Konten dari Pengguna

Hati-Hati dengan Sifat Licik Israel dan Amerika Serikat

KH Anwar Abbas
Wakil Ketua Umum MUI, Ketua PP Muhammadiyah
26 November 2025 6:58 WIB
ยท
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Hati-Hati dengan Sifat Licik Israel dan Amerika Serikat
Indonesia diharapkan hati-hati dalam merespons setiap penawaran Israel dan AS tentang Palestina, baik langsung atau tidak. #userstory
KH Anwar Abbas
Tulisan dari KH Anwar Abbas tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Presiden Donald Trump berbincang dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Knesset, Yerusalem, Senin (13/10/2025). Foto: Evan Vucci/Pool via Reuters
zoom-in-whitePerbesar
Presiden Donald Trump berbincang dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Knesset, Yerusalem, Senin (13/10/2025). Foto: Evan Vucci/Pool via Reuters
Israel dan Netanyahu tidak mau mengakui berdirinya negara Palestina karena mereka memang hendak menguasai seluruh wilayah tersebut. Mereka berencana menjadikannya sebagai bagian dari negara Israel Raya yang mereka cita-citakan. Untuk itu mereka akan berusaha keras membuat seluruh wilayah Palestina harus berada di bawah kendali mereka.
Oleh karena itu jika ada kelompok dari kalangan rakyat Palestina yang menentang dan mengangkat senjata melawan Israel, seperti yang dilakukan Hamas, maka Israel akan mencap mereka sebagai teroris. Sehingga setiap usaha yang Israel lakukan dalam memberangus gerakan perlawanan tersebut mendapat pembenaran dari dunia.
Tetapi pertanyaannya apakah layak orang yang melakukan perlawanan untuk mendapatkan haknya, untuk memperoleh kembali tanah, kebebasan, dan kemerdekaannya, dicap sebagai teroris? Tentu saja tidak. Untuk itu kita berharap agar Indonesia lebih berhati-hati dalam merespons setiap tawaran dan ajakan serta rencana yang disampaikan Israel dan Amerika Serikat tentang segala sesuatu yang terkait dengan Palestina baik langsung atau tidak karena di belakangnya sangat sarat dengan tipu daya.
Seperti dengan Abraham Accord yang ditanda tangani tahun 2020, yang merupakan kesepakatan diplomatik antara Israel dengan Uni Emirat Arab dan Bahrain, yang kemudian diikuti oleh Sudan dan Maroko. Amerika serikat sebagai otak yang berada di balik kesepakatan tersebut berharap agar Saudi Arabia bahkan juga Indonesia mau mengikutinya.
Padahal yang menjadi inti dari kesepakatan tersebut adalah untuk bisa mengakhiri isolasi diplomatik Israel oleh dunia Arab dan dunia Islam melalui cara menormalisasi hubungan antara Israel dengan negara-negara tersebut dengan iming-iming endorong terciptanya perdamaian dan kerja sama di kawasan Timur Tengah dan kawasan-kawasan lainnya di bidang perdagangan, teknologi, pertahanan, dan pariwisata.
Kita berharap agar pemerintah Indonesia tidak tertipu oleh muslihat Israel dan Amerika Serikat tersebut dengan tidak melakukan penandatanganan apa pun bentuknya dengan Israel, termasuk dalam masalah penempatan tentara perdamaian Indonesia di Gaza. Bila hal itu terjadi maka berarti kita telah mengakui negara penjajah tersebut. Padahal bagi kita sudah menjadi prinsip selama Israel masih saja menjajah Palestina dan tidak mau mengakui berdirinya negara Palestina maka selama itu pulalah kita tidak akan membuka hubungan diplomatik dengan negara zionis tersebut.
Trending Now