Konten dari Pengguna
Ketika Nilai TKA Rendah, Apa yang Salah dari Sistem Pendidikan?
14 Januari 2026 18:00 WIB
·
waktu baca 2 menit
Kiriman Pengguna
Ketika Nilai TKA Rendah, Apa yang Salah dari Sistem Pendidikan?
Nilai TKA Matematika nasional 36,10 mencerminkan persoalan sistemik pendidikan. Rendahnya capaian ini berpotensi melemahkan kemampuan berpikir logis dan sistematis generasi muda.Hari Adityawan
Tulisan dari Hari Adityawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Rata-rata nilai Tes Kompetensi Akademik (TKA) Matematika nasional yang hanya mencapai 36,10 seharusnya tidak dipahami sekadar sebagai kegagalan siswa menjawab soal. Angka ini lebih tepat dibaca sebagai cermin dari persoalan sistemik dalam pendidikan Indonesia, khususnya dalam membangun kemampuan berpikir logis dan sistematis.
Matematika selama ini kerap diposisikan sebagai mata pelajaran teknis yang berorientasi pada hasil akhir: jawaban benar atau salah. Padahal, esensi matematika justru terletak pada proses bernalar—bagaimana siswa menganalisis masalah, menyusun strategi penyelesaian, dan menarik kesimpulan secara rasional. Ketika nilai TKA rendah, yang patut dipertanyakan bukan hanya kompetensi siswa, melainkan sejauh mana sistem pendidikan benar-benar melatih proses berpikir tersebut.
Berbagai penelitian telah menegaskan bahwa kemampuan matematika berkorelasi kuat dengan penalaran logis. Studi dalam Jurnal Pendidikan Matematika (2021) menunjukkan korelasi tinggi antara kemampuan penalaran logis dan kemampuan menyelesaikan soal matematika (r = 0,72). Artinya, rendahnya capaian matematika berpotensi berdampak langsung pada kualitas nalar generasi muda secara umum.
Namun, sistem pendidikan kita masih terlalu sering terjebak pada pendekatan administratif dan target numerik. Kurikulum berganti, istilah pembelajaran diperbarui, tetapi praktik di kelas cenderung stagnan. Siswa tetap dibiasakan menghafal rumus dan pola soal, bukan memahami konsep dan membangun argumentasi logis. Evaluasi belajar pun lebih menekankan pencapaian skor daripada proses berpikir.
Di sisi lain, disparitas kualitas pendidikan antarwilayah belum ditangani secara serius. Akses terhadap guru dengan kompetensi pedagogik yang kuat, metode pembelajaran kontekstual, dan sumber belajar yang memadai masih timpang. Dalam kondisi seperti ini, nilai TKA yang rendah lebih mencerminkan kegagalan struktural ketimbang kelemahan individu siswa.
Ironisnya, situasi ini kontras dengan narasi besar Indonesia Emas 2045. Visi tersebut menempatkan sumber daya manusia unggul sebagai kunci daya saing global. Namun, bagaimana mungkin visi itu tercapai jika kemampuan nalar dasar yang menjadi fondasi pengambilan keputusan rasional dan pemecahan masalah kompleks belum dibangun secara konsisten sejak bangku sekolah?
Nilai TKA Matematika 36,10 seharusnya menjadi alarm keras bagi pembuat kebijakan. Perbaikan tidak cukup dilakukan dengan menambah jam pelajaran, memperbanyak soal latihan, atau mengganti istilah kurikulum. Yang dibutuhkan adalah perubahan pendekatan: dari pendidikan berbasis hafalan menuju pendidikan yang menempatkan penalaran, logika, dan pemahaman sebagai inti pembelajaran.
Jika sistem pendidikan terus mengabaikan aspek fundamental ini, maka rendahnya nilai TKA bukanlah anomali, melainkan konsekuensi yang berulang. Dan selama persoalan ini tidak ditangani secara serius, narasi Indonesia Emas berisiko menjadi ambisi besar yang berdiri di atas fondasi nalar yang rapuh.

