Konten dari Pengguna
Negeri Manusia Batu
7 November 2023 8:41 WIB

Kiriman Pengguna
Negeri Manusia Batu
Negeri manusia batu adalah sebuah cerita pendek yang mengisahkan tragedi yang terjadi di sebuah negeri. Kekayaan yang dimiliki oleh negeri itu, telah membuat orang-orangnya menjadi patung, dan membatuYerri Satria Putra
Tulisan dari Yerri Satria Putra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Cerita Pendek

“Negeri apakah ini, Bu? udaranya sejuk dan indah sekali, hei! Coba lihat di sana, Bu! Di sungai itu, lihatlah Bu! Air sungai itu jernih sekali, lkan-ikan di dalamnya banyak sekali!! Negeri apakah ini, Ibu?” Tanya seorang anak kepada ibunya. Dengan hati yang lu ar biasa takjubnya. Seakan-akan dia baru saja menemukan surga di dunia.
“Ini negeri manusia batu anakku!” Jawab sang ibu seraya tangannya mengelus lembut kepala anak itu.“Negeri manusia batu? Apa maksudnya bu?” Tanya bocah itu heran. “Ya anakku, negeri ini dinamakan demikian karena negeri ini dihuni oleh menusia-manusia batu.” Kemudian kedua ibu-anak itupun beristirahat di bawah pohon beringin yang tumbuh kokoh. Tepat di tepi sungai itu. Tengah mereka beristirahat, anak itu kembali bertanya. “Manusia batu? hebatkah mereka, Bu? Apakah mereka seperti manusia biasa seperti kita?” tanyanya. “Dulu, mereka memang manusia biasa seperti kita. Semuanya sama, sekarang mereka telah berubah menjadi batu. Mereka makan, minum,berbicara,berkembang biak dan lainnya sama seperti kita,tapi wujud mereka beda. Tubuh mereka keras seperti batu. Kulit mereka kasar dan gerakan mereka sangat lamban, karena mereka dari batu.” Terang si ibu. “Kenapa mereka berubah menjadi batu, Bu?” tanya bocah itu kembali. “Mereka dikutuk oleh dewa-dewa di langit anak ku. Seperti kura-kura. Ya,mereka sekarang tak ubahnya seperti kura-kura. Bergerak lambat, dan penakut.” Jawab si ibu, “Kura-kura? Apa maksud Ibu! Aku tak mengerti?” tanya bocah itu heran. “Haah!! Suatu saat nanti kau pasti akan mengerti anakku. Sekarang marilah kita lanjutkan perjalanan kita. Tujuan kita masih amat jauh.” Anak dan ibu itu pun bangkit dari peristirahatan mereka, berjalan menyusuri tepian sungai itu, sambil menikmati indahnya alam di negeri itu.
Ibu dan anak itu adalah dua orang musafir yang terpisah dari kelompoknya. Hujan badai di tengah lautan telah membuat kapal mereka karam di tengah samudera. Saudara-saudara mereka semua mati ditelan ombak. Hanya mereka yang selamat dari bencana itu dan akhirnya gelombang laut mendamparkan mereka di negeri manusia batu.
Negeri manusia batu, adalah negeri yang misterius. konon kabarnya negeri ini dulunya adalah negeri besar. Katanya, orang-orang negeri ini dulunya adalah para pelaut handal, tetapi kehandalan itu tidak diwariskan ke generasi mudanya, sehingga cerita nenek moyang mereka yang seorang pelaut itu berbanding terbalik dengan orang-orang yang sekarang mendiami negeri ini. Orang-orang di negeri ini sekarang hanya bisa menjual kenangan peradaban nenek moyangnya, sementara mereka sekarang tidak menciptakan peradaban apa-apa.
“Seettaan!!! Brrengseek!! Kurang ajar!! Mereka semua sungguh keterlaluan!!” Maki seorang pemuda, entah dengan dan untuk siapa. “Ada apa dengan mu Boris!! Apa kau sudahgila!!!” Tanya seorang temannya yang kaget setengah mati, dengan kedatangan Boris. “Ya!! Aku memang gila! Tapi mereka! Mereka lebih gila daripada aku!!” balas Boris sambil tangannya menunjuk ke luar rumah, mengarah entah kepada siapa. “Mereka siapa, hah?! Katakan dengan jelas!!” Lanjut temanya. “Orang-orang di kampung ini!! Mereka semua brengsek!! Settaan!! Pemalas! Dungu! Tidakkah mereka menyadari bahwa mereka itu adalah manusia?!!” Hardik Boris. “Oh! Itu sebabnya. Hmm, bagiku semua itu biasa saja!” Jawab teman itu tenang, seakan ingin meredakan amarah Boris. “Biasa? Katamu itu semua biasa?” Timpal Boris. “Ya, orang-orang di sini semuanya memang seperti itu. Mereka hidup dari kesantaian itu.” Jawab temannya. “Piere!! Jangan kau katakan itu sekali lagi. Kita ini manusia Piere, kita selalu bergerak, kitalah yang menciptakan perubahan itu. tapi orang-orang di sini, mereka bukan manusia!!” Ucap Boris. “Lho? Jadi menurutmu, mereka ini apa? Mereka mayat!! haha … atau kura-kura?” Kata teman Boris yang bernama Piere sambil melucu. “Tidak lucu!” Bentak Boris.
“Perlu kau tahu Boris, aku menyukai orang-orang itu. Terutama gadis-gadisnya, yang cantik, tinggi dan ah, jarang sekali aku menemukan perempuan seperti gadis-gadis di sini. Walaupun menurut kamu mereka bukan manusia, tapi bagiku mereka adalah orang-orang yang sadar akan kemakmuran negeri ini, dan kesadaran itu menggiring mereka untuk menikmati tiap tetes kemakmuran yang dimiliki oleh negeri ini. Mereka tidak rakus hingga mengambil setumpuk tetes kemakmuran dan akhirnya anak-anak mereka tidak akan mendapatkannya.” Ucap Piere. “Kau sudah gila! Kau sama setanya seperti mereka!” Ucap Boris. “Jadi apa salahnya?” Sambung Piere yang kali ini menjadi serius menanggapi Boris.
“Piere, sadarlah, kau telah dipengaruhi oleh mereka. Kau bukan Piere kawanku seperti dulu lagi, yang kukenal sebagai seorang yang punya sejuta akal” Ucap Boris.
“Boris, kau terlalu berlebihan menilai orang-orang di sini. Mereka itu para pejuang yang sedang menikmati kemenangan mereka. Mereka bukan pemalas, tidak bodoh. Alam yang indah, negeri yang subur dan kaya yang mereka tempati ini tidaklah mereka sia-siakan. Mereka hanya menjaganya kelestarian negeri ini agar tidak rusak dan di rampok oleh orang asing seperti kita. Mereka sadar bahwa negeri ini bukanlah milik mereka, tapi milik anak cucu mereka. Boris, kita manusia, jangan mudah dimainkan oleh nafsu. Tahan, tahanlah nafsu kita, karena kita akan celaka bila kita hanya menuruti nafsu. Ingatlah itu Boris.” Ucap Piere.
“Akh! Persetan dengan khotbahmu Piere. Walaupun aku kasar, tapi aku juga manusia. Jiwa manusiawi ku bicara, aku sudah bosan dengan mereka. Selama lima tahun kita di sini, di negert ini, kita tidak mampu mewujudkan cita-cita kita. Pada hal kau sendirikan tahu, sudah berapa banyak kegiatan sosial yang kita adakan, tetapi tidak satupun yang bisa dijalankan. Pertanian disini, peternakannya, tidak ada satupun cara kita mereka pakai. Mereka masih melakukannya dengan cara mereka, kapan mereka akan jadi kaya jika seperti itu. Sekarang Piere, semuanya sia-sia bukan, dan apakah aku salah jika sekarang aku menyumpahi mereka?” Teriak Boris.
“Akh!! Seeetaaan!!”
“Boris, mau apa kau!!” Tiba-tiba saja Boris berlari keluar rumah. Boris terus berlari. Berlari dengan kencang. Ditebasnya satu-persatu dahan pohon, ranting dan alang ilalang, “Boris, Boris!” Teriakan Piere sepertinya tidak lagi didengar oleh Boris. Dia terus berlari dan berlari. “Mau apa kau Boris? Aku harap kau tidak melakukan kebodohan!” Tiba-tiba saja angin bertiup kencang. Pohon-pohon bertumbangan, atap-atap rumah berhamburan. Orang-orang di negeri itu, semuanya panik dengan perubahan alam yang begitu mendadak. Sementara itu, Boris telah sampai di puncak bukit. Dipandanginya negeri itu dari puncak bukit, lalu dibentangkan kedua belah tangannya.
Angin bertiup makin kencang, keadaan yang sebelumnya terang benderang, mendadak menjadi gelap gulita. Kabut tebal entah dari mana datangnya telah menyelimuti negeri itu. Petir menyambar di sana sini, badai bertiup kencang dan tiba-tiba, Hah! Orang-orang yang tadi panik dan berlari ke sana kemari, mendadak terdiam tak bergerak. Mereka tidak mati, mereka masih hidup. Mereka telah jadi batu.
“Begitulah ceritanya nak, cerita yang ibu dapat dari nenekmu. Mudah-mudahan ketika engkau dewasa nanti, engkau bisa memahami cerita ini.” Ucap si ibu. “Ibu? Apakah Boris itu orang jahat, seperti nenek sihir?” Tanya bocah itu. “Nenek sihir? Hahahahaha! Entahlah.” Jawab si ibu sambil tangannya megusap kepala anaknya. Ketika keduanya tengah asyik berbincang-bincang sambil terus berjalan, terlihat oleh si bocah puluhan patung yang berada tak jauh dari tempat mereka. “Ibu, lihatlah itu Bu! Lihat di sana, kuperhatikan dari tadi orang-orang itu sama sekali tidak bergerak bu? Lihatlah itu Bu!!” Kata si anak sambil jari telunjuknya mengarah ke suatu tempat yang dilihatnya. Ibunya berupaya melihat apa yang ditunjuk oleh anaknya. Sesaat dipandanginya dalam-dalam apa yang menjadi perhatian anaknya. Dan Ibu itu pun berkata: “Itulah mereka anakku, si manusia batu.”

