Konten dari Pengguna
Ayah (Cerita Pendek)
28 Desember 2025 2:03 WIB
·
waktu baca 3 menit
Kiriman Pengguna
Ayah (Cerita Pendek)
Malam itu, untuk pertama kalinya aku memberanikan diri memeluk Ayah.Kamaruddin
Tulisan dari Kamaruddin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Malam sudah larut, aku terbangun karena merasa haus dan ingin ke kamar mandi. Saat keluar dari kamar, samar-samar terdengar bunyi piring dari arah meja makan. Dalam cahaya lampu yang sedikit redup, aku melihat Ayah duduk sendirian, sedang makan.
Ketika menyadari kehadiranku, Ayah mulai mengurangi bunyi suara piring, seolah merasa bersalah sudah mengganggu tidurku.
Aku merasa canggung dengan Ayah, seperti kebanyakan lelaki di luar sana. Kami hampir tak pernah ngobrol secara mendalam atau remaja jaman sekarang lebih senang menyebutnya deeptalk.
Aku hanya berjalan melewati meja makan, menuju kamar mandi. Beres dari kamar mandi, aku melihat Ayah masih duduk di sana. Kali ini, entah mengapa, aku merasa semacam ada dorongan yang menyuruhku untuk duduk di depannya.
Malam itu, Ayah mengenakan singlet putih dan kain sarung hadiah dari Ibu pada Lebaran tahun lalu. Meja makan terlihat sangat sederhana – hanya ada nasi putih, piring ikan asin, dan baskom air hangat yang Ayah gunakan sebagai kuah.
Aku memberanikan diri memulai obrolan.
“Ayah, kenapa tadi bilang sudah makan?” tanyaku, membuka percakapan yang sebenarnya terasa berat. Ayah tetap menunduk, mengunyah ikan asinnya perlahan.
“Ayah lapar lagi,” jawabnya singkat, tanpa menatapku.
Keheningan kembali menyelimuti meja makan dengan taplak motif kotak-kotak. Suara motor dari jalan raya sesekali memecah sunyi, namun suasana di meja makan terasa dingin dan kaku.
Aku ingin berbicara lebih banyak, tetapi tidak tahu harus berkata apa. Ayah, seperti biasanya, tak menunjukkan minat untuk memulai pembicaraan.
Ayah tak terganggu sama sekali dengan kehadiranku, masih dengan posisi semula, kepala menunduk sambil makan. Sementara aku, duduk santai di depannya, dengan segelas air putih di gelas plastik warna ungu kesukaanku.
Tiba-tiba, ingatanku menabrak kenangan masa lalu, bersama Ayah.
“Ayah!?.” Panggilku. Kembali memulai percakapan.
“Ayah… masih ingat nggak? Dulu, pas aku SMP, Ayah sering jemput aku di sekolah?” tanyaku pelan, mencoba memecah keheningan.
Ayah tidak menjawab, tapi aku tahu Ayah mendengarkan. Lalu aku melanjutkan.
Waktu itu, Ayah selalu menyempatkan diri menjemputku di sekolah, di tengah kesibukkan Ayah berjualan di pasar. Terus Ayah sengaja nggak langsung pulang.
Mengajakku jalan-jalan lewat jalan pinggir pantai. Sesampai di jalan yang sepi itu, kita berhenti. Ayah memintaku duduk di jok depan. Ayah diboncengan.
Itu pertama kali Ayah mengajariku mengendarai sepeda motor. Ayah, aku ingat betul, saat itu aku takut setengah mati. Tapi ayah meyakinkanku, dan dengan santai Ayah bilang, “Gak apa-apa, ada Ayah di belakang.”
Ayah, gatau kenapa setelah mendengar perkataan Ayah saat itu, aku seperti hilang kesadaran. Aku begitu berani mengendarai motor. Seakan-akan aku sudah menjadi seorang pengendara yang profesional.
Sesekali Ayah memberi instruksi, “Kalau udah di persimpangan, jangan lupa turunin gigi dan berhenti. Kalau jalannya lurus dan kamu udah yakin, naikin gigi lagi.”
Aku sebenarnya sangat takut waktu itu, tapi perkataan Ayah itu membunuh semua rasa takut.
Aku terdiam sejenak, merasakan emosi yang dulu tak begitu terasa saat kejadian itu berlangsung.
“Ayah, sekarang aku sudah dewasa, dan aku menghadapi begitu banyak ketakutan. Aku ingin mendengar lagi kalau Ayah masih di belakangku, seperti waktu itu.”
“Gak apa-apa, ada Ayah di belakang.”
Suasana semakin hening, tapi berbeda. Kali ini keheningan tidak lagi terasa dingin, melainkan hangat, penuh dengan perasaan yang selama ini tak pernah terucap.
Malam itu, untuk pertama kalinya aku memberanikan diri memeluk Ayah. Ayah terdiam, lalu membisikkan sesuatu di telingaku. “Ayah akan selalu ada di belakangmu, di setiap doa Ayah.”
Aku menyadari bahwa, meskipun Ayah tak selalu terlihat, kehadiran Ayah selalu ada, tak pernah hilang. Bukan lagi di belakang setir motor, tapi dalam setiap doa dan harapannya untukku.

