Konten dari Pengguna

Dan Taman Itu Bernama Doa

Juwanda Yusuf Gunawan
Pegawai di Direktorat Jenderal Pajak
4 Juni 2025 7:44 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Tulisan dari Juwanda Yusuf Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Henri, Saat Membersihkan Halaman Parkir Kantor Pajak. Foto: Dokumentasi Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Henri, Saat Membersihkan Halaman Parkir Kantor Pajak. Foto: Dokumentasi Pribadi
Di bawah langit Samarinda yang kadang muram, kadang teduh, seseorang menyapu dedaunan bukan hanya dari halaman, tapi juga dari kepalanya sendiri.
Di halaman KPP Pratama Samarinda, saat embun belum sempat berpamitan dari dedaunan, ia sudah lebih dulu datang.
Tangan kanannya menggenggam selang, tangan kirinya menggenggam harapan.
Ia menyiram taman bukan sekadar tugas harian—tapi ibadah diam-diam yang tak butuh panggung.
Namanya Mas Henri—tapi saya yang memanggilnya Mas Hen. Bukan karena kedekatan fisik, tapi karena setidaknya kami berdua tahu beberapa jiwa hanya bisa kita pahami lewat keheningan panjang dan percakapan yang tak pernah selesai.
Orang di kantor-kantor SCBD sana biasa memanggil sebagai gardener (petugas taman). Bahasanya memang barat, tapi tubuhnya penuh Timur. Membungkuk dalam kerja, bersujud dalam doa.
Tak banyak yang tahu, bahwa sebelum ia merawat tumbuhan di taman, ia lebih dulu menanam ilmu di bangku kuliah.
Lulusan S1 yang memilih jalan berbeda, bukan menyerbu lowongan kerja, tapi mengabdi dengan diam.
Di antara pot-pot bunga itu, ia menyusun rencana hidup seperti orang menyusun batu bata fondasi—satu per satu, penuh perhitungan.
Di antara waktu-waktu lengang saat matahari belum cukup terik, Mas Henri menulis dalam kepalanya bahwa ia akan lanjut kuliah.
Ia tidak tahu dari mana uangnya datang, tapi tahu benar bahwa Allah tak pernah kehabisan cara.
Dan betul saja, jalan itu terbuka. S2 ia tempuh dengan kepala tegak, meski sepatu kerjanya masih bau tanah dan bajunya kerap basah oleh keringat pagi.
Di sela jadwal kerja dan kuliah, Henri memanjatkan azan di Masjid Al Ikhlas KPP Samarinda.
Suaranya bening seperti air wudhu pertama subuh hari. Ia tak hanya muadzin, tapi juga pernah berdiri sebagai juara dalam lomba nasional yang digelar oleh Masjid Salahudin KPDJP, pusat syiar dan suara-suara terbaik dari seluruh penjuru negeri.
Tapi yang membuatku terdiam bukan itu. Melainkan bagaimana ia bangkit, tanpa gegap gempita.
Ia melanjutkan studi S2 diam-diam, menyisihkan rupiah dari gaji sebagai PPNPN. Ia mendaftar PNS di Pemkot Samarinda, bukan karena ingin prestise, tapi ingin berbuat lebih luas.
Dan kemarin, 1 Juni—saat Pancasila kembali didengungkan dari podium ke podium—Mas Hen juga memulai babak baru. Resmi menjadi CPNS.
“Wa qul i‘malū fasayarallāhu ‘amalakum wa rasūluhū wal-mu’minūn…”
“Dan katakanlah: Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang beriman…” (QS. At-Taubah: 105)
Ayat itu seolah hidup dalam dirinya. Bukan lewat pidato, bukan lewat unggahan, tapi lewat tindakan sehari-hari.
Mas Hen mengajarkan kita bahwa taman yang indah bukan hanya soal bunga dan rumput. Tapi tentang seseorang yang merawatnya dengan cinta, sambil merawat mimpinya sendiri.
Dan pada akhirnya, taman itu tumbuh. Bukan hanya di kantor pajak—tapi di dalam hidupnya.
Trending Now