Konten dari Pengguna
Review Film Penyalin Cahaya: Membongkar Bentuk Kekuasaan dan Pelecehan Seksual
12 Agustus 2025 15:26 WIB
·
waktu baca 6 menit
Kiriman Pengguna
Review Film Penyalin Cahaya: Membongkar Bentuk Kekuasaan dan Pelecehan Seksual
Film Penyalin Cahaya, karya Wregas Bhanuteja, telah berhasil memenangkan 12 piala penghargaan di Piala Citra Festival Film Indonesia 2021 hadir sebagai bentuk berani dalam mengangkat isu sensitif.Kasus Pidana by Legal Market Lanprorate
Tulisan dari Kasus Pidana by Legal Market Lanprorate tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Isu pelecehan seksual masih seringkali marak terjadi serta menjadi masalah serius di Indonesia, terutama di lingkungan pendidikan yang seharusnya menjadi ruang aman dan nyaman bagi semua orang. Banyak kasus pelecehan seksual yang seringkali tidak memberikan keadilan bagi korban yang justru malah menguntungkan bagi pelaku.
Film Penyalin Cahaya, karya Wregas Bhanuteja, yang telah berhasil memenangkan 12 piala penghargaan di Piala Citra Festival Film Indonesia 2021 hadir sebagai bentuk berani dalam mengangkat isu sensitif ini. Melalui film ini, penonton diajak lebih dalam menyusuri trauma dan kesedihan yang dialami korban pelecehan tersebut.
Sinopsis
Film Penyalin Cahaya menceritakan seorang mahasiswa berprestasi bernama Suryani (Shenina Cinnamon) yang telah kehilangan beasiswa semesternya setelah swafoto dirinya dalam keadaan mabuk tersebar dan viral di lingkungan kampusnya. Swafoto tersebut diambil pada saat Suryani merayakan malam pesta perayaan kelompok teater Mata Hari.
Suryani yang merasa tidak pernah melakukan swafoto pada saat malam itu, merasa dirinya dipermainkan dan dijebak oleh teman teaternya. Bersama Amin (Chicco Kurniawan), tukang fotocopy kampus dan teman masa kecilnya, Suryani berusaha mengungkap dan menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi pada malam itu dengan meretas ponsel para mahasiswa demi mengembalikan nama baik dan beasiswanya. Namun, penyelidikannya itu telah membawa kepada teka-teki rahasia pelecehan seksual yang terjadi di lingkungan kampusnya.
Profil tokoh utama
Suryani atau Sur, tokoh utama dalam film Penyalin Cahaya, merupakan seorang mahasiswi yang berasal dari keluarga sederhana penjual warung nasi. Ia merupakan mahasiswi berprestasi penerima beasiswa yang juga tergabung dalam anggota kelompok teater Mata Hari sebagai Web Developer. Ia dikenal sebagai pribadi yang gigih, bertanggung jawab, dan tekun pada akademiknya. Namun, hidupnya berubah menjadi terpuruk setelah swafoto mabuk dirinya tersebar di lingkungan kampusnya sehingga beasiswa semesternya akan dicabut dan berpotensi mencemarkan nama baiknya.
Amin, merupakan teman kecil Suryani yang juga bekerja sebagai teknisi fotocopy kampus. Meskipun bukan mahasiswa, Amin memiliki kedekatan dengan banyak penghuni kampus karena pekerjaannya membuat ia sering bertemu dan berinteraksi dengan para mahasiswa dan dosen. Sosok Amin dalam film ini digambarkan sebagai seseorang yang ramah, cerdik, dan memiliki empati yang sangat tinggi. Amin menjadi satu-satunya orang yang percaya pada Suryani dan bersedia membantu menyelidiki kebenaran di balik malam pesta perayaan teater Mata Hari.
Jenis Kejahatan
Film ini memperlihatkan bentuk victim blaming atau bentuk penyalahan kepada korban atas peristiwa yang telah terjadi padanya. Suryani tidak hanya kehilangan beasiswanya, tetapi juga menjadi bahan penghakiman sosial atas swafoto mabuk nya yang tersebar atas ketidaktahuannya. Kampus yang seharusnya menjadi pendukung atas ketidakadilan suryani pun malah mengambil langkah proses investigasi yang tidak adil dengan mencabut beasiswanya.
Namun, pelecehan seksual di lingkungan kampus adalah kejahatan utama yang diangkat dari film Penyalin Cahaya ini. Pelecehan seksual yang dialami oleh para korban di film ini dengan jelas telah menampilkan bahwa pelecehan seksual tidak hanya terjadi pada lingkungan yang dianggap berbahaya, tetapi juga dapat terjadi pada lingkungan yang dapat dikatakan aman.
Kejahatan lain tergambar juga pada tokoh-tokoh yang memiliki posisi berpengaruh dan berkuasa di kampus yang menggunakan otoritas mereka untuk mengendalikan narasi, menghapus jejak bukti, dan menjaga reputasi lembaga kampus. Kejahatan ini bersifat sistemik, karena melibatkan bukan hanya individu pelaku, tetapi juga struktur yang melindungi mereka.
Bagaimana Film menampilkan Kriminalitas
Film Penyalin Cahaya lebih banyak menampilkan peristiwa dari perspektif korban yang dibangun dengan rasa penasaran. Film ini tidak secara langsung dalam menampilkan sosok pelaku antagonisnya di awal film. Penonton diajak memahami dan menganalisis lebih dulu kebingungan Suryani bahwa mungkinkah pelaku bisa berasal dari lingkungan yang sangat dekat dengan korban.
Film ini juga menghindari menampilkan pelecehan seksual secara eksplisit di bagian awal film. Melalui suryani yang bingung, gelisah, dan penasaran, penonton justru diarahkan dalam menebak-nebak apa yang terjadi. Upaya Suryani yang menyelidiki kejahatan di malam perayaan pesta kelompok teater Mata Hari itu justru juga sebagai pintu masuk dalam menemukan kejahatan lainya yang lebih besar.
Kejahatan yang diangkat dalam film Penyalin Cahaya ini tidak hanya berfokus pada satu peristiwa kejahatan saja, melainkan memungkinkan tindak kriminal terjadi dan terus berulang pada lingkungan atau ekosistem yang sama.
Analisis
Film Penyalin Cahaya dibuat bukan hanya sekedar sebagai karya sinema, tetapi juga sebagai pernyataan berani dan pembelaan sosial secara lantang terhadap isu-isu tabu. Film ini dihadirkan terasa dekat dengan realita sosial yang memberitahukan rapuhnya sistem perlindungan terhadap korban pelecehan seksual di Indonesia, terutama yang terjadi di lingkungan kampus yang seharusnya bisa dijadikan tempat aman dan nyaman bagi siapapun.
Melalui Suryani, penonton diajak melihat bagaimana sulitnya Suryani dalam menghadapi masalah demi masalah yang secara cepat mengubah hidupnya. Suryani sebagai korban tidak hanya berhadapan dengan pelaku secara langsung, tetapi juga menghadapi sebuah jaringan kekuasaan sistemik yang menghalanginya dalam mengungkapkan kebenaran.
Film ini memiliki kekuatan pada cara Suryani dalam membongkar masalah-masalah nya. Kehadiran Amin sebagai teman dan sekutu menunjukan bahwa masih ada harapan dalam setiap permasalahan yang dialami Suryani. Namun, tetap saja fokus kekuatan utama tetap berada pada Suryani sebagai korban untuk melawan.
Film Penyalin Cahaya juga menjadi sebuah pengingat akan menyakitkannya sistem hukum yang jauh dari harapan korban. Meskipun tidak ada penyelesaian hukum yang eksplisit dalam film ini, tetapi membuktikan bahwa seringkali hukum dan keadilan tidak selalu datang untuk menyelamatkan korban.
Apresiasi
Film Penyalin Cahaya karya dari Wregas Bhanuteja ini sangat layak diapresiasi bukan karena telah memenangkan 12 Piala Citra di Festival Film Indonesia 2021, di samping itu film ini telah sangat berani dan lantang dalam menampilkan isu - isu tabu yang seringkali marak terjadi di Indonesia. Akting Shenina Cinnamon sebagai Suryani pun sangat terasa natural dan sangat mendalam sehingga berhasil memberikan ekspresi perpaduan rasa takut, marah, dan keberanian untuk mengungkap kebenaran.
Selain itu, Film ini juga berhasil menyajikan cerita dan narasi yang rapi dan terstruktur dibalut dengan Atmosfer yang tegang dan mencekam sehingga dapat memperkuat perasaan dan emosi penonton. Meskipun ritme dalam film ini disajikan terasa lambat, tetapi film ini memberi ruang kebebasan kepada penonton untuk memahami lebih dalam detail setiap menit dari filmnya.
Film ini juga telah berhasil memberikan publik pemahaman mengenai pentingnya dukungan dan perlindungan bagi korban kejahatan kekerasan seksual. Film Penyalin Cahaya ini adalah salah satu film yang sangat layak wajib ditonton bagi siapapun yang peduli dan peka terhadap isu ini.
-----------------------
Ditulis oleh:
Deden Akmal Fauzi
Content Writer Kasus Pidana by Legal Market Lanprorate

