Konten dari Pengguna

Mengapa Generasi Muda Kini Merasa 'Hampa'?

Juni Santri H
Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Andalas
3 November 2025 7:00 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Mengapa Generasi Muda Kini Merasa 'Hampa'?
"Merasa 'kosong'? Fenomena kekosongan hidup Gen Z dibahas lewat ide transendentalisme. Apakah tren vanlife dan backpacker adalah solusi atau sekadar materialisme baru?"
Juni Santri H
Tulisan dari Juni Santri H tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Foto: Dokumentasi Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Foto: Dokumentasi Pribadi
Perasaan 'hampa' di tengah kemajuan zaman ini sesungguhnya adalah gema dari sejarah. Ini bukanlah fenomena yang sepenuhnya baru. Jauh di abad ke-19, sekelompok anak muda di Amerika juga merasakan "ketidakpuasan dan kekecewaan" yang serupa terhadap modernitas. Mereka muak dengan aturan sosial yang kaku, materialisme yang mulai tumbuh, dan kehidupan yang terasa kering secara spiritual. Gerakan kolektif mereka sebagai respons atas kekecewaan itu kemudian dikenal sebagai Transendentalisme.
Lalu, apa sebenarnya Transendentalisme itu? Ini adalah aliran pemikiran yang mempopulerkan ideologi bahwa pemahaman mendalam dan kebijaksanaan sejati tidak didapat dari buku teks, struktur agama formal, atau aturan masyarakat. Sebaliknya, pemahaman itu harus diraih melalui pengalaman pribadi, intuisi, dan perenungan langsung. Salah satu pelopornya, Ralph Waldo Emerson, menegaskan bahwa "guru besar" bagi manusia adalah alam. Dengan berdiskusi dan berkontemplasi di alam, seseorang bisa berkomunikasi langsung dengan Tuhan dan menemukan kebenaran hakiki.
Pemikiran yang radikal pada masanya ini tentu melahirkan tipe individu yang khas. Emerson, dalam khotbahnya "The Trancendentalist", menggambarkan para penganutnya sebagai individu yang cenderung menolak lingkungan sosial mereka. Mereka bersifat individualis, suka mengasingkan diri dari peradaban, dan lebih nyaman menulis daripada berinteraksi. Mereka sering dicap "tak berguna dan menyedihkan" oleh masyarakat karena menghindari keramaian dan memilih kesunyian. Meski tampak kesepian, jauh di lubuk hati mereka, mereka tetap ingin dicintai.
Sifat penyendiri ini adalah wujud nyata dari filosofi mereka. Aksi paling ikonik dari gerakan ini dicanangkan oleh Henry David Thoreau, murid dari Emerson. Ia mendokumentasikan pengalamannya dalam buku Walden (1854), yang menceritakan keputusannya untuk hidup menyepi di pondok sederhana di tepi Danau Walden. Thoreau menjelaskan motivasinya dalam kutipan legendaris:
Selama di Walden, Thoreau tidak hanya diam. Ia "hidup dengan sengaja" dengan mempraktikkan kesederhanaan: berkebun, beternak, dan bermeditasi. Ia berusaha menemukan kebahagiaan dalam hidup yang minimalis, jauh dari pengejaran kekayaan. Filosofi ini sejalan dengan cara hidup beberapa suku asli Amerika, seperti Suku Indian, yang sangat menghormati alam. Mereka memanfaatkan alam secukupnya (seperti merawat kuda untuk transportasi, bukan membantainya) sebagai satu kesatuan yang utuh dengan manusia. Bagi Thoreau, inilah etika yang sesungguhnya.
Meskipun gerakan Transendentalisme secara formal meredup di akhir abad ke-19, pengaruh dan semangatnya bertahan lama. Nilai-nilai inti yang mereka usung—pencarian kebebasan personal, penolakan terhadap rutinitas kaku, dan pencarian makna hidup melalui pengalaman langsung—ternyata tidak pernah benar-benar mati. Nilai-nilai ini kembali muncul di era modern, meskipun dalam bentuk yang telah bertransformasi.
Di masa kini, kita melihat jejak semangat transendentalis itu pada fenomena backpacker dan vanlife. Keduanya sama-sama didorong oleh keinginan untuk "bebas" dari ikatan pekerjaan atau satu tempat tinggal saja (Müller, 2016). Backpacker identik dengan gaya hidup bepergian mandiri untuk meninggalkan kehidupan aslinya sementara waktu. Begitu pula vanlife, sebuah gaya hidup berpindah-pindah yang dinilai minimalis, yang dipopulerkan oleh Foster Huntington dengan slogan "Home is where you park it". Kedua gaya hidup ini mewakili pencarian jati diri yang sama.
Namun, di sinilah letak paradoksnya. Jika Transendentalisme asli lahir untuk melawan materialisme, bentuk modernnya justru tidak bisa lepas dari hal tersebut. Kaum transendentalis dulu membenci orang yang sudah punya 5 pasang sepatu tapi masih ingin menambahnya. Ironisnya, penelitian (Hannam, 2007) menunjukkan backpacker modern sangat bergantung pada materi pendukung seperti internet agar tetap terhubung, dan pengeluaran mereka bahkan bisa lebih besar dari turis biasa.
Keterikatan pada materialisme ini semakin jelas pada fenomena vanlife. Dengan jutaan unggahan tagar di Instagram, gaya hidup vanlife menjadi sangat visual dan butuh pengakuan (Hardy, Bennett & Robards, 2018). Van itu sendiri, bahan bakarnya, dan segala perlengkapan di dalamnya adalah bentuk materialisme yang nyata. Ini bertentangan dengan esensi Transendentalisme yang mencari kebijaksanaan dalam kesunyian, bukan dalam validasi digital.
Pada akhirnya, meskipun kedua gaya hidup modern ini tidak sepenuhnya murni mengadopsi nilai-nilai Transendentalisme, kemunculannya membuktikan satu hal: jumlah manusia modern yang tertarik pada isu kebebasan dan pencarian jati diri terus meningkat. Rasa "kekosongan hidup" yang dirasakan generasi muda saat ini mungkin adalah alarm yang sama dengan yang dirasakan Thoreau dan Emerson 200 tahun lalu. Sebuah alarm untuk berhenti sejenak, dan mulai "hidup dengan sengaja".
Trending Now