Konten dari Pengguna
Cerita Sepekan Setelah Bencana
28 Desember 2025 12:31 WIB
·
waktu baca 20 menit
Kiriman Pengguna
Cerita Sepekan Setelah Bencana
Semua kisah ini bermula ketika Pak Maskur bersama Pak Ramadan dan Bang Rizal—tim jurnalis—melakukan perjalanan dari Medan menuju Banda Aceh.Kamaruddin
Tulisan dari Kamaruddin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

***
Aku membaca pesan WhatsApp itu pada Senin malam, 15 Desember 2025, ketika Aceh masih gelap gulita dan konektivitas internet masih buruk.
Aku duduk bersila di kursi meja belajar, sendirian. Tak ada yang tersisa selain cahaya tipis dari layar ponsel di tanganku, cahaya yang terlalu kecil untuk menerangi seisi ruangan.
Malam ini, bahkan bulan tampak ragu. Seusai magrib tadi, ia sempat memendarkan cahaya, seolah ingin memberi harapan. Namun tak lama kemudian, langit kembali gelap tanpa bintang.
Aku memandang ke luar lewat jendela kamar. Di luar kelihatan rumah-rumah tetangga juga tenggelam dalam gelap yang sama.
Tubuhku sedikit mengeluarkan keringat karena kepanasan. Ditambah setelah menerima pesan WhatsApp dari Pak Maskur. Aku membuka pesan itu, membacanya pelan.
“Assalamualaikum. Apa kabar, Komar? Bagaimana kabar orang tua di Bireuen? Semoga mereka baik-baik saja.”
***
Semua kisah ini bermula ketika Maskur bersama Ramadan dan Rizal—tim jurnalis—melakukan perjalanan dari Medan menuju Banda Aceh. Sejatinya mereka akan bertugas melakukan survei dan riset untuk menulis buku. Ketiganya menempuh perjalanan di tengah hujan lebat, hujan yang telah tiga hari mengguyur Sumatra.
Pada pagi Selasa, 25 November 2025, Maskur duduk di sebelah Ramadan, yang berada di balik kemudi, menancap gas dari Medan menuju Banda Aceh. Ketika mereka berada di antara Langsa menuju Idi, Aceh Timur, sekitar pukul 21.00 WIB, banjir sudah mulai naik ke badan jalan, meski belum mencapai betis.
Setelah melewati kota Idi, sekitar 10 Km dan melewati Peurlak arah Lhokseumawe, mereka terhenti karena jalanan macet total. Ada pohon yang tumbang ke badan jalan, menimpa tiang listrik, hingga jaringan listrik PLN pun ikut padam malam itu. Perjalanan tak bisa dilanjutkan malam itu.
"Setelah berembuk, kami sepakat putar balik ke kota Idi. Angin badai disertai hujan lebat membuat kondisi malam itu kian memburuk. Cukup mencemaskan. Ruas jalan mulai terendam banjir," kata Maskur.
Malam itu, mereka memutuskan menginap di sebuah losmen, menempati kamar di lantai dua. Di luar hujan disertai angin kencang terus menerjang, hingga kanopi tampak ingin terbang.
Pagi harinya, jalan di depan losmen telah terendam air setinggi betis. Setelah mendapat informasi kondisi banjir di daerah Krueng Geukueh, Lhokseumawe, mereka memutuskan kembali ke Langsa, pada Rabu pagi, 26 November. Mereka membatalkan perjalanan ke Banda Aceh.
Dalam perjalanan menuju Langsa, mereka harus menerjang sedikitnya lima titik banjir yang cukup dalam dan deras, demi mencapai kota itu. Sepanjang jalan ketiganya terus berihtiqfar melihat ngerinya kondisi saat itu.
Selain itu, Maskur dan dua temannya itu juga sempat melewati truk-truk raksasa—seperti truk tambang—berplat B, yang berkonvoi melintas menuju arah Langsa.
Sementara itu, air cukup tinggi tampak merendam rumah warga di sisi kiri kanan jalan lintas Sumatera. Sepanjang perjalanan itu mereka hanya menemukan tiga petugas yang membantu membimbing pengendara melewati banjir. Lebih banyak warga setempat yang menjadi relawan membantu pengendara.
Awalnya mereka berpikir lebih aman jika berada di kota Langsa, dapat menginap di hotel, sambil menunggu cuaca membaik. Namun setibanya di Langsa, di luar dugaan mereka, pusat kota sudah tenggelam dan akses masuk telah diblokade.
"Pak tidak bisa masuk, kota tenggelam, air setinggi leher," kata Maskur menirukan ucapan warga yang berjaga di simpang tugu menuju kota Langsa.
Akhirnya Ramadan yang menyetir mobil, mengambil jalan elak ke arah terminal—satu-satunya jalur yang saat itu masih bisa dilalui. Melewati sebuah SPBU, kira-kira berjarak 200 meter menuju arah Mapolres, ternyata ruas jalan sudah tergenang banjir cukup tinggi dan deras.
Mobil mereka coba menembus banjir, tapi baru mencapai 50 meter, air terlihat begitu tinggi dan cukup deras. Mereka memutuskan kembali ke SPBU yang lokasinya di area lebih tinggi. Saat itu banjir tak mungkin ditembus, akhirnya mereka memarkirkan mobil, bertahan di SPBU tersebut.
“Malam itu, saya dan teman-teman memutuskan tidur di dalam mobil, yang parkir di halaman SPBU,” ucapnya. Sebagai seorang jurnalis yang pernah mendapatkan lisensi untuk liputan berbahaya, ketika bekerja untuk BBC Siaran Indonesia, Maskur awas melihat sekeliling SPBU. Bila air tiba-tiba naik hingga ke area SPBU, Maskur sudah memikirkan akan lari ke mana bersama teman-teman untuk menyelamatkan diri.
Masih di SPBU, pada Rabu sore, sekitar pukul 15.00 WIB, koneksi internet dan telepon selular putus. Sejak saat itu Maskur, Ramadan dan Rizal tidak bisa lagi berkomunikasi dengan dunia luar.
Terkhusus dengan keluarga, jajaran redaksi dan dengan teman-temannya. Sejak petang dan malam itu pula listrik PLN padam di hampir seluruh kawasan kota Langsa, termasuk di SPBU. Stasiun ini sempat menyalakan mesin genset, tapi hanya bertahan beberapa jam, setelahnya padam lagi. Maskur dan tim melewati malam itu di SPBU yang gelap gulita, hanya ada cahaya dari senter hp, baik di area SPBU maupun di mushallanya.
Keesokan harinya, Kamis, 27 November, mereka masih tetap bertahan di SPBU, tempat paling aman untuk sementara waktu. Jalan nasional dan parit-parit tidak jauh dari SPBU, tak lagi tampak. Yang ada hanya genangan air bercampur lumpur.
Lewat pesan WhatsApp yang ditulis panjang dan tersendat, Maskur melanjutkan ceritanya.
Pada pagi hari Kamis itu, hujan masih terus mengguyur wilayah timur Aceh. Kadang deras, kadang gerimis. "Kami coba mencari koneksi internet, tapi tak ada sinyal. Tak ada pesan yang terkirim atau diterima dan tak ada panggilan yang terjawab. Ponsel yang di tangan tak berdering sejak Rabu sore, sehari sebelumnya.
Puluhan orang juga berlindung di SPBU. Mushalla di SPBU penuh dengan orang-orang yang mengungsi. Raut wajah mereka tampak cemas, karena tidak dapat mengabari kondisi dan situasi mereka kepada keluarga.
“Suasananya kacau. Internet putus, begitu juga jaringan telepon selular. Kalau terjadi apa-apa, setidaknya keluarga harus tahu posisi kita,” kata Maskur.
Maskur tetap merekam momen sejak di daerah Idi, menembus banjir hingga tiba di SPBU Langsa. Sebagai jurnalis senior, hatinya tergelitik untuk tetap merekam situasi saat itu, untuk mengabarkan kepada redaksi betapa parah bencana ini. Tapi hasil tulisan dan foto saat itu tak bisa dikirim karena terhalang sinyal.
“Sejak sekian lama, ini banjir terparah yang pernah saya lihat.”
Kamis siang, debit air di Langsa mulai menurun. Banjir perlahan surut. Mereka mulai bergerak dari Jalan Elak Langsa, menerobos genangan air dan lumpur, melintasi daerah tugu dan depan Mapolres, menuju Kuala Simpang, Aceh Tamiang. Rusa jalan tampak kupak kapik akibat tersapu air.
Mereka melewati perbatasan Langsa – Aceh Tamiang. Setibanya di kawasan Bukit Tinggi menuju Manyak Payed, Aceh Tamiang, debit air tampak cukup tinggi. Mereka terhenti, berpikir mobil tak akan mampu menembus banjir. Mereka pun memutuskan kembali ke daerah Bukit Tinggi, memarkirkan mobil di depan warung Kakak Adik. Mereka makan siang di situ. Masih tersedia menu ikan, telur dan ayam.
Di halaman warung ini mereka melihat ada sebuah Truk Towing yang parkir. Melihat ada truk towing, Ramadan coba meminta bantuan kepada sopirnya untuk membantu menyeberangkan mobil beserta tim menerobos banjir.
“Rencananya kami berharap bisa melintasi banjir hingga ke Pangkalan Berandan, Sumatera Utara,” kata Maskur.
Hari mulai gelap, tetapi semangat tim jurnalis masih menyala. Mobil HR-V sudah naik dan berada di atas truk towing. Perlahan, sopir menjalankan truk, mencoba menerobos banjir di sekitar Manyak Payed, Aceh Tamiang.
Sekitar seribu meter berjalan, tiba-tiba sopir menekan pedal rem di tengah banjir. Truk berhenti. Pak sopir turun, dan menyampaikan permohonan maaf, mengatakan banjir tak mungkin ditembus. Ketinggian air dinilai berbahaya—arus makin deras dan debit terus naik. Akhirnya, sopir memutar setir dan memutuskan kembali ke arah Bukit Tinggi. Kembali parkir di depan warung Kakak Adik.
Di perjalanan, rasa prustasi mulai terasa. Bahkan bantuan truk towing yang begitu tinggi pun gagal menembus banjir. Hari telah berganti malam. Tak terasa mereka sudah satu malam terjebak dan menginap di atas truk towing.
Pada Jumat, 28 November 2025, ketika bangun Subuh, untuk shalat di dalam mobil, Maskur melihat ke bawah, ternyata air sudah naik lagi. Setengah ban truk towing sudah tenggelam.
“Posisi mobil kami tetap di atas truk towing yang terparkir di depan Warung Kakak Adik, Bukit Tinggi,” tulis Maskur.
Pagi itu area tempat truk towing parkir telah tergenang air setinggi lutut orang dewasa. Warung Kakak Adik pun ikut terendam. Sama seperti di kota Langsa, jaringan internet dan selular, tetap mati. Listrik di daerah ini juga padam. Mereka beraktivitas dan tidur dalam kegelapan. Tanpa bisa berkomunikasi dengan dunia luar. Bila ingin makan, mereka harus berjalan melewati air setinggi paha, untuk bisa mencapai warung Kakak Adik yang juga terendam air. Mereka makan duduk di kursi, dalam warung, di bawahnya arus air setinggi lutut.
Pada hari Sabtu, 29 November 2025, sekitar pukul 07.00 WIB, air banjir masih tinggi. Warga yang terjebak di kawasan itu umumnya hanya bisa sarapan pop mie yang dijual di pinggir jalan. Sebagian badan jalan juga telah tertutup genangan.
“Mushala tempat kami shalat, sehari sebelumnya, yang juga menjadi lokasi pengungsian warga, sudah kebanjiran,” kata Maskur. Pengungsi sudah pindah ke tempat lain, yang posisinya lebih tinggi.
Pagi itu, sekitar pukul 07.30 WIB, mereka memutuskan mobil diturunkan dari truk towing. Berdasarkan kabar dari para pengendara bahwa banjir di Kota Langsa mulai surut, mereka memutuskan kembali ke kota Langsa. Mobil kembali mengaspal di atas lumpur, melaju pelan menuju Kota Langsa. Hamparan sawah di kiri kanan jalan tampak seperti lautan, terendam air bercampur lumpur.
Setibanya di SPBU Jalan Elak Langsa—tempat mereka sebelumnya bermalam selama satu malam—antrean kendaraan terlihat sudah mengular. Mereka pun mengurungkan niat mengisi bahan bakar. Mereka melanjutkan perjalanan ke arah terminal, dan terus ke tugu dan berbelok arah ke inti kota Langsa.
Kemudian mereka bergerak mencari ATM yang mungkin ada yang beroperasi, walau Listrik PLN kala itu masih padam. Saat itu mereka mengalami krisis uang kontan. Mereka bahkan mencari ATM hingga ke kampus Unsam, yang lokasinya di area bukit. Kampus ini tak terdampak banjir, bahkan menjadi lokasi mengungsi warga sekitar. Ada ATM, tapi sayangnya tidak beroperasi karena tidak ada jaringan listrik.
Saat duduk di sebuah balai, di Unsam, seorang teman kami yang bertemu di SPBU, mengajak menemui temannya bernama Irawan, di kantor Bea Cukai Langsa. Tanpa komando, mereka langsung bergerak menuju kantor Bea Cukai Langsa, melewati jalanan berlumpur, dan melihat rumah-rumah warga yang masih terendam dan rusak. Lokasi kantor Bea Cukai ini masih di sekitaran pusat kota Langsa, tapi termasuk daerah yang terdampak parah banjir. Kantor ini pun tampak masih berlumpur.
“Sampai di situ, ternyata pak Irawan yang ingin kami temui tak di tempat. Dia sedang berada di Pelabuhan Kuala Langsa, di kapal Bea Cukai,” tutur Maskur.
Maskur bersama teman-temannya pun memutuskan langsung menuju ke Pelabuhan Kuala Langsa. “Tak lama kemudian, kami tiba di Pelabuhan Kuala Langsa dan merapat ke kapal BC 30001 milik Bea Cukai. Di sana kami bertemu teman, Irawan, yang kemudian mengenalkan kami kepada Mas Budi Irawan, Komandan Patroli Bea Cukai di kapal tersebut.”
Mereka pun berkenalan dan berbincang santai. Setelah mengetahui di situ ada jaringan internet, momen itu langsung digunakan untuk berkomunikasi dengan keluarga masing-masing. Irawan dan Budi Irawan membantu mereka untuk bisa mengakses internet via satelit yang ada di kapal tersebut.
“Untuk pertama kali setelah empat hari empat malam terjebak banjir, tak terhubung dengan dunia luar, keluarga, siang itu kami bisa terhubung,” kata Maskur.
Di atas kapal BC 30001 pula, untuk pertama kali, mereka mendapatkan sajian kopi mesin paling enak sedunia. Betapa bahagianya bisa kembali mengabari keluarga dan kerabat. Mereka mendapat layanan memuaskan dari seluruh crew kapal, yang juga telah banyak membantu warga sekitar berbagi jaringan internet dan sekedar makanan ringan.
“Akhirnya kami dapat berkomunikasi dengan keluarga, redaksi masing-masing media, dan teman-teman. Emosi haru tak terbendung saat pertama kali bisa memberi kabar bahwa kami selamat dari jebakan banjir,” tutur Maskur dengan suara bergetar.
“Kami juga sempat berfoto bersama Mas Budi Irawan, Komandan Patroli kapal BC 30001, sebagai bukti visual bagi keluarga dan teman-teman bahwa kami selamat dan dalam kondisi sehat. Kami juga dikenalkan dengan kapten kapal dan kepala Bea Cukai Langsa,” sebut Maskur.
Sekitar dua jam berada di Pelabuhan Kuala Langsa, mereka kemudian bergerak Kembali ke kota Langsa, untuk mengisi BBM dan mencari teman lain, khususnya jurnalis yang mungkin bisa mereka temukan. Tapi di kota masih diselimuti lumpur, toko-toko masih tutup. SPBU pun penuh antrian, hingga hari itu gagal mengisi BBM. Mereka kemudian ke Masjid Agung Langsa, shalat dan berdiam di masjid selama beberapa jam. Lepas shalat Isya, mereka kembali ke Pelabuhan Kuala Langsa.
Malam itu, mereka bermalam di dermaga Pelabuhan Kuala Langsa. Tidur di dalam mobil yang diparkir tak jauh dari kapal BC 30001. Mereka merasa cukup aman dan nyaman—dan yang terpenting, koneksi internet kembali lancar.
Minggu pagi, 30 November 2025. Maskur dan teman-teman meninggalkan pelabuhan, menuju kota Langsa. Mereka ke jalan elak menuju arah ke tugu. Sebelum simpang tugu, mereka berhenti di sebuah warung. Mereka sarapan nasi goreng di situ, minum teh manis, sebagian pesan kopi susu.
Setelah beberapa jam berada di kota, kembali mencari ATM, tapi belum ada yang beroperasi. Mereka kemudian memutuskan menuju ke arah Aceh Tamiang untuk survey, memastikan apakah kawasan itu sudah bisa diterobos. Setibanya di warung Kakak Adik, di daerah Bukit Tinggi, Aceh Tamiang, Maskur masih melihat truk towing yang coba membantu mereka beberapa hari sebelumnya, masih parkir di halaman warung. Itu artinya ruas jalan lintas Sumatera belum dapat dilalui.
Begitu pun mereka coba menerobos banjir yang sudah mulai surut, hingga tiba di ujung, di mana truk towing tempo hari berhenti dan tak melanjutkan perjalanan. Tak jauh dari situ, ruas jalan tampak masih tergenang air cukup tinggi. Mobil pribadi, truk, bus dan kendaraan lainnya tampak masih terparkir mengular, karena tidak ada yang berani menerobos banjir.
Akhirnya mereka kembali ke kota Langsa. Mereka duduk di buritan kapal, ngobrol dengan para crew kapal, pada sore itu. Sebelum Magrib, mereka kembali ke kota Langsa, shalat Magrib di Masjid Agung, kemudian makan malam di sebuah warung yang sudah buka. Lepas Isya, mereka kembali menginap di mobil, di dermaga Pelabuhan Kuala Langsa, di sebelah kapal BC 30001.
Pada Senin, 1 Desember 2025. Pukul 04.00 WIB, Maskur dan teman-temannya bangun pagi dan bergerak menuju kota Langsa, kembali melalui jalan elak. Mereka shalat Subuh di Masjid Baitul Aminin Seuriget, Langsa, masih di pinggir jalan elak. Ketika mengambil air wudhu, airnya tampak cukup jernih, airnya cukup lancar keluar dari kran pipa.
“Usai shalat Subuh kami semua mandi di masjid ini. Ini mandi pertama kali setelah 6 hari belum pernah mandi karena terjadi krisis air bersih di mana-mana. Tapi masjid ini tak terdampak banjir. Masjidnya cukup bersih, orangnya ramah-ramah,” ujar Maskur.
Mereka berada di masjid hingga hari tampak mulai terang. Dari situ mereka menuju warung tempat sarapan sehari sebelumnya, tapi ternyata warung itu tutup. Mereka kemudian berjalan menuju tugu arah ke Simpang Komodor. Sampai di tugu, mereka berbelok arah jalan utama kota Langsa. Mereka berhenti di sebuah warkop yang sudah buka, minum dan mengisi perut di warkop Centra Kupi ini.
Waktu itu Listrik sudah mulai nyala, tapi masih hidup – mati, belum normal. Jaringan internet sudah mulai nyala, sehingga dapat berkomunikasi, meski jaringannya masih buruk. Tapi setidaknya Maskur dan teman-teman bisa menghubungi teman-temannya, jurnalis yang ada di Langsa. Sebagian ATM pada Senin itu sudah ada yang beroperasi, bisa menarik uang kontan, meski harus antri hingga 100 meter.
Kondisi di SPBU yang ada di jalan elak mau pun di pusat kota Langsa, dan SPBU di jalan arah ke Unsam, mengular hingga mencapai satu kilometer lebih. Pada sore hari, Maskur mendapat sebuah penginapan di seberang depan SPBU pusat kota Langsa, yang tidak terlalu terdampak banjir. Mereka membayar untuk menginap selama dua malam.
Setelah terjebak banjir selama tujuh hari di Langsa dan Aceh Tamiang, untuk pertama kalinya mereka bisa tidur meluruskan badan di penginapan ini. Malam itu Maskur, Ramadan dan Rizal, bisa tidur nyenyak di penginapan itu.
Pada Selasa, 2 Desember 2025, sekitar pukul 05.00 WIB, Rizal harus membawa mobil ikut antri untuk mendapatkan BBM di SPBU. “Bisa bayangkan, antri mulai Subuh, baru bisa mencapai SPBU dan mengisi BBM pada pukul 11.00 WIB siang. Itupun dibatasi hanya bisa mengisi 200 ribu Pertalite,” tutur Maskur.
Tapi setidaknya pada hari itu mereka sudah merasa aman, karena tangki BBM mobil sudah terisi. Pada sore hari, Ramadan mengajak Maskur menuju perbatasan Aceh Tamiang, lagi-lagi untuk survey lokasi. Kendaraan besar, truk dan bus, sudah hampir tak tampak lagi parkir di jalanan. Itu artinya mereka sudah bisa melintas Kawasan Manyak Payet menuju Kuala Simpang.
Maskur kembali ke kota Langsa waktu menjelang magrib. Awalnya mareka berencana melanjutkan perjalanan ke Kuala Simpang dan terus ke Medan, pada Selasa pagi. Karena itu penginapan dibayar untuk dua malam.
“Tapi Pak Ramadan berpikir lain, setelah melihat langit mendung. Dia mengajak jalan selepas Magrib, sebab bila menunda, kondisi bisa lebih parah, melihat kondisi cuaca yang mengkhawatirkan,” kata Maskur.
Malam makin larut. Aku menengok jam tangan. Pukul 22.50 malam. Itu berarti kami sudah bertukar pesan lebih dari satu jam.
Maskur melanjutkan ceritanya. Selepas magrib, setelah makan nasi bungkus, mereka meninggalkan kota Langsa menuju Kuala Simpang, Aceh Tamiang. Mereka jalan pelan-pelan, dalam kegelapan, melintasi daerah berbahaya, yang cukup berat terdampak banjir bandang. Di sepanjang jalan ini untuk pertama kali mereka melihat kayu-kayu gelondongan berserakan, begitu juga mobil-mobil ringsek, jungkir balik, dihantam banjir. Ratusan sepeda motor tampak terendam lumpur.
Malam itu, hanya keheningan yang menyelimuti perjalanan, mereka seperti terguncang-guncang. Setiap melihat keluar jendela, hanya ketakutan yang dirasakan. Tiba-tiba seorang pemuda berdiri menghadang mobil, mobil berhenti saat Ramadan menekan pedal rem dengan terburu-buru. Tubuh pria itu dipenuhi lumpur, baju yang menempel di tubuhnya seakan sudah menyatu dengan kulitnya.
Dia membawa ember kecil, lalu berjalan pelan menuju jendela mobil bagian kemudi, pria itu berharap sumbangan dari setiap orang yang melintas. Ramadan membuka kaca mobil dan menyodorkan uang.
Tak jauh dari situ, beberapa pemuda lainnya tampak membantu memandu pengendara melewati jalan yang licin dan sempit karena puing-puing rumah, mobil rusak dan jalan rusak.
“Ada yang minta minum. Ada yang hanya minta snack. Mungkin sudah berhari-hari mereka belum makan.”
Memasuki Kuala Simpang, bau busuk membuar di udara. Lumpur tebal masih menutupi jalanan. Tampak ada lapangan, tapi itu bekas tapak beberapa rumah yang hanyut diterjang banjir.
“Kota ini seperti kota mati, yang ditinggalkan penghuninya. Porak-poranda. Bagaimana nasib penghuninya, ngungsi kemana lah mereka,” begitu kata Ramadan.
Kota ini benar-benar seperti yang dikatakan Ramadan, kota mati yang ditinggalkan dalam kegelapan dan kesedihan, menunggu seseorang yang akan membawanya kembali ke kehidupannya.
Daerah di Aceh Tamiang yang mereka lintasi menjadi kota mengerikan pascabencana. Begitu melintasi Kuala Simpang, mendekati tengah malam, kondisi dan suasana kota ini seperti kota mati, tak berpenghuni. Kondisinya lebih parah lagi dari daerah yang telah mereka lintasi. Hanya ada cahaya kecil dari sudut kota yang jauh remang-remang. Tengkuk terasa bergidik. Maskur tak menyangka kota ini hancur lebur.
Rumah-rumah hancur berantakan. Maskur juga melihat rumah yang sudah hilang hanyut terbawa air, yang tinggal hanya tapaknya saja. Mobil jungkir balik bertebaran, begitu juga sepeda motor dan puing-puing rumah, dihantam kayu gelondongan.
“Dari kaca mobil yang gelap itu, kami melihat keluar, namun aroma menyengat memaksa Pak Ramadan kembali menutup jendela mobil.” Penyintas banjir tampak terkulai di pinggir jalan dan sebagian ada yang tertidur di atas kursi di pinggir jalan atau di trotoar, di antara tumpukan lumpur.
“Mata mereka kosong, menatap rumah mereka yang sudah hanyut ditelan lumpur yang menumpuk memenuhi rumah.”
Sejumlah tiang listrik dipinggir jalan ikut tumbang, nyaris rubuh ke tanah, menyilang dengan batang pohon berserakan. Benda-benda ini menjadi perintang yang sulit dilewati, membuat Ramadan yang bertanggung jawab di bangku kemudi kewalahan, mobil berbelok kiri kanan.
Puluhan mobil terdampak banjir tampak dibiarkan mangkrak di jalanan, pemilik lebih dulu menyelamatkan diri, karena pada musibah seperti ini nyawa lebih berarti dari harta benda.
Tak sedikit mobil dalam posisi terbalik atau ban-nya terangkat ke atas. Daerah ini menjelma menjadi kota yang seolah tak berpenghuni. Beberapa orang membakar ban bekas atau puing-puing kayu yang dibakar di pinggir jalan untuk menghangatkan diri dan mengusir nyamuk yang membawa penyakit.
“Pak Ramadan tetap fokus menyetir, tapi tampak menetes air matanya. Begitu juga saya dan Rizal. Tak terbendung kesedihan kami melihat kondisi saudara-saudara kita di Kuala Simpang dan daerah lain di Aceh Tamiang."
Rabu dinihari, 3 Desember 2025, Maskur dan teman-teman masih berada di kawasan Aceh Tamiang, tapi sudah melewati kota Kualasimpang. Honda CR-V terus bergerak menembus lumpur basah, dan menembus genangan banjir yang masih cukup membahayakan.
Meski jalan yang dilalui masih berlumpur tebal dan licin, Maskur mengalami kendala ketika akan melintasi depan Makodim Aceh Tamiang. Daerah itu air masih tinggi di beberapa titik. Banyak kendaraan mengantri, sopirnya tampak ragu-ragu untuk melintas.
Hujan kembali turun deras, yang menambah keraguan para sopir untuk melintas. Mereka tetap bertahan di bawah pohon di pinggir jalan. Mirisnya, sejak hari pertama bencana Maskur dan teman-teman nyaris tidak melihat petugas negara di jalan lintas Sumatra, padahal ketinggian banjir mencapai hingga 1,5 meter. Kecuali ada tiga orang saat melintas antara Idi – Langsa, sepekan sebelumnya.
“Di tengah keraguan itu, Pak Ramadan dan saya sepakat untuk tetap melintasi genangan banjir. Kami bersiap menghadapi risiko, mobil mogok atau harus berhenti di tengah banjir,” kata Maskur.
Sebelum menyetir, untuk meneruskan perjalanan, Ramadan turun dari mobil, berjalan 300 meter ke arah banjir, memastikan ketinggian air. Setelah memperhatikan kenderaan besar yang mampu menerobos banjir, Ramadan merasa yakin mampu. “Bismillah. Kita lanjut.” kata Ramadan setelah masuk ke mobil, memecah keraguan kami.
Dan akhirnya, kami lolos dan berhasil menerobos genangan air. Kami terus melanjutkan perjalanan. Jalan di depan perlahan mengering. Lampu-lampu kecil dari rumah penduduk mulai menyala saat kami melintas di Seumadam, menuju ke perbatasan Sumatera Utara.
Rabu menjelang Subuh, 3 Desember 2025, Maskur, Ramadan dan Rizal, akhirnya bisa sampai perbatasan. Setelah berhasil melewati kawasan banjir dan berbahaya hingga mencapai Besitang, Langkat, Sumatera Utara, mereka masuk gerbang tol Besitang, Pangkalan Berandan, hingga mencapai kota Medan, lewat gerbang tol Tanjung Mulia, Krakatau, Medan.
“Begitulah ceritanya. Besoklah bapak cerita lagi. Mata sudah berat sekali.” tulis Maskur menutup obrolan.
Aku terdiam beberapa saat, ingatanku memutar kembali adegan menegangkan itu di kepalaku. Mengingat betapa mencekam keadaan di sana saat itu.
Aku membayangkan jalan-jalan berlumpur dengan perintang dan air banjir di sepanjang jalan. Aku membayangkan nasib orang-orang yang kehilangan rumah dan orang tercinta
Aku membayangkan jalan-jalan lengang dan suasana mencekam di kota itu. Aku membayangkan ketegangan dan rasa takut menyebar di dalam perasaan Maskur, Ramadan dan Rizal saat itu.
Aku baru sadar leher dan pundak ku mulai kaku. Mungkin karena sejak duduk di kursi meja belajar tadi aku tak mengatur tegap badanku dalam kondisi yang nyaman. Aku beranjak ke kamar, menaruh ponsel di samping kasur, lalu memejamkan mata. Beberapa saat kemudian aku berjuang mengumpulkan ingatan tentang cerita Maskur.
*******
Genap satu bulan sejak banjir melanda Sumatra, termasuk Aceh. Empat kabupaten terparah: Aceh Tamiang, Pidie Jaya, Gayo, dan Bireuen.
Dalam sekejap ribuan nyawa meninggal dunia, ribuan rumah hanyut terbawa arus, di telan oleh lumpur-lumpur yang bersumber dari dasar sungai besar, dan yang tak kalah menyedihkan gelondongan kayu bernomor Kementerian Kehutanan keluar dari hutan, ikut menghantam dan menghancurkan apapun yang dilaluinya.
Kendati demikian, pemerintah hingga kini masih enggan menetapkan peristiwa ini sebagai bencana nasional, entah karena kepercayaan diri berlebihan, atau karena ketidakpedulian yang sengaja dipelihara.
Satu-satunya pernyataan yang masih kuingat dan membekas adalah ucapan Kepala BNPB yang menyebut bahwa
“Bencana di Sumatra hanya mencekam di media sosial.” Pernyataan itu kemudian disusul oleh Presiden Republik ini yang mengatakan, “Kondisi di Sumatra membaik, aman, dan terkendali.”
Lebih lanjut, Senin, 15 Desember 2025, Presiden Republik Indonesia saat membuka sidang kabinet paripurna di Istana Kepresidenan, Jakarta, mengatakan ada yang teriak-teriak ingin ini dinyatakan bencana nasional.
“Bencana ini “hanya” terjadi di tiga dari 38 provinsi di Indonesia.” ucap orang nomor satu di Indonesia itu.
Seolah-olah nyawa lebih dari seribu orang sedemikian tidak berharga baginya.
Hampir tak ada pemberitaan di media massa nasional yang mampu mengobati luka masyarakat Sumatra. Sebaliknya, banyak laporan justru menambah penderitaan.
Aku sengaja menggunakan kata “hampir”, sebab berita-berita yang kubaca lebih sering menampilkan para pejabat yang meremehkan bencana yang telah menelan ribuan nyawa.
Bahkan pada hari-hari awal, tragedi ini kalah oleh pemberitaan remeh, tentang tumbler dan hal-hal sepele lainnya. Apa boleh buat, negeri ini memang terkenal piawai mengatur arah pemberitaan.
Akibatnya, hampir sepekan setelah bencana, bantuan pemerintah datang dengan sangat lamban. Beberapa orang bahkan meninggal bukan karena diterjang banjir, melainkan karena kelaparan.
Soal gelondongan kayu bernomor Kementerian Kehutanan itu pun tak kalah ganjil. Kementerian yang, kata Komeng, bentar-bentar ulang tahun.
Apakah masih ada yang bisa diungkap dari kasus ini, sementara negeri ini juga dikenal lihai menghilangkan fakta?

