Konten dari Pengguna

Dari Tungku ke Piring: Jejak Mikroplastik di Tahu Tropodo

Khayla Satriani
Mahasiswa semester 3 Program Studi Kesehatan Masyarakat, Universitas Airlangga, yang memiliki ketertarikan pada isu-isu kesehatan lingkungan .
14 November 2025 17:00 WIB
Β·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Dari Tungku ke Piring: Jejak Mikroplastik di Tahu Tropodo
Kisah kelam dibalik tahu dari sebuah desa kecil di Sidoarjo bernama Tropodo.
Khayla Satriani
Tulisan dari Khayla Satriani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Tumpukan Sampah (pexels.com/Emmet)
zoom-in-whitePerbesar
Tumpukan Sampah (pexels.com/Emmet)
Tahu, makanan olahan kacang kedelai yang memiliki kandungan protein nabati dan sudah ratusan tahun digemari oleh masyarakat Indonesia. Tahu dianggap sebagai makanan yang sehat, murah, dan bergizi. Tapi, bagaimana jika makanan favorit kita ini menyimpan cerita lain yang tak sedap didengar? Siapa sangka, di balik gurihnya tahu, tersimpan kisah kelam dari sebuah desa kecil di Sidoarjo bernama Tropodo.
Di Desa Tropodo, Sidoarjo, tahu bukan hanya sekadar makanan, tetapi juga sumber kehidupan bagi ratusan keluarga. Asap mengepul dari puluhan pabrik rumahan, pertanda aktivitas produksi yang tak pernah berhenti sejak tahun 1940-an. Aromanya mungkin menggugah selera, tapi asap itu menyembunyikan sebuah rahasia gelap, yaitu kontaminasi mikroplastik yang mencemari proses produksi tahu dan lingkungan yang semakin dirasakan dari hari ke hari.
Penelitian terkini membuktikan bahwa kontaminasi mikroplastik di Tropodo telah menjadi ancaman besar. Studi dari hasil riset Yuhana di tahun 2023 tentang identifikasi mikroplastik pada tahu di sentra industri tahu Desa Tropodo mengungkap fakta mencengangkan bahwa semua sampel tahu dari Tropodo positif mengandung mikroplastik, dengan konsentrasi tertinggi mencapai 17,2 partikel per gram pada lokasi yang menggunakan bahan bakar plastik. Bayangkan, dalam satu potong tahu seberat 100 gram, bisa terkandung hingga 1.700 partikel plastik yang tak terlihat oleh mata!
Dilansir dari investigasi terbaru Ecological Observation and Wetlands Conservation (ECOTON) di tahun 2025, 40% bahan bakar yang digunakan adalah sampah plastik impor dari Amerika Serikat, Korea Selatan, Australia, dan beberapa negara lain. Sisanya terdiri dari karet, sol sepatu, styrofoam, dan kayu. Penggunaan sampah plastik impor ini sebelumnya sudah dilarang oleh pemerintah sejak tahun 2019. Namun hingga 2025, pembakaran sampah plastik masih berlangsung di banyak pabrik tahu Tropodo.
Rantai pencemaran tidak berhenti di makanan. Penelitian serupa dilakukan oleh Fauzi di tahun 2023 yang melengkapi gambaran suram ini dengan menemukan bahwa udara di Tropodo juga telah menjadi medium penyebaran mikroplastik. Berbagai jenis mikroplastik seperti fiber, fragmen, dan filamen terdeteksi melayang di udara, sementara kualitas udara di beberapa dusun mencapai status "sangat tidak sehat" hingga "berbahaya". Ini berarti, selain melalui konsumsi tahu yang terkontaminasi, warga Tropodo juga terpaksa menghirup langsung partikel mikroplastik dengan setiap tarikan napas mereka.
Dampak kesehatan yang mengintai dari balik kepulan asap pembakaran plastik ibarat bom waktu yang terus berdetak. Dalam jangka pendek, warga sekitar mengeluhkan iritasi saluran napas, batuk-batuk, hingga serangan asma yang tak kunjung reda.
Namun, bahaya sesungguhnya justru mengendap dalam diam. Dioksin dan mikroplastik yang terakumulasi lambat laun menggerogoti sistem imun, mengacaukan keseimbangan hormon, bahkan memicu mutasi DNA pemicu kanker. Partikel mikroplastik yang masuk ke dalam tubuh tidak hanya berhenti di saluran pencernaan, melainkan berpotensi merusak fungsi hati dan organ vital lainnya. Dampaknya bagai rangkaian domino yang saling mempengaruhi, dari gangguan pernapasan akut, hingga ancaman kanker dan kerusakan sistemik.
Di balik asap tebal pembakaran plastik, tersembunyi dilema sosial-ekonomi yang rumit. Sebagian besar warga Tropodo menggantungkan hidupnya pada industri tahu, memaksa mereka memilih bahan bakar termurah, yaitu sampah plastik impor. Pilihan yang awalnya untuk menghemat, justru berbalik menjadi boomerang. Ketika anggota keluarga jatuh sakit akibat polusi, pendapatan pun terancam dan biaya pengobatan membengkak. Praktik yang dikira menguntungkan ini pada akhirnya menjadi lingkaran setan yang tidak hanya merugikan kesehatan, tetapi juga mengorbankan masa depan anak cucu dan lingkungan.
Kabar baik datang dari pemerintah. Kementerian Lingkungan Hidup dan BPLH telah mengeluarkan peringatan keras kepada pelaku industri tahu. Pemerintah Daerah menerbitkan surat edaran Bupati No.660/8238/438.5.11/2022 dan Surat Edaran Sekda No.600.4/603/438.5.11/2025 yang berisi larangan penggunaan sampah plastik dan limbah B3 sebagai bahan bakar. Para pengusaha tahu telah berkomitmen beralih ke energi ramah lingkungan seperti woodchips dan biogas, didukung rencana pembangunan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) komunal dan teknologi pembakaran bersih. Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Dardak, menegaskan akan menindak tegas pelanggaran, menandai babak baru transformasi industri tahu Tropodo menuju sistem produksi yang lebih sehat, aman, dan berkelanjutan.
Kisah Tropodo menjadi cermin kecil dari tantangan besar yang kita hadapi bersama. Di satu sisi, ada tuntutan untuk mempertahankan ekonomi rakyat, di sisi lain ada tanggung jawab untuk menjaga kelestarian lingkungan. Setiap potong tahu yang hadir di meja makan kita tak lagi sekadar urusan rasa, tapi juga membawa pertanyaan tentang pilihan. Di balik gurihnya, terselip pertanyaan besar, warisan seperti apa yang ingin kita tinggalkan untuk anak-cucu?
Trending Now