lalu lenyap seperti embun pagi.
Mungkinkah serapan aspirasi itu tak menguap? Mungkinkah yang terdata benar-benar menjadi daya gerak? Ataukah hanya deretan gambar dan laporan yang rapi namun hampa makna?
Di titik ini, suara hati bertanya, bukan menuduh, bukan menghakimi hanya merenung, apakah suara publik benar-benar hidup di balik gema kata-kata yang digaungkan?
Dan dalam keheningan yang jujur, terasa getir namun nyata, bahwa kebenaran sering kali berjalan sunyi. Ia bukan teriakan di podium, bukan unggahan yang disukai ribuan jempol, melainkan keputusan kecil yang tulus, yang mungkin tak dikenal, tapi berjejak dalam kehidupan orang lain.
Warnaku tetap berbeda. Tetap mencoba menyalakan satu lilin, meski kecil dan mudah padam. Karena keyakinan masih tertanam, bahwa kebenaran, meski redup, akan selalu menemukan jalannya sendiri.
Jatuh mungkin sudah dialami. Patah sudah pernah dirasa. Namun bangkit adalah kewajiban bagi siapa pun yang yakin, bahwa tugas manusia bukan menyesuaikan diri dengan gema, melainkan setia pada suara nurani, meski harus berjalan dalam senyap.
Mengakhiri tulisan ini, saya mengutip pernyataan Prof. Dr. H. Moh. Mahfud MD dalam kanal YouTube Bapak Gita Irawan Wirjawan, B.B.A., M.B.A., M.P.A. Dalam pernyataannya, beliau menyampaikan kurang lebih seperti ini bunyinya:
"Ketika Tuhan menghendaki seseorang menjadi sesuatu, maka Tuhan akan menciptakan sebabnya."
Pernyataan ini mengandung nilai reflektif yang kuat: bahwa setiap peristiwa dalam hidup, termasuk saat-saat jatuh, rapuh, dan merasa tersisih, bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan bagian dari rangkaian sebab yang ditata oleh kehendak-Nya.
Oleh: Jumansi, S.Pd.,M.Pd
Trending Now