Konten dari Pengguna
Elizabeth Bathory: Pembunuh Berantai yang Keji dan Berdarah Dingin
5 Agustus 2025 12:10 WIB
·
waktu baca 4 menitTulisan dari Kasus Pidana by Legal Market Lanprorate tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Legenda mengenai Pembunuh Berantai Elizabeth Bathory, telah menjadi bagian dari sejarah dunia. Kejahatannya menginspirasi lahirnya berbagai cerita, film, drama bahkan pertunjukan opera.
Pembunuhan yang dilakukan oleh Elizabeth Bathory pada awal abad ke-17 ini, dilaporkan memakan lebih dari enam ratus korban. Kekejaman Elizabeth Bathory dimulai ketika terpengaruh ajaran satanisme oleh seorang pelayan terdekatnya yang bernama Dorothea Szents atau dikenal dengan nama Dorka. Bathory kemudian menyukai kegiatan seksual melalui penyiksaan yang dilakukannya kepada pelayan-pelayan yang masih muda. Selain itu, ada kemungkinan bahwa suami Elizabeth Bathory, Count Ferenc Nadasdy telah mengajarkan kepadanya teknik-teknik penyiksaan saat mereka masih tinggal bersama.
Profil Elizabeth Bathory
Sebenarnya, siapa itu Elizabeth Bathory? Ia adalah seorang bangsawan yang lahir di Hungaria pada 7 Agustus 1560 dan merupakan countess (gelar kebangsawanan wanita) dari keluarga Bathory yang dikenal atas pertahanan melawan Utsmaniyah. Kedua orang tuanya adalah pasangan Georges dan Anna Bathory yang berasal dari keluarga bangsawan kaya di Hungaria. Tidak hanya itu, keluarga Elizabeth Bathory terdiri dari orang-orang terpandang termasuk sepupunya yang merupakan perdana menteri di Hungaria dan seorang lagi sebagai Kardinal.
Ketika berusia 15 tahun, Elizabeth Bathory menikah dengan Count Ferenc Nadasdy yang memiliki selisih umur 10 tahun lebih tua darinya. Namun demikian, Elizabeth tetap menggunakan nama Bathory karena status Ferenc Nadasdy berasal dari keluarga bangsawan yang lebih rendah. Setelah menikah, mereka kemudian tinggal di Istana Cachtice yang terletak di atas pegunungan dengan desa Cachtice di bawah lembahnya.
Pernikahan dengan Ferenc Nadasdy
Sepanjang kehidupan pernikahan, Elizabeth Bathory sering merasa kesepian karena sang suami yang jarang mendampinginya yang disebabkan keikutsertaannya di medan pertempuran melawan Utsmaniyah. Ferenc Nadasdy kemudian meninggal Januari 1604 dan karena keberaniannya dalam pertarungannya di medan perang, ia dianggap sebagai pahlawan di Hungaria dengan julukan ‘Black Hero of Hungary’.
Ketika masih menjalani kehidupan pernikahan dengan Ferenc Nadasdy, Elizabeth Bathory muda yang kesepian memiliki kekasih gelap untuk melayaninya ketika sang suami tidak ada. Ada cerita bahwa Bathory pernah melarikan diri dengan kekasih gelapnya namun kembali lagi setelah Ferenc Nadasdy memaafkannya. Walaupun demikian, Elizabeth Bathory tetap memiliki ketertarikan besar terhadap kepuasan seksual bahkan ada yang menyebut jika ia juga seorang biseksual, salah satunya menjalin hubungan lesbian dengan Countess Klara Bathory, bibinya.
Pembunuhan Berantai di Kastil Cachtice
Elizabeth Bathory memiliki kebiasaan memuji kesempurnaan dan kecantikannya, hal ini menjadi salah satu alasan dibalik pembunuhan massal yang dilakukannya. Ketika memasuki usia 40 tahun, Elizabeth menyadari bahwa kecantikannya perlahan memudar yang ditandai dengan munculnya tanda-tanda penuaan serta keriput.
Untuk menjaga kesempurnaan dan kecantikannya, Elizabeth akan melakukan apa pun untuk mempertahankannya. Pada satu hari, Elizabeth menduga dan percaya bahwa darah gadis muda dapat menjadi ‘ramuan awet muda dan kecantikannya’ ketika seorang pelayan wanita tidak sengaja menarik rambutnya terlalu keras.
Elizabeth menampar dan pelayan tersebut dan darah kemudian memancar serta mengenai telapak tangannya. Ia kemudian memanggil pelayannya, Johannes Ujvari dan Dorka untuk menelanjangi dan menarik pelayan tersebut ke atas bak mandi serta memotong urat nadinya hingga meninggal dunia karena kehabisan darah. Setelah itu, Elizabeth masuk ke dalam bak mandi dan berendam dalam kubangan darah.
Tidak hanya berendam, Elizabeth juga meminum darah para korbannya. Kurang puas dengan darah korban yang merupakan gadis-gadis muda, Bathory kemudian mengincar gadis bangsawan rendahan untuk mendapatkan darah yang lebih berkualitas. Ia kemudian mulai melakukan penculikan dan pembunuhan terhadap gadis-gadis bangsawan yang menjadi titik balik perbuatannya. Hal ini dikarenakan kasus penculikan gadis-gadis bangsawan menjadi perbincangan dan perhatian di kalangan bangsawan, orang berpengaruh hingga Raja.
Penemuan Mayat-Mayat
Hingga akhirnya, pada tahun 1610, di bawah komando Gyorgy Thurzo yang juga merupakan sepupu Elizabeth Bathory, pasukan tentara tiba dan menyerbu Istana Cachtice di malam hari. Pemandangan mengerikan mengejutkan mereka, terdapat gadis yang pucat karena kehabisan darah di meja, ada seorang yang sekarat terikat di tiang dengan kedua urat nadi yang disayat dan belasan gadis yang dipenjara menunggu giliran untuk dibunuh. Tidak hanya itu, ditemukan juga lebih dari 50 mayat di ruang bawah tanah dengan kondisi sebagian besar mulai membusuk.
Persidangan dan Kematian
Pada tahun 1611, pengadilan mencatat sekurang-kurangnya 650 nama korban yang terkumpul berdasarkan laporan dari keluarga-keluarga petani hingga bangsawan. Selama proses peradilan, Elizabeth tidak pernah dihadapkan ke pengadilan secara langsung untuk diadili. Sebaliknya, mereka hanya mendatangkan empat pelayannya yang dihukum mati.
Elizabeth Bathory kemudian dikurung di kamarnya yang berada di Istana Cachtice atas perintah Raja. Kamar tersebut ditutup rapat-rapat oleh para pekerja dan hanya menyisakan lubang kecil untuk akses makanan dan minuman, hingga pada 21 Agustus 1614, Elizabeth Bathory meninggal di usia 54 tahun.
Pembunuhan berantai yang dilakukan Elizabeth Bathory menjadi refleksi bahwa lingkungan yang dirasa sempurna ternyata memiliki ‘lubang gelap’. Kehidupan Bathory yang bergelimang harta dan kekuasaan nyatanya tidak dapat menolongnya dalam rasa pemujaan yang berlebihan dan pengaruh buruk dari orang lain di sekitarnya, Nyatanya, kejahatan tidak mengenal kualitas hidup dari pelaku itu sendiri.
------------------------
Ditulis oleh:
Anggi Alawiyah
Content Writter Kasus Pidana By Legal Market Lanprorate

