Konten dari Pengguna
Sebelum Jadi Ibu, la Wanita yang Memiliki Banyak Mimpi
23 Desember 2025 16:44 WIB
·
waktu baca 2 menit
Kiriman Pengguna
Sebelum Jadi Ibu, la Wanita yang Memiliki Banyak Mimpi
"Apa yang sebenarnya ia inginkan dulu?" "Kemana mimpi itu ia simpan sekarang?" "Berapa banyak ketakutan yang ia telan sendiri hanya supaya terlihat kuat?"Kamaruddin
Tulisan dari Kamaruddin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tadi aku melihat sebuah postingan di IG, dan sampai sekarang masih terngiang.
Isinya gini, "Bahkan saat dia sudah tidak punya apa pun untuk diberikan, seorang ibu tetap memberikan segalanya."
Membaca itu, aku langsung teringat pada ibu. Aku bisa membayangkan diriku yang masih setengah mengantuk, membuka mata dengan aroma sarapan dari dapur. Ibu sudah sibuk sejak subuh.
Tangan ibu seolah tidak pernah berhenti bergerak. Selalu ada yang harus ia pikirkan, selalu ada yang harus ia lakukan.
Saat kecil, aku percaya ibu dilahirkan untuk menjadi ibuku. Seakan-akan ia diciptakan untuk menyelesaikan semua hal di dunia ini.
Kadang, ia jadi dokter dadakan saat aku sakit, jadi tukang jahit saat resletingku rusak, jadi teknisi saat elektronik rumah bermasalah, dan jadi benteng pertama ketika ada yang menyakitiku.
Tapi saat dewasa, aku mulai bertanya dalam hati: "Sejak menjadi ibu, kapan terakhir kali ia memikirkan dirinya sendiri?"
Aneh ya. Dunia memuji ibu dengan kata tanpa pamrih, seolah itu sebuah penghargaan. Padahal sering kali artinya, mereka tidak pernah diberi izin untuk memilih dirinya sendiri.
Dunia membuat kita percaya bahwa menjadi ibu berarti mencintai lewat pengorbanan, memberikan potongan roti terakhir, begadang saat kita tidur pulas, dan mengorbankan uang yang seharusnya bisa ia gunakan untuk mimpinya sendiri.
Ada bagian dari diriku yang ingin bertemu versi muda ibu, sebelum dunia memanggilnya Ibu. Sebelum ia kehilangan kebebasan untuk bermimpi hanya untuk dirinya sendiri.
Aku ingin bertanya:
"Apa yang sebenarnya ia inginkan dulu?"
"Kemana mimpi itu ia simpan sekarang?"
"Berapa banyak ketakutan yang ia telan sendiri hanya supaya terlihat kuat?"
Dua bulan lalu saat aku pulang dari rantau, aku melihat album foto keluarga, aku berhenti di halaman yang berisi foto masa kecil lbu.
Aku tidak hanya melihat ibu di sana. Aku melihat seorang gadis kecil yang masih polos. Dengan senyum manis, belum memiliki beban.
Seakan aku sedang melihat seorang gadis dengan bahu yang masih tegak, memiliki mimpi-mimpi besar dan masih bebas melakukan apa pun tanpa ketakutan.
Aku melihat seorang wanita yang belum tahu bahwa suatu hari nanti dia akan mengorbankan banyak hal untuk orang lain.
Dalam foto itu, aku melihat seorang wanita yang rela mengorbankan seluruh hidupnya demi memberikan kehidupan yang lebih baik untuk kami.

