Konten dari Pengguna

Sleep Tourism: Liburan Kekinian, Investasi Kesehatan Mental dan Fisik

Kharisma Putri Azzahra
Mahasiswa Magister Pariwisata UPI
21 Mei 2025 11:11 WIB
Β·
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Sleep Tourism: Liburan Kekinian, Investasi Kesehatan Mental dan Fisik
Sleep tourism, tren liburan kekinian, menawarkan pengalaman tidur berkualitas di destinasi tenang. Investasi kesehatan mental dan fisik, cocok untuk recharge energi!
Kharisma Putri Azzahra
Tulisan dari Kharisma Putri Azzahra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Fasilitas tidur yang nyaman untuk Sleep Tourism (Sumber : Dokumentasi Pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Fasilitas tidur yang nyaman untuk Sleep Tourism (Sumber : Dokumentasi Pribadi)
Bayangkan sebuah liburan di mana agenda utama Anda bukanlah menjelajahi tempat wisata, berburu kuliner, atau berfoto di spot Instagramable melainkan sekadar tidur nyenyak, memulihkan energi, dan membiarkan tubuh serta pikiran benar-benar beristirahat. Inilah esensi sleep tourism, tren wisata global yang tengah naik daun dan diprediksi menjadi salah satu fenomena perjalanan terbesar di tahun 2025.

Mengapa Sleep Tourism Jadi Tren Baru?

Kehidupan modern yang penuh tekanan, paparan layar digital tanpa henti, dan tuntutan produktivitas membuat tidur berkualitas semakin langka. Survei global tahun 2024 menunjukkan, bahkan di negara maju seperti Jepang, hanya 20% responden yang bisa tidur nyenyak lebih dari dua malam per minggu. Di India, hanya 27% yang mengaku tidur nyenyak setiap malam. Tak heran, tidur kini dianggap sebagai "kemewahan baru" yang dicari banyak orang, bahkan saat liburan.
Sleep tourism lahir dari kebutuhan mendesak ini. Alih-alih pulang dari liburan dalam keadaan lebih lelah, wisatawan kini mencari pengalaman yang benar-benar memulihkan tubuh dan mental. Data Global Wellness Institute menunjukkan, sektor wellness tourism (termasuk sleep tourism) tumbuh pesat dan bernilai lebih dari $919 miliar pada 2023, dengan proyeksi pertumbuhan hampir 10% per tahun. Sleep tourism pun menjadi bagian penting dari tren ini karena menawarkan pengalaman unik: tidur berkualitas sebagai inti liburan.

Fasilitas Sleep Tourism: Dari Alam hingga Teknologi Canggih

com-Ilustrasi tidur yang berkualitas Foto: Shutterstock
Hotel dan resort di seluruh dunia berlomba-lomba menghadirkan fasilitas khusus untuk sleep tourism. Mulai dari lokasi yang jauh dari kebisingan kota, kamar dengan kasur premium, bantal ergonomis, hingga pengaturan suhu dan pencahayaan yang bisa disesuaikan. Beberapa hotel mewah bahkan menawarkan smart bed berbasis AI, terapi suara alam, aromaterapi, hingga konsultasi dengan ahli tidur.
Tidak hanya fasilitas fisik, sleep tourism juga menawarkan paket retreat yang menggabungkan yoga, meditasi, terapi pernapasan, hingga sleep coaching. Beberapa hotel bahkan menyediakan "sleep concierge" yang membantu tamu menyesuaikan pola tidur selama menginap.

Manfaat Sleep Tourism: Lebih dari Sekadar Tidur

Sleep tourism bukan hanya soal tidur lebih lama, tapi juga tidur lebih berkualitas. Studi meta-analisis menunjukkan, perbaikan kualitas tidur secara signifikan menurunkan tingkat depresi, kecemasan, dan stres. Liburan dengan fokus pada tidur juga membantu memperbaiki pola tidur, menurunkan risiko penyakit kronis, dan memperlambat proses penuaan.
Banyak wisatawan mengaku tidur lebih nyenyak di hotel dibandingkan di rumah sendiri. Menurut survei Hilton, dua pertiga warga Amerika mengalami tidur lebih baik saat menginap di hotel, dan hampir setengah wisatawan kini memilih liburan dengan tujuan utama beristirahat dan recharge.
Sleep tourism juga menjadi bentuk self-care yang nyata. Di tengah budaya hustle, memberi waktu untuk tidur berkualitas adalah bentuk penghargaan terhadap diri sendiri yang sering diabaikan. Tak heran, sleep tourism kini menjadi pilihan utama bagi mereka yang ingin benar-benar pulih, bukan sekadar bersenang-senang.

Destinasi Sleep Tourism di Indonesia

Ilustrasi kamar tidur. Foto: Dariusz Jarzabek/Shutterstock
Beberapa daerah tujuan sleep tourism yang populer di Indonesia menawarkan suasana tenang, pemandangan indah, dan fasilitas relaksasi kelas dunia yang sangat mendukung tidur berkualitas. Ubud, Bali menjadi salah satu destinasi favorit karena atmosfer alamnya yang damai dan jauh dari kebisingan kota, dengan banyak resort yang menawarkan pengalaman tidur optimal melalui layanan spa, yoga, serta kamar yang dirancang khusus untuk relaksasi maksimal. Selain Ubud, kawasan tepi tebing seperti Uluwatu juga sangat diminati karena pemandangan laut lepas yang menenangkan dan fasilitas spa berstandar internasional.
Di luar Bali, Labuan Bajo menawarkan suasana privat di tepi pantai dengan interior yang memadukan gaya tradisional dan modern, sangat cocok bagi yang ingin benar-benar beristirahat jauh dari keramaian. Selain itu, Lombok dan Sumba juga menjadi pilihan utama menawarkan kombinasi keindahan alam, fasilitas mewah, dan ketenangan total yang mendukung pengalaman sleep tourism yang autentik.
Tidak hanya di Bali dan Nusa Tenggara, Yogyakarta juga mulai dikenal sebagai destinasi sleep tourism berkat suasana pedesaan yang asri dan berbagai resort yang mengusung konsep relaksasi dan pemulihan diri. Destinasi-destinasi ini membuktikan bahwa Indonesia memiliki potensi besar sebagai surga bagi para pencari tidur berkualitas dan liburan yang benar-benar memulihkan tubuh serta pikiran.

Sleep Tourism Menjadi Masa Depan Wisata yang Lebih Personal dan Inovatif

Industri pariwisata kini diwarnai era sleep tourism yang lebih personal dan inovatif di mana pengalaman tidur tidak lagi sekadar fasilitas tambahan, melainkan daya tarik utama. Hotel dan resort mengembangkan layanan personalisasi, mulai dari pemilihan bantal, pencahayaan, hingga paket wellness yang disesuaikan dengan kebutuhan tamu. Teknologi seperti smart bed, pelacak tidur, dan aplikasi relaksasi makin umum digunakan untuk menciptakan pengalaman tidur yang benar-benar optimal.
Bahkan, sleep tourism kini juga menyasar segmen solo traveler yang ingin melakukan perjalanan untuk self-discovery dan digital detox. Retreat khusus untuk β€œMeMooners” wisatawan yang ingin benar-benar fokus pada diri sendiri dan kesehatan mental semakin diminati.
Sleep tourism membuktikan bahwa liburan sejati bukan hanya soal eksplorasi destinasi, tetapi juga tentang memberi ruang bagi tubuh dan pikiran untuk benar-benar pulih. Di tengah dunia yang makin bising dan penuh tekanan, tidur berkualitas adalah investasi terbaik untuk kesehatan fisik dan mental. Jadi, jika Anda merasa lelah dengan rutinitas dan ingin mencoba liburan yang benar-benar berbeda, sleep tourism bisa jadi jawabannya liburan yang membuat Anda pulang dalam kondisi lebih segar, sehat, dan bahagia.
Trending Now