Konten Media Partner
Sharing Session dengan Aldisa, Admin Samarinda Foodies
25 November 2019 12:45 WIB

Konten Media Partner
Sharing Session dengan Aldisa, Admin Samarinda Foodies
Belajar tentang food photography dengan admin Samarinda Foodies yang inspiratif satu ini, yuk. #publisherstoryKarja

Happy Monday!
Hari Senin terkadang terasa berat dijalani tetapi life must go on, harus tetap semangat dan bahagia menjalani hari senin, dong! Pasti lagi pada mantengin media sosial ya di waktu istirahat gini.
Instead of scrolling your Twitter and read all the netizen’s ‘sambat’, you would better be reading this fresh Sharing session with Aldisa Fadlillah a.k.a Disa, the man behind famous culinary guide account, Samarinda Foodies.
Di Sharing session kali ini, Karja berkesempatan mengobrol seputar cita-cita masa kecil, tips food photography, sampai tanggapan Disa terhadap fitur likes yang disembunyikan oleh Instagram.
Grab your snack and enjoy reading!
Disa memulai karirnya sebagai food blogger pada tahun 2012 silam. Ia sering membagikan review berbagai restoran serta makanan di blog pribadinya. Lalu, pada tahun 2015 ia bersama teman satu komunitasnya, Winda, membuat sebuah akun culinary guide, yaitu Samarinda Foodies.
Sewaktu kecil, di saat anak-anak sepantarannya bercita-cita menjadi pilot, dokter, atau astronot, bisa dikatakan Disa memiliki cita-cita yang tergolong unik dan beda dari yang lain, yaitu ingin menjadi seorang Bondan Winarno. Ia mengaku senang berkhayal, dan hal tersebut pun diamini oleh gurunya yang mengatakan kalau sisi kreatifitas sangat menonjol dari dalam diri Disa. Terbukti dari nilai mata pelajaran Kesenian yang tidak pernah di bawah angka 90.
“Sempat tuh diketawain sama teman-teman, ‘wah, cita-citanya jadi orang tua!’. Bukan jadi orang tua, maksudnya cita-citanya itu makan gitu, kulineran,” cerita Disa. Mimpi tersebut pun sempat terlupakan seiring Ia beranjak dewasa, namun ternyata Tuhan berkata lain. “Sekarang jadi kenyataan, walaupun bukan jadi Bondan Indonesia sih, tapi jadi Bondan di kota sendiri.”
“Pencahayaan. Selain itu kalau makanan, usahakan warna makanannya menggugah selera,” beber Disa ketika ditanya bagaimana cara agar makanan yang di foto terlihat menarik.
Disa juga membagikan sebuah pepatah dari para foodies legendaris untuk pemula, yaitu ‘Shoot you lunch, enjoy your dinner’. Maksudnya apa, sih? “Foto dulu makan siangmu, makan malam dinikmati aja. Jadi, makan siang ini tuh momen di mana matahari masih melimpah, jadi kalau mau foto makanan itu pas makan siang dengan memanfaatkan cahaya matahari.” jawab Disa.
Tempat yang paling mendapatkan banyak cahaya matahari tentu yang berada di dekat jendela. Jadi buat kamu yang ingin terjun ke dunia food photography, jangan lupa pencahayaan ya! “Kalau misalnya foto di kafe yang pencahayaannya kuning, sebisa mungkin jangan. Ntar nasi goreng jadi nasi kuning lagi.” canda Disa.
Sebagai pengamat dan pecinta kuliner di Samarinda sekaligus menghandle akun @smrfoodies, menurut Diksa masyarakat Samarinda tertarik dengan mencoba kuliner yang baru dan unik.
“Pernah nyadar nggak, kalau misalnya kayak di Samarinda ini kemarin lagi booming banget yang namanya es mangga. Masyarakat suka, wah pada beli semua, dan tiba-tiba muncul berbagai es mangga dengan berbagai merek. Terus tiba-tiba musim milo kepal, semua orang suka, dan seketika di setiap pojokan kota ini ada yang jual milo kepal.” cerita Disa.
Terbaru di Samarinda sedang menjamur kopi yang dikemas dengan gelas plastik. Hampir di setiap jalan dapat ditemukan kedai kopi baru. “Jadi di Samarinda tuh culture kagetnya berasa banget. Setiap ada yang baru pasti di coba.” sambung Disa.
Likes akan disembunyikan secara publik sehingga tidak dapat dilihat oleh orang lain, namun si pemilik akun sendiri masih bisa mengeceknya. Tujuan Instagram memberlakukan hal ini adalah agar para pengikut bisa fokus pada hal yang dibagikan, bukan pada jumlah suka yang didapatkan dari sebuah postingan.
Lantas, bagaimana pendapat Disa?
“Aku dukung. Aku pribadi adalah orang yang tidak terlalu memperhatikan jumlah likes.” beber Disa. “Sebisa mungkin kalau konten yang aku share ini bagus, ya udah. Aku harus apa ya, istilahnya banggalah dengan itu.”
Tak bisa dipungkiri jumlah likes menjadi salah satu kekhawatiran bagi sebagian pengguna Instagram yang berujung pada membanding-bandingkan diri sendiri dengan orang lain yang memiliki jumlah likes lebih banyak.
Disa juga menuturkan bahwa orang-orang sekarang cenderung membutuhkan jumlah likes yang banyak, bahkan ada yang sampai membeli likes maupun followers. Oleh karena itu Instagram menyembunyikan fitur likes ini juga dengan tujuan untuk menghilangkan tekanan dan kecemasan bagi penggunanya terkait jumlah likes.
Menurut Disa, kendala yang dialami bagi orang yang baru memulai adalah merasa takut tidak diapresiasi. Maka, jika nanti ada foodies baru, Ia yakin mereka akan lebih mengapreasiasi fitur like yang disembunyikan oleh Instagram tersebut.
“Misalnya mereka posting, yang nge-likes cuma dikit, mereka tetap pede untuk posting. Nggak ada lagi tuh, misalnya kayak mereka posting, terus yang nge-likes cuma 20 atau 3. Kemudian mereka jadi nggak mau posting, mikirnya ‘ah, buang-buang waktu, nggak ada yang nge-likes jadinya minder’. Aku dukung banget, sih, kebijakan baru ini.” tutur Disa.
#terusberkarya
