Konten dari Pengguna
Ulasan Film Keluarga Super Irit: Masih ada Tawa di Balik Hidup Sederhana
29 Oktober 2025 11:36 WIB
·
waktu baca 4 menit
Kiriman Pengguna
Ulasan Film Keluarga Super Irit: Masih ada Tawa di Balik Hidup Sederhana
Film Keluarga Super irit menampilkan kisah Keluarga Sukaharta yang berjuang untuk hidup irit di tengah perekonomian yang semakin menghimpit.Berlian Kinanti Sarang Sriti
Tulisan dari Berlian Kinanti Sarang Sriti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di tengah gaya hidup serba mahal, Keluarga Super Irit hadir dengan berbagai cara untuk mendapatkan harga yang paling murah. Di tengah keadaan ekonomi yang semakin menghimpit, Keluarga Sukaharta berpegang teguh untuk mempertahankan hidup sederhana. Memang betul bahwa hal ini menjadikan mereka pelit dalam hal uang, tetapi satu hal yang tidak mereka irit adalah cinta dan kehangatan keluarga yang selalu menaungi di setiap suka dan duka. Film yang disutradarai oleh Danial Rifki ini diadaptasi dari Komik Keluarga Super Irit karya Kim Yoon So. Meskipun diadaptasi dari karya yang berasal dari Korea Selatan, tetapi berhasil dikemas secara menarik menjadi karya film yang mengandung nilai-nilai budaya Indonesia. Melalui kombinasi level irit yang berbeda-beda tiap anggota keluarga, film ini menghadirkan banyak adegan komedi yang diselimuti suasana kekeluargaan penuh memori hangat. Film ini dibintangi oleh keluarga Dwi Sasono di kehidupan nyata, dirinya sebagai Tony, bersama Widi Mulia Sunarya sebagai Linda, Dru Prawiro Sasono sebagai Billy, Widuri Puteri Sasono sebagai Selly, dan Den Bagus Sasono sebagai Kenny.
Perjalanan dalam Cerita Keluarga Super Irit
Dalam alur ceritanya, penonton diajak mengikuti kisah keluarga Sukaharta dalam kesehariannya di tengah hiruk pikuk Kota Jakarta. Linda sebagai ibu rumah tangga yang skill iritnya sangat mahir, selalu menawar harga serendah mungkin hingga membawa timbangannya sendiri untuk mencegah kecurangan harga di pasar. Selly sebagai anak yang pekerja keras, selalu menemukan cara untuk menambah pemasukan, tetapi berbanding terbalik dengan sikap Billy yang boros dan tidak pintar mencari uang. Kenny sebagai anak yang cerdas dan berpengetahuan luas, level iritnya pun tinggi. Semua usaha mereka untuk menghemat, memberi kesempatan bagi keluarganya untuk menabung, baik untuk membayar uang kontrakan rumah sampai tabungan untuk kuliah Selly dan Billy, serta rencana untuk memasukan Kenny ke sekolah unggulan. Tony sebagai pekerja kantoran dengan posisi manajer, juga selalu menghemat dengan naik sepeda ke kantor, membawa bekal makanan dari rumah, dan memanfaatkan jatah kopi kemasan gratis di kantor.
Keadaan mengalami perubahan besar saat kantor Tony memutuskan untuk melakukan perampingan, sehingga gaji Tony dipotong dalam jumlah yang cukup besar. Situasi bertambah kacau ketika rumah kontrakan Keluarga Sukaharta pun terancam tidak bisa diperpanjang masa kontraknya dan memaksa mereka untuk pindah. Setelah berbagai kejadian seperti pemasukan menipis, di sisi lain jumlah uang kontrakan yang harus dibayarkan naik secara drastis. Hal ini membuat Tony dan Linda akhirnya memutuskan untuk terus memutar otak demi menemukan cara mengirit uang, mulai dari pindah ke rumah yang lebih sederhana hingga ide unik berupa "botol cawik". Rumah baru mereka jauh lebih kecil ukurannya, membuat mereka sempat diliputi keraguan, tetapi akhirnya mereka memilih untuk menetap bersama, dikelilingi oleh kebersamaan dan kehangatan keluarga.
Chemistry Pemeran dan Cerita yang Dekat dengan Realita
Kelebihan dari Film Keluarga Super Irit yang utama terletak pada pemilihan pemeran, sebuah keluarga di kehidupan nyata, yang juga memerankan peran keluarga di film. Pemilihan tersebut memperkuat chemistry antar pemeran sehingga pemeranan sebagai sebuah keluarga semakin natural dan meyakinkan. Pada adegan komedi dimana satu pemeran harus berinteraksi dengan pemeran lainnya, pembawaan mereka tidak terlihat kaku, misalnya saat Billy melontarkan candaan kepada Selly. Selain itu, pemeran benar-benar menguasai latar belakang tokohnya, seperti Engkong Mandra dari Semarang, fasih dalam berbahasa Jawa dari intonasi dan pengucapan kata sesuai dengan kebiasaan orang Jawa Tengah. Dengan begitu, pembawaan pemeran terhadap tokohnya masing-masing terasa sangat natural dan tidak kaku.
Cerita yang disampaikan melalui film, sesuai dengan bagaimana realita sebuah keluarga di kehidupan nyata terlihat dan berperilaku. Isi ceritanya tidak terkesan mengada-ngada dan berlebihan, dalam konteks sebuah keluarga. Misalnya, pada adegan makan malam bersama, mereka saling bercengkrama tentang berbagai macam hal, dialog yang dilontarkan juga seperti keluarga pada umumnya. Terdapat pula realita yang menunjukkan kesulitan dan tantangan sebuah keluarga, salah satunya yang paling menonjol adalah di bidang ekonomi. Film ini mengangkat kegiatan sehari-hari sebuah keluarga di kehidupan nyata, membuat latar suasana di beberapa adegan memang benar terasa keharmonisannya dan terasa relate dengan berbagai permasalahan yang terjadi.
Kekurangan Film dan Pesan Cinta dari Keluarga Sukaharta
Film Keluarga Super Irit memiliki kekurangan pada alurnya yang linier dan mudah ditebak, terutama saat Keluarga Sukaharta akan meninggali rumah sederhana yang sempat diragukan seluruh anggota keluarga, akhirnya tetap ditempati dengan alasan hidup sederhana dan asalkan keluarga tetap bersama. Ceritanya mengikuti pola umum film keluarga, dimulai dari masalah ekonomi, upaya berhemat, hingga pesan moral tentang kesederhanaan dan kebersamaan. Beberapa adegan terasa berlebihan, seperti Tony yang bersepeda sejauh 5 kilometer setiap hari, agar mencapai pengeluaran setiap bulan sejumlah 5 ribu saja. Namun, gaya unik Keluarga Sukaharta dalam berhemat tetap menghibur dengan sentuhan komedi ringan dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Selain itu, pesan cinta, dukungan dan kehangatan keluarga menjadikan film ini tetap menarik ditonton bersama keluarga.

