Konten dari Pengguna
Sisypus di Tengah Kembang Api
31 Desember 2025 23:46 WIB
·
waktu baca 4 menit
Kiriman Pengguna
Sisypus di Tengah Kembang Api
Esai naratif tentang tahun baru, resolusi yang stagnan, hidup seperti Sisypus, dan keberanian kecil untuk mengubah nasib.Kaha Anwar
Tulisan dari Kaha Anwar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Besok tahun berganti. 2026 datang seperti tamu baru yang sudah kita duga kedatangannya, tetapi tetap saja membuat kita sibuk menata ruang tamu. Kita menyiapkan kembang api, bakar daging, menyimpan minuman di kulkas. Kita juga membeli terompet—entah untuk meniupkan harapan atau sekadar menakut-nakuti kesedihan agar minggat.
Pergantian tahun selalu membuat kita sedikit riuh, sedikit sentimentil. Seolah-olah pukul dua belas adalah garis batas antara hidup lama dan hidup baru. Padahal, ketika petasan terakhir padam, hidup masih itu-itu saja. Tagihan masih menunggu. Deadline kerja belum berubah menjadi liburan. Dan orang yang kita cintai belum tentu tiba-tiba menjadi lebih mudah dimengerti.
Tapi, kita tetap merayakan. Mungkin bukan karena yakin akan ada keajaiban. Bisa jadi, justru karena kita lelah, dan perayaan adalah cara paling waras untuk menipu diri sebentar. Tahun baru adalah jeda yang kita buat-buat: seolah dunia memberi kesempatan kedua; seolah resolusi yang tidak dikerjakan tahun lalu bisa diselamatkan dengan mengganti angka kalender.
Saya juga menyiapkan daftar. Tahun lalu saya berniat olahraga tiga kali seminggu, tetapi yang sering terjadi lebih dekat ke tiga kali mengingat bahwa saya seharusnya olahraga. Saya berniat membaca lebih banyak buku, namun yang saya baca justru notifikasi grup WhatsApp. Hidup memang tidak dramatis; ia hanya berjalan, pelan-pelan, sambil menertawakan kita.
Mungkin karena itu, menjelang pergantian tahun, kita menjadi melankolis. Kita menatap langit malam dan merasakan sesuatu di dada, seperti detik yang tersangkut. Kita bertanya pelan, tanpa suara: apakah saya baik-baik saja? Apakah hidup ini bergerak, atau hanya memutar kita di tempat yang sama?
Pada titik itu kita mirip Sisypus—mendorong batu besar yang setiap tahun jatuh lagi. Kita tahu cerita itu: dewa-dewa menghukumnya; ia hanya bekerja, naik turun bukit, tanpa akhir. Tapi ada yang luput diceritakan: Sisypus tidak mati kelelahan. Ia terus bangun. Ia menata napas. Ia mendorong batu lagi. Dalam repetisi yang absurditasnya sempurna, ia justru menjadi manusia paling sabar di antara kita.
Begitu pula negara ini. Kita mengeluh tentang harga bahan pokok, jalan berlubang, birokrasi yang memusingkan. Kita menyaksikan skandal politik berganti seperti acara televisi. Kita marah, lalu lupa, lalu marah lagi. Kita adalah Sisypus kebangsaan: mendorong tuntutan, memanggul harapan. Batu itu besar, tapi kita tidak punya pilihan selain ikut menahannya agar tidak menimpa kita sendiri.
Namun, hidup pribadi lebih halus dari politik. Beban tidak selalu berwujud regulasi atau korupsi. Terkadang itu adalah rasa takut tidak mampu membayar sewa; pertengkaran kecil yang berubah dingin; atau hanya perasaan bangun pagi tanpa alasan yang jelas untuk bersemangat. Kita tidak selalu hancur karena badai besar. Sering kali, hujan rintik yang lama-lama melubangi atap.
Kita bertahan bukan karena kuat. Kita bertahan karena besok tetap datang, meski kita tidak siap. Kita membeli galon, membayar listrik, minta maaf pada diri sendiri atas hal-hal yang belum selesai. Terkadang, bertahan sehari lagi adalah bentuk paling jujur dari keberanian.
Tahun baru tidak menawarkan jawaban. Ia hanya memberi ruang untuk menanyakan ulang pertanyaan. Apakah kebahagiaan harus besar? Atau, cukup berupa kemampuan tertawa ketika hidup menggojlok kita? Mungkin, bahagia adalah bangun pagi tanpa cemas yang menjerat leher. Mungkin ia hadir ketika kita berhasil memaafkan sedikit, melupakan sedikit, dan bergerak sedikit.
Tetapi, ada satu hal yang sebaiknya tidak kita biarkan berulang terus. Mengapa batu itu selalu jatuh di titik yang sama? Mengapa perayaan tahun baru hanya menjadi hiburan, tanpa menjadi awal dari kerja yang sungguh-sungguh? Mungkin sudah waktunya kita mencurigai kebiasaan kita sendiri. Kita tidak bisa berharap perubahan jika terus menghadapinya dengan cara yang sama.
Tahun baru tidak memberi apa pun pada penonton pasif. Harapan butuh pemilik. Keberanian butuh tuan. Jika kita hanya bersorak melihat kembang api dan kembali tidur dengan hati yang sama letihnya, maka esok hanyalah salinan kemarin.
Palung terdalam dari kemalangan adalah ketika kita mulai menganggapnya wajar.
Jadi, pertanyaannya bukan apakah 2026 akan lebih baik. Pertanyaannya: apakah kita akan lebih berani? Berani menolak menjadi Sisypus yang pasrah. Berani mengajak orang lain ikut mendorong batu. Berani membuka jalan baru ketika jalur lama membuat kaki melepuh. Batu itu mungkin tetap berat, tapi manusia punya akal, punya tangan, punya suara.
Jika tahun ini kita hanya merayakan, maka kembang api yang meletup malam ini hanyalah cahaya singkat yang padam tanpa bekas. Tetapi jika kita mengambil sedikit keberanian untuk memperbaiki hidup, mungkin tahun baru tidak sekadar disambut—melainkan dibentuk. Diciptakan. Diubah pelan-pelan dari bawah, seperti bara kecil yang suatu hari bisa menjadi api kompor untuk memasak masa depan.
Dan siapa tahu, pada percobaan kesekian, batu itu akhirnya tidak menggelinding kembali.

