Konten dari Pengguna
Realitas Meritokrasi Pendidikan : Bukan Soal Kemauan, Tapi Soal Akses!
16 Juni 2025 17:36 WIB
·
waktu baca 9 menit
Kiriman Pengguna
Realitas Meritokrasi Pendidikan : Bukan Soal Kemauan, Tapi Soal Akses!
Merasa gagal karena kurang usaha? Bisa jadi bukan salahmu. Artikel ini bongkar mitos meritokrasi dan ungkap kenyataan pahit ketimpangan pendidikan yang sering disembunyikan. Kiki Styo Wati Raharjo
Tulisan dari Kiki Styo Wati Raharjo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dari sejak duduk di bangku sekolah, kita selalu diajarkan bahwa belajar itu penting agar pandai dan sukses di masa depan. Bahwa pendidikan akan membawakan kita keluar dari kemunduran dan kemiskinan. Karena pendidikan adalah gerbang emas menuju tangga ke langit tempat mimpi dan cita-cita berada. Oleh karenanya kita selalu dituntut untuk belajar dengan giat dan bersungguh-sungguh.
Tetapi ada yang aneh dari narasi ini. Realitanya banyak anak pintar dari keluarga miskin yang tidak melanjutkan pendidikannya karena terhalang akses dan biaya. Bahwa banyak anak-anak dari keluarga kaya yang dengan mudah melanjutkan pendidikan mereka ke perguruan tinggi meskipun mungkin mereka tidak terlalu pandai. Kita sering mendengar kalimat “Ah, dia sukses karena bekerja keras!” Namun apakah kita benar-benar mengetahui seberapa intens usaha yang telah dilakukannya, serta bagaimana latar belakang yang dimilikinya turut berperan dalam pencapaian tersebut? Tentunya kerja keras yang dilakukan setiap orang dalam meraih kesuksesan tidaklah sama, mengingat mereka menghadapi kondisi dan masalah yang berbeda-beda. Pandangan ini berkaitan erat dengan konsep meritokrasi yang menganggap bahwa setiap orang bisa sukses asalkan berusaha keras, terlepas dari latar belakang yang dia miliki. Tetapi, benarkah realitasnya demikian?
Apa itu Meritokrasi?
Meritrokasi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sistem yang memberikan kesempatan kepada seseorang untuk memimpin berdasarkan kemampuan atau prestasi, bukan kekayaan, senioritas, dan sebagainya. Istilah meritokrasi sendiri pada awalnya dicetuskan oleh sosiolog asal Inggris bernama Michael Dunlop Young dalam buku distopia politik dan satirenya yang berjudul The Rise of the Meritocracy yang terbit di tahun 1958. Dalam bukunya tersebut Young menjelaskan bahwa meritokrasi adalah sebuah sistem di mana orang-orang yang cerdas dan mampu diberikan kekuasaan dan status, tanpa memandang latar belakang sosial mereka. Young menggunakan istilah meritokrasi sebagai kritik sosial, bukan pujian. Dia menganggap sistem yang tampak adil ini justru menciptakan hierarki sosial baru yang lebih legitim dan mengakar kuat karena terkesan natural dan earned.
Cerita Si Rafa dan si Roni
Coba kita bayangkan ada dua anak yang lahir di hari yang sama, yaitu Si Rafa dan Si Roni. Tetapi keduanya memiliki kondisi dan latar belakang yang berbeda. Yang pertama mari kita lihat Si Rafa, dia adalah anak yang terlahir di Jakarta di mana kesehariannya setelah pulang sekolah dia selalu pergi ke gym bersama ayahnya untuk berolahraga, lalu malamnya dia les bahasa inggris dan piano. Dia punya rumah di lingkungan perumahan yang aman dan asri. Setiap hari rumahnya selalu bersih karena ada asisten rumah tangga yang membersihkan rumah, hal ini karena kedua orang tuanya sibuk bekerja dan tidak sempat mengurus pekerjaan rumah. Dia tidak perlu memikirkan bekal makan siang dan makan malamnya karena selalu disiapkan oleh asisten rumah tangganya tersebut. Rafa sangat nyaman untuk belajar di rumahnya karena bersih ditambah lagi jaringan internet dirumahnya lancar dan unlimited. Dari kecil dia juga suka membaca buku karena ibunya punya perpustakaan ensklopedia mini di rumahnya.
Lalu ada Si Roni yang lahir di pesisir pantai utara Jawa. Selepas pulang sekolah, dia membantu ibunya membersihkan ikan hasil tangkapan ayahnya semalam sampai sore hari. Lalu sisa ikan tangkapan tersebut akan dia masak sendiri untuk makan siang karena ibunya akan ke pasar untuk menjual ikan. Saat ingin mengerjakan PR, dia harus ke warung penyedia jaringan internet karena di rumahnya tidak ada sinyal internet. Ditambah lagi lingkungan rumahnya berisik dan kotor sehingga dia kurang nyaman untuk belajar di rumah. Ini membuat dia susah untuk berkonsentrasi saat harus belajar menghadapi ujian. Dia juga tidak punya seseorang untuk bertanya saat dia kebingungan tentang pelajaran di sekolahnya.
Saat ujian masuk universitas tiba, siapa yang kira-kira akan lolos? Jika ternyata Rafa yang lolos apakah karena murni kerja kerasnya? Atau karena dia punya kondisi dan latar belakang yang lebih menguntungkan? Akses dan kesempatan tentunya faktor besar penentu keberhasilan seseorang yang tidak bisa dipungkiri.
Apa Kata Para Ahli?
Seorang sosiolog asal Perancis, Pierre Bourdieu menuliskan dalam bukunya yang berjudul The Forms of Capital (1986) mengenai teori “modal budaya”—yaitu pengetahuan dan kebiasaan yang didapat dari keluarganya. Sebagai contoh anak yang lahir dari keluarga terdidik biasanya sudah tau cara berdiskusi yang benar dan menyampaikan pendapat. Mereka mengenal situasi dengan baik bagaimana public speaking yang benar saat ikut orang tuanya bekerja atau menghadiri konferensi. Berbeda dengan anak yang lahir dari keluarga yang tidak terdidik—orang tuanya hanya lulusan SD, mereka harus belajar sendiri dari awal ketika menghadapi beberapa situasi seperti di atas.
Pandangan yang lebih ekstrem dipaparkan oleh Samuel Bowles dan Herbert Gintis, mereka berpendapat bahwa sekolah ada untuk mempertahankan kelas sosial yang sudah ada, bukan untuk menciptakan kesetaraan. Sekolah-sekolah yang ada dipinggirin akan menanamkan kedisiplinan dan kepatuhan pada anak didiknya, sementara sekolah-sekolah unggul di kota akan mengajarkan kreativitas, kepemimpinan, dan berpikir kritis. Hal ini seolah-olah sekolah pinggiran akan mencetak buruh pabrik dan sekolah unggul di kota akan mencetak bos dan manajer. Dengan kata lain, Bowles dan Gintis mengatakan bahwa sistem pendidikan sebenarnya melatih anak-anak sesuai dengan kelas sosialnya sehingga hierarki sosial yang sudah ada bisa dipertahankan untuk kepentingan tertentu. Mirisnya, ini semua didoktrin dengan embel-embel “siapa yang rajin belajar akan sukses di masa depan”.
Realitas di Lapangan
Dari sebuah penelitian etnografi yang berjudul Pengaruh Pendidikan dalam Perspektif Manusia, oleh Maya Puspita Handayani, mahasiswa Antropologi Budaya, Universitas Gadjah Mada tahun 2024 di pesisir pantai utara Jawa, dia mendapati realita yang ada bahwa tingkat pendidikan orang tua memengaruhi tingkat pendidikan anaknya. Seorang narasumber bernama Ibu Yanti (nama samaran), beliau memiliki 4 orang anak. Dua dari anaknya telah menikah dan hanya tamat sekolah dasar dan menengah pertama, sedangkan kedua anaknya yang lain masih mengenyam pendidikan. Ibu Yanti ini hanya tamat SMP, namun dia tetap berharap anak-anaknya dapat mengenyam pendidikan setinggi-tingginya agar mendapat pekerjaan yang layak di masa depan. Meskipun demikian, Ibu Yanti tetap menyerahkan keputusan tersebut ke anak-anaknya
Di sisi lain, ada narasumber lain bernama Mbak Zainab yang menempuh pendidikan diploma jurusan kebidanan, meskipun pada akhirnya dia tidak menyelesaikan pendidikannya tersebut. Hal ini tidak jauh berbeda dari riwadyat pendidikan ibunya yang lulusan S1 di sebuah universitas swasta di Jawa Tengah.
Data etnografi tersebut menampilkan sebuah latar belakang berbeda dari kedua narasumber. Analisis yang didapatkan dari data tersebut mengungkapkan bahwa faktor pendidikan orang tua mempengaruhi pandangan dan penghargaan pendidikan yang diturunkan kepada anak-anaknya. Oleh karena itu selain kerja keras, akses juga berpengaruh besar terhadap kesuksesan seseorang.
Mengapa Sistem ini Bertahan?
1. Kisah-Kisah Kesuksesan yang Inspiratif
Di masa sekarang ini, banyak sekali kisah-kisah inspiratif yang bertebaran di sosial media mengenai anak-anak miskin yang sukses menjadi pengusaha di kota besar. Narasi lain mungkin muncul dengan judul ekstrem seperti “Sukses dengan Trading Setelah Drop Out dari Sekolah, Anak ini Menganggap Sekolah Tinggi Tidak Penting”. Padahal realitasnya kasus-kasus seperti ini adalah pengecualian, bukan aturan. Sama saja seperti para perokok yang kelihatan bugar dan sehat, padahal perokok tersebut tidak mewakili mayoritas.
2. Rasa Bersalah yang Terpendam
Beberapa orang mungkin akan merasa lebih baik dengan menarasikan kisah hidupnya seolah-olah dirinya sukses dari nol tanpa bantuan orang lain seperti latar belakang keluarga dan jaringan teman. Padahal sebenarnya mengakui privilege bukanlah sesuatu yang memalukan tetapi justru membuat tingkat kesadaran kita meningkat untuk membantu orang lain.
3. Lebih Mudah Menyalahkan Individu
Akan lebih mudah mengatakan “dia gagal karena malas” daripada mengatakan “sistem ini tidak adil”. Dengan menganggap orang lain malas, kita bisa tetap pasif dan tidak harus berbuat apa-apa, sementara jika menyalahkan sistem yang tidak adil ini, seolah-olah kita dituntut untuk aktif berpartisipasi untuk mengubah sistem.
Dampak Sistem Meritokrasi
Dengan adanya sistem seperti ini, orang-orang yang belum berhasil akan merasa bodoh dan menyalahkan diri sendiri atas kondisi yang di luar kendali mereka. Mereka juga akan mudah menyerah karena kurangnya rasa percaya diri. Sementara bagi mereka yang berhasil akan merasa superior dan layak mendapat penghormatan. Hal ini juga akan menuju ke stres berlebihan karena takut tersaingi dan kehilangan jabatan.
Lalu, Bagaimana Solusinya?
Jawabannya adalah redistribusi. Artinya bukan menghapus kompetisi atau menurunkan standar, tetapi memastikan semua orang memulai dari tempat yang sama. Sama dalam konteks ini artinya yaitu dengan pemerataan kualitas pendidikan dan memastikan semua orang mendapatkan akses yang sama. Hal ini dapat dilakukan dengan sekolah gratis, peningkatan kualitas tenaga pendidik, perbaikan infrastruktur sekolah, dan beasiswa untuk anak kurang mampu. Selain itu perlu juga menanamkan pola pikir bahwa kesuksesan itu kolektif, bukan individual. Dan bahwa privilege itu nyata dan bukan aib, sehingga harus dimanfaatkan sebaik mungkin.
Cerita dari Finlandia
Finlandia dikenal secara luas sebagai salah satu negara dengan sistem pendidikan terbaik di dunia. Namun dulunya Finlandia mempunyai sistem pendidikan yang sangat kompetitif dan tidak merata. Untuk mengatasi masalah tersebut, di tahun 1970-an Finlandia melakukan sebuah reformasi besar-besaran di bidang pendidikan dengan menghapus ujian nasional, memberikan otonomi penuh ke sekolah dan guru-guru dalam melakukan kegiatan belajar, fokus kepada kolaborasi dan kerja tim, serta melakukan investasi besar-besaran untuk meningkatkan kualitas guru. Dengan perombakan ini, Finlandia berhasil mencetak generasi yang kreatif dan berprestasi. Hal yang perlu digarisbawahi dari cerita ini adalah bahwa sistem pendidikan harusnya mengupayakan yang terbaik untuk semua bukan mencari yang terbaik dari semua.
Jadi, Apa Kesimpulan yang Dapat Diambil?
Meritokrasi adalah mitos di negeri ini. Bukan berarti usaha dan kerja keras itu tidak penting, tetapi sistem pendidikan kita yang disebut adil justru menampilkan ketimpangan di mana-mana. Anak yang putus sekolah untuk bekerja bukan berarti dia malas, anak yang tidak melanjutkan ke perguruan tinggi belum tentu dia tidak mau, dan anak yang berhasil masuk ke perguruan tinggi bergengsi bukan melulu karena dia pintar. Dengan menerima fakta ini, kita bisa sadar bahwa masalah ketimpangan di negeri ini itu nyata. Bukan berarti kita harus pesimis dan berpangku tangan, tetapi bagaimana kita bisa berpartisipasi untuk memperbaiki sistem pendidikan agar semua anak memiliki kesempatan yang sama dalam mengakses pendidikan. Sehingga kita bisa memberikan tangga-tangga kepada generasi muda untuk menuju kesuksesan. Karena sejatinya bangsa yang berhasil bukanlah bangsa yang berhasil menyetak orang-orang sukses, tetapi bangsa yang berhasil membangun fondasi dasar yang merata bagi setiap anak yang lahir.
Sources:
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. (n.d.). Meritokrasi. Kamus Besar Bahasa Indonesia. https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/meritokrasi
Bourdieu, P. (1986). The forms of capital. In J. Richardson (Ed.), Handbook of theory and research for the sociology of education (pp. 241-258). Greenwood.
Bowles, S., & Gintis, H. (1976). Schooling in capitalist America: Educational reform and the contradictions of economic life. Basic Books.
Handayani, M. P. (2024). Pengaruh pendidikan dalam persepsi manusia [Tugas akhir mata kuliah Praktik Penelitian Etnografi yang tidak dipublikasikan]. Program Studi Antropologi Budaya, Universitas Gadjah Mada.
Sahlberg, P. (2011). Finnish lessons: What can the world learn from educational change in Finland? Teachers College Press.
Young, M. (1958). The rise of the meritocracy. Thames and Hudson.

