Konten dari Pengguna

Matematika: Tulang Punggung Tersembunyi di Balik Keuangan Modern

Khasna Nurul Fai'koh
Mahasiswa Matematika Universitas Pamulang
8 Januari 2026 14:02 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Matematika: Tulang Punggung Tersembunyi di Balik Keuangan Modern
Matematika adalah tulang punggung keuangan modern. Di balik kecanggihan fintech, ada algoritma yang menentukan nasib ekonomi kita. Saatnya pahami logika di baliknya agar tidak jadi pengguna pasif.
Khasna Nurul Fai'koh
Tulisan dari Khasna Nurul Fai'koh tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Foto: Unsplash/Jakub Żerdzicki
zoom-in-whitePerbesar
Foto: Unsplash/Jakub Żerdzicki
Keuangan modern sering dipahami sebatas urusan uang dan teknologi. Padahal, ada fondasi penting yang kerap luput dari perhatian: matematika. Tanpa perhitungan matematis yang kuat, sistem perbankan digital, fintech, hingga platform investasi tidak akan mampu bekerja cepat dan konsisten. Dalam konteks ini, matematika bukan sekadar alat teknis, melainkan penopang utama yang membentuk cara kerja keuangan global saat ini.
Pandangan tersebut semakin relevan di tengah pesatnya digitalisasi keuangan. Efisiensi sering dipuji sebagai keunggulan utama layanan digital, tetapi jarang dibahas bagaimana efisiensi itu dibangun. Keputusan keuangan kini dihasilkan oleh algoritma yang mengolah data dalam jumlah besar. Melalui statistika, probabilitas, dan aljabar linear, sistem dapat menilai risiko, membaca pola pasar, dan menentukan keputusan secara otomatis. Tanpa dasar matematika, teknologi keuangan hanya akan menjadi tampilan digital tanpa kemampuan "berpikir".
Peran matematika terlihat jelas dalam praktik financial forecasting. Prediksi arus kas, pergerakan harga aset, hingga kondisi pasar tidak lagi bergantung pada intuisi semata, melainkan pada model berbasis data. Pendekatan ini memang membantu meningkatkan ketepatan keputusan. Namun, ketergantungan berlebihan pada model juga bisa menimbulkan rasa aman semu, seolah masa depan selalu bisa dipastikan melalui angka dan rumus.
Situasi ini menjadi semakin rumit dengan hadirnya kecerdasan buatan (AI) dalam sektor keuangan. Sistem penilaian kredit dan deteksi penipuan bekerja berdasarkan perhitungan probabilitas yang tidak selalu dipahami pengguna. Keputusan penting—seperti diterima atau ditolaknya pengajuan kredit—kini ditentukan oleh sistem yang berjalan di balik layar. Di sinilah matematika tidak lagi bersifat netral, karena hasil perhitungannya berdampak langsung pada kehidupan sosial dan ekonomi seseorang.
Sayangnya, pembahasan publik sering kali lebih fokus pada kecanggihan teknologi, bukan pada cara kerja model yang digunakan. Padahal, sejarah krisis keuangan menunjukkan bahwa kesalahan dalam membaca risiko dapat berujung pada dampak besar. Ketika hasil perhitungan dianggap selalu benar, ruang untuk mempertanyakan dan mengoreksi justru semakin sempit, meskipun setiap model memiliki keterbatasan.
Masalah lain yang tak kalah penting adalah rendahnya literasi numerik masyarakat dibandingkan cepatnya inovasi teknologi keuangan. Banyak orang menggunakan layanan keuangan digital tanpa memahami bagaimana keputusan terhadap diri mereka dibuat. Kondisi ini berisiko membuat masyarakat hanya menjadi pengguna pasif dari sistem yang sangat menentukan kondisi finansial mereka.
Karena itu, matematika perlu ditempatkan sebagai bagian dari literasi keuangan modern. Tujuannya bukan agar semua orang menguasai rumus kompleks, melainkan agar publik lebih sadar dan kritis terhadap sistem yang memengaruhi kehidupan mereka. Keuangan modern tidak cukup dinilai dari kecanggihan aplikasinya, tetapi juga dari sejauh mana kita memahami logika perhitungan yang ada di baliknya.
Trending Now