Konten dari Pengguna

Hotel Orang India di Amerika

Katondio Bayumitra Wedya
Moslem. Author of Arsenal: Sebuah Panggung Kehidupan
18 Mei 2025 21:18 WIB
·
waktu baca 8 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Hotel Orang India di Amerika
Ada hari ketika kami pulang dari kegiatan, bus kami gak bisa berhenti tepat di depan lobi karena jalanan depannya dipakai sekumpulan orang India untuk joget-joget.
Katondio Bayumitra Wedya
Tulisan dari Katondio Bayumitra Wedya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi pesan hotel di India. Foto: Postmodern Studio/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pesan hotel di India. Foto: Postmodern Studio/Shutterstock
Selama di Amerika Serikat, gua dan rombongan DBL Indonesia All Star 2023 menginap di salah satu hotel milik orang keturunan India yang terletak di area bernama Skokie. Atau seenggaknya, begitulah dugaan gua.
Soalnya, nyaris semua pekerjanya orang India mulai dari resepsionis, pelayan, dan lain sebagainya. Sudah begitu, ada semacam minimarket di lobi hotel dan penjaganya orang India.
Dan sepertinya memang, hotel itu sudah terkenal di kalangan komunitas India di Chicago. Soalnya selama 11 hari menginap di sana, seenggaknya gua 2 kali melihat ada pesta pernikahan yang digelar oleh komunitas India. Bahkan, ada hari ketika kami pulang dari kegiatan, bus kami gak bisa berhenti tepat di depan lobi karena jalanan depannya dipakai sekumpulan orang India untuk joget-joget.
Perempuan India yang di dahinya ada tanda merah. Foto: StockImageFactory.com/Shutterstock
Sebenarnya, ada juga orang non-India yang juga bekerja di sana, yakni orang Amerika Latin. Mereka biasanya yang menjadi tukang bersih-bersih kamar atau pelayan di bar--yang kalau pagi beralih fungsi menjadi kafetaria untuk breakfast.
Selama di hotel tersebut, gua sekamar dengan Bang AF--seorang wartawan TV swasta--di salah satu kamar yang terletak di lantai dasar. Di seberangnya persis adalah kolam renang, sedangkan tepat di sampingnya adalah tangga menuju lantai 2.
Interior kamarnya gak terlalu sempit. Terdiri dari 2 kasur yang dipisahkan oleh sebuah meja. Celah itulah yang gua dan Bang AF manfaatkan untuk salat selama di kamar tersebut, cukup oke lebarnya kalau untuk salat sendiri-sendiri.
Bang AF menempati kasur yang dekat dengan jendela. Nah di dekat jendela itu ada AC, jadi AC-nya itu bentuknya kotak horizontal dan ditaruh di lantai, sehingga Bang AF paling kerasa banget itu dinginnya. Makanya selama menginap di sana, ada kalanya dia minta agar AC dimatikan karena gak tahan dinginnya.
Sementara, kasur gua lebih dekat ke kamar mandi. Ada celah kecil antara kasur dengan dinding kamar mandi, jadi barang-barang, koper, dan baju kotor biasanya gua taruh di sela-sela itu.
Ilustrasi kamar hotel, tapi kalau hotel saya di Chicago gak dapat view pemandangan jendela. Foto: Shutterstock
Ngomongin soal toiletnya, gua sempat berharap WC di kamar hotel ini memiliki bidet. Karena gua berpikir, kalau hotel ini milik orang India, berarti mungkin ada bidetnya. Well, gua gak tahu, sih, kebiasaan orang India kalau di WC apakah pakai bidet atau tisu doang, tetapi dugaan gua sih pakai bidet, soalnya kan orang Asia juga.
Dan ternyata… gak ada. Sh*t. Ya sudahlah.
Kenyataan itu lalu membuat gua teringat pengalaman sewaktu di Singapura. Ada hari di mana gua menyempatkan diri bersama rombongan wartawan belanja ke semacam pusat perbelanjaan, yang gua yakini milik orang keturunan India, karena kasir dan tukang angkat barangnya orang India dan pelanggannya juga banyak orang India.
Pada waktu di pusat perbelanjaan Singapura itu, gua sempat masuk ke toiletnya buat kencing. Parahnya, gak ada bidet dan gak ada tisu juga di dalam biliknya.
Dan ternyata di situ, sistemnya adalah kita beli tisu toiletnya di dalam sebuah mesin yang telah disediakan di luar bilik toilet, kita bayar pakai koin. Gak kebayang kalau ada yang baru pertama kali ke sana, lalu kebelet berak terus lupa beli tisunya.
Ilustrasi Little India di Singapura. Foto: Shutterstock
Oke, cukup kilas baliknya, kembali lagi soal WC di kamar hotel itu. Nah untungnya, WC-nya bersebelahan langsung dengan bathtub.
Jadi, cara ceboknya adalah, kan di kamar itu disediakan gelas plastik untuk minum, nah, itu gua alihfungsikan menjadi gayung. So, setiap habis berak, gua cebok dengan itu, airnya dari keran bak mandi.
Permasalahannya, cebok pakai gelas plastik buat gua rada susah. Jadilah, lantai sekitar WC menjadi becek. Inilah yang nyaris setiap hari dikeluhkan oleh Bang AF.
“Ton, kalau habis pakai kamar mandi, jangan banjir-banjir,” kata dia.
Buset, deh, bang. Gimana caranya kalau kita mandi atau berak tapi kagak becek lantainye??? Kalau gua mandi atau cebok pakai tisu basah baru lain ceritanye.
Tapi yang mengejutkan buat gua adalah setiap kali Bang AF habis mandi atau berak, lantainya hanya ‘basah sewajarnya’ dalam arti cuma 'sekadar basah' lantainya. Padahal, dia juga ngakunya cebok dengan gelas plastik juga. Sementara kalau habis gua yang pakai, itu kayak ada genangan kecil, hahaha
Ilustrasi fasilitas kamar mandi, nah bayangin di samping bathtub ada WC. Foto: dar44/Shutterstock
Kendati begitu, perkara toilet ini gak menjadi konflik parahlah antara gua sama Bang AF. Cuma gua kadang rada heran aja kalau dia mau pakai kamar mandi setelah gua, terus dia kaget melihat lantai ‘banjir’, sementara bagi gua sangat maklum kalau lantai kamar mandi itu rada tergenang.
Oke, setop ngomongin toilet. Kegiatan pertama gua dan Bang AF pada malam hari pertama di Amerika Serikat adalah membeli… air putih. Jadi, perbekalan air putih kami sama-sama habis dan pada hari pertama itu. Plus, kami gak ngeh bahwa ada beberapa spot keran di hotel itu yang airnya bisa diminum, jadi bisa refill di situ.
Jadi, hal yang kami lakukan pada pukul 21:30 waktu setempat adalah keluar hotel untuk membeli air putih di minimarket terdekat. Tadi gua bilang, di lobi hotel juga ada minimarket, tetapi dia tutup 21:00.
Sebenarnya, gua rada antusias sih melihat suasana malam di lingkungan dekat hotel. Kayak gimana sih Amerika itu suasananya. Apakah mencekam kayak di film-film gangster atau seram kayak di film-film horror?
Namun ternyata, suasananya cenderung sunyi dan damai. Mungkin karena memang pada dasarnya wilayah ini, Skokie, adalah lingkungan yang relatif aman, ya. Jadi, pihak DBL memang sudah memetakan mana lingkungan sangat berbahaya dan minim bahaya di Chicago dan tentunya mereka memilih yang minim bahaya.
Soalnya, beberapa hari jelang keberangkatan, sempat ramai tuh ada berita penembakan di Chicago. Sesuatu yang sebenarnya cukup lumrah di seluruh Amerika Serikat karena warga sipil legal memiliki senjata api. Namun, ada lokasi yang lebih aman dan ada yang lebih rawan.
Kurang lebih ginilah. Foto: Unsplash
Skokie ini apa sih? Distrik atau semacam kecamatan atau apa? Kalau kalian cek di Wikipedia, bahkan Skokie disebut sebagai 'village' yang kalau diartikan ke Bahasa Indonesia secara harfiah adalah 'desa'.
Tapi, jangan bayangin Skokie kayak desa-desa di Pulau Jawa yang banyak sawah dan ada pemandangan pegunungan indah. Ini lebih kayak kota kecil aja. Semua di sini modern, ada restoran, distro, hypermarket, hingga SPBU.
Skokie masih masuk wilayah Illinois dan lumayan jauh dari pusat Kota Chicago. Ibarat dari Bogor ke Jakartalah.
Adapun suasana di dekat hotel kami terbilang aman dan sunyi ketika malam hari. Tadinya, gua membayangkan akan sangat mudah menemukan sekumpulan anak muda yang nongkrong sambil merokok ganja dan menyetel musik keras di malam hari.
Tapi, gua gak melihat itu sama sekali. Bukan berarti gak ada, cuma gak menjamur saja kayaknya di lingkungan dekat hotel kami.
Dan justru, menurut gua, suasana di sana lebih aman dibanding di kawasan rumah gua, Beji, Depok. Kalau di Beji, pukul 21:00 WIB saja jalanan masih ramai sama motor, kadang ada yang ngebut-ngebut pakai motor 2 tak. Belum lagi yang lawan arah, belum lagi yang nyalip-nyalip sembarangan.
Sementara di sana, nyaris kagak ada motor, cuy. Sejauh mata memandang, mobil pun gak banyak pas gua keluar di malam hari itu. Lengang banget. Udah jalannya lebar, mobilnya gak sepadat di Depok atau Jakarta.
Ilustrasi SPBU yang ada minimarketnya. Foto: Unsplash
Gua dan Bang AF sempat bingung mau menyeberang. Soalnya minimarketnya ada di dalam area SPBU seberang hotel. Di Amerika, kalau mau menyeberang harus menekan tombol dulu tuh yang ada di trotoar. Kagak bisa tuh, main nunjukin tangan doang kayak nyeberang di Margonda atau Pasar Minggu.
Cuma, itu kan jalanan sepi. Kami berpikir apakah sebaiknya langsung gas aja lari, toh, mobil di sana juga kagak ngebut-ngebut. Dan akhirnya, kami pilih opsi itu. Kagak tahu sih sebenarnya boleh atau kagak. Hehehe
Seperti di film-film, minimarketnya itu menjadi bagian dari pom bensin. Orang yang jaga adalah orang India. Persis seperti stereotype di film-film. Dia menjual air putih literan seharga USD 9,50. Bang AF cukup lama dan bimbang tuh mau beli apa kagak, karena dia menimbang apakah membayar harga segitu terbilang layak atau kagak untuk sejeriken air putih.
Maksud gua, yailah, bang, kagak bakal langsung habis juga kalilah itu air semalam. Pagi harinya, kita pasti juga bisa minum di food court pas sarapan.
Akhirnya, setelah gua bujuk, dia beli juga dua. Si India udah bete aje nunggu kita lama, soalnya dia juga udah mau tutup. Tadinya mau gua yang bayarin, cuma akhirnya si Bang AF yang bayar karena dia memiliki duit USD lecek yang pastinya bakal turun nilainya kalau ditukar ke rupiah lagi.
Keesokan paginya, kami sarapan. Di hotel kami, menu sarapannya sama semua setiap hari. Sangat gak ada variasi, yakni kentang goreng, omelette, sosis babi, keju, roti, selai, mentega, madu, dan sereal. Itu terus setiap hari. Kalaupun ada variasi, ada hari kentang gorengnya dikasih paprika.
Dan jangan berharap menemukan saus sambal di Amerika. Mereka umumnya hanya punya dua, yakni saus tomat dan saus Tabasco khas Meksiko, yang pedas banget tetapi juga amat pahit. Kalau saus sambal Indonesia kan pedas tapi ada gurih-gurihnya, kalau Tabasco kagak, pahit doang ama ngebakar lidah.
Ilustrasi saus sambel botolan Foto: Shutter Stock
Itulah kenapa kita harus membawa saus atau kecap sendiri dari Indonesia karena susah carinya di sana. Dari sekian jenis saus yang gua coba selama di Amerika Serikat, saus yang rasanya mendekati saus sambal Indonesia adalah saus Thailand merek Sri Racha. Tapi itu pun belum senikmat punya Indonesia.
Gua sempat bingung, apa ya yang membuat sambal Indonesia kurang eksis di Amerika Serikat? Maksudnya, kalau katanya bule gak doyan pedas, lah itu Tabasco dan Sri Racha pedas, bos. Semoga para pemimpin dunia lebih concern dengan hal ini.
Trending Now