Konten dari Pengguna
Cerita Horor Sebagai Teks dalam Tes Kemampuan Akademik (TKA) Bahasa Indonesia
3 Agustus 2025 19:48 WIB
·
waktu baca 5 menit
Kiriman Pengguna
Cerita Horor Sebagai Teks dalam Tes Kemampuan Akademik (TKA) Bahasa Indonesia
Membahas tentang peluang cerita horor sebagai salah satu teks fiksi dalam TKA mata uji Bahasa Indonesia.Kristophorus Divinanto Adi Yudono
Tulisan dari Kristophorus Divinanto Adi Yudono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Transformasi sistem pendidikan Indonesia kembali terjadi dalam waktu dekat. Tepat pada tanggal 29 Juli 2025 pemerintah Indonesia melalui Pusmendik (Pusat Asesmen Pendidikan) menerbitkan kerangka asesmen Tes Kemampuan Akademik (TKA) untuk jenjang ragam jenjang, dimulai dari SD hingga SMA/SMK termasuk untuk jenjang sekolah di bawah Kementerian Agama. Dokumen-dokumen tersebut saat ini menjadi acuan penting dalam transformasi asesmen pembelajaran yang berorientasi pada standarisasi penilaian di sekolah. Penerbitan dokumen ini menjadi momen penanda era baru sistem penilaian pendidikan. Dokumen ini membagikan secara lengkap tentang TKA, dimulai dari alasan TKA diberlakukan, jenis soal, mata pelajaran yang diuji, hingga petunjuk teknis untuk pihak sekolah. Melalui unggahan sosial media Kementrian Pendidikan Dasar dan Menengah (@kemendikdasmen) TKA direncanakan terselenggara di sekolah pada awal November.
Bahasa Indonesia menjadi salah satu mata uji TKA untuk ragam jenjang, mulai dari SD hingga SMA/SMK. Semua jenjangnya menekankan keterampilan membaca, khususnya dua teks yakni teks informasi dan teks fiksi. Aspek keterampilan membaca yang menjadi muatan utama mata uji Bahasa Indonesia diklasifikasi menjadi 3 aspek, antara lain pemahaman tekstual, pemahaman inferensial, serta evaluasi dan apresiasi. Setiap aspek memiliki subkompetensi yang dikemas melalui teks dengan orientasi pemahaman mendalam pada siswa tentang teks-teks. Memilih bahkan membuat teks sebagai stimulus TKA menjadi aspek yang krusial. Bukan hanya untuk mewujudkan nilai yang memuaskan di TKA, melainkan juga demi menjamin kualitas baik kemampuan literasi siswa.
Sembari mencermati kerangka asesmen terbaru, sebuah gagasan dalam bentuk pertanyaan pun muncul: Bagaimana jika teks fiksi cerita horor dimanfaatkan sebagai salah satu teks fiksi yang muncul dalam TKA?
Sampai saat ini, cerita horor masih terbatas dimanfaatkan sebagai bahan bacaan asesmen Bahasa Indonesia. Sepengalaman saya mengikuti Ujian Nasional sejak SD hingga SMA, belum pernah ada cuplikan atau bahkan cerita pendek horor utuh sebagai bahan bacaan ujian. Kebanyakan teks yang muncul adalah cuplikan karya sastra Indonesia kanon, populer, hasil karya guru pengajar Bahasa Indonesia itu sendiri, atau hasil menyalin dari internet. Karya fiksi dengan genre spesifik horor jarang muncul dalam penilaian-penilaian harian.
Tentu absennya horor dalam jajaran teks bacaan di asesmen Bahasa Indonesia kita dimungkinkan terjadi karena beberapa faktor. Tentu pertama (bahkan yang utama) cerita horor tidak digunakan dalam pembelajaran adalah muatan logika mistika dalam cerita horor yang tidak selaras dengan orientasi pendidikan yang mengedepankan rasionalitas. Cerita horor selalu kental dengan logika mistika yang dianggap oleh sebagaian masyarakat sebagai strata kesekian dalam derajat pengetahuan. Tentu menjadi kontradiksi ketika membawa konsep yang "sama sekali tidak masuk akal" ke dalam ruang kelas yang mengajarkan segala hal yang "masuk akal. Faktor selanjutnya adalah panjang cerita horor. Cerita horor biasanya dikemas dalam bentuk cerita bersambung atau cerita utuh dengan jumlah kata yang banyak. Ketika cerita horor berkembang di media sosial X, utas horor bisa mencapai 450 kata per kisah. Setelah era "pembukuan" cerita-cerita horor dimulai, jumlah kata dalam cerita horor bisa jauh lebih banyak. Tentu hal ini bertentangan dengan panjang teks yang digunakan dalam TKA yakni 250-300 kata untuk jenjang SMA/SMK/MA/MK, 200-250 kata untuk jenjang SMP/MTS, dan 150-200 kata untuk jenjang SD/MI.
Horor seharusnya menjadi aspek yang dapat mendukung proses pendidikan. Namun masyarakat kita senantiasa menempatkan cerita horor sebagai produk hiburan. Konsep tersebut tampaknya menjadi alasan menyikapi cerita horor sebagai karya tanpa mempertimbangkan peluangnya sebagai media belajar. Sedangkan di negara-negara lainnya, horor dan pendidikan memiliki kedekatan. Buku Reading in the Dark: Horror in Children's Literature and Culture yang diedit oleh Jessica R. McCort menjadi satu dari banyak buku lainnya yang menjelaskan keterlibatan cerita horor sebagai produk kebudayaan untuk edukasi anak-anak. Suatu kisah memiliki makna. Cerita horor yang sering tidak masuk akal sebenarnya turut memberi pengetahuan tentang nilai-nilai yang masuk akal.
Cerita horor bukan hanya memberikan pengalaman tidak masuk akal, melainkan memberi nilai yang masuk akal yang selaras dengan orientasi TKA. Misalnya serial cerita horor anak Creepy Case Club karya Rizal Iwan yang sarat nilai persahabatan atau utas-utas horor di sosial media yang sarat nilai tata krama, hormat terhadap orang tua, hingga edukasi literasi finansial. Keberadaan nilai-nilai ini dapat dimanfaatkan untuk mewujudkan kompetensi pemahaman tekstual, inferensial, serta evaluasi dan apresiasi yang menjadi kompotensi inti TKA mata uji Bahasa Indonesia. Misalnya cerita Penjaga Malam karya Eka Kurniawan dalam buku Kumpulan Cerita Pendek Kumpulan Budak Setan dapat dimanfaatkan untuk menilai relevansi peristiwa yang ada di cerita dengan kehidupan sehari-hari subkompetensi kemampuan evaluasi dan apresiasi melalui soal pilihan ganda jenis kedua yakni pilihan ganda kompleks multiple choice multiple answers (MCMA) jenjang SMA/SMK.
Kendala jumlah teks dapat diantisipasi dengan memilih teks horor yang sesuai dengan ketentuan kerangka asesmen TKA. Teks-teks cerita misteri horor dari Bobo atau melakukan transkripsi dari cerita Riri Kisah Horor dan Misteri yang ada di Youtube dapat dimanfaatkan sebagai bahan bacaan TKA mata uji Bahasa Indonesia. Cerita-cerita horor dari sumber ini lebih sesuai dan tepat guna dengan peserta TKA jenjang dasar dan menengah pertama. Kerumitan kosakata, karaktertistik kalimat, hingga karakteristik wacananya sesuai dengan target usia perkembangan kognitif siswa jenjang tersebut. Tentu pihak penyusun soal jangan sampai lupa menuliskan sumber cerita horor tersebut sebagai bentuk apresiasi.
Penekanan kemampuan membaca teks informasi dan teks fiksi dalam TKA memberikan peluang untuk mengenalkan siswa tentang lebih banyak teks Bahasa Indonesia, termasuk fiksi genre horor. Penggunaan cerita horor sebagai bahan asesmen bukan hanya memberi "angin segar" penilaian, melainkan juga meningkatkan relevansi antara pengetahuan dengan lingkungan belajar siswa. Tentu tidak sedikit juga siswa-siswa di sekolah yang menggandrungi karya horor. Perspektif tentang keterampilan berpikir kritis tidak akan hilang hanya karena teks bermuatan logika mistika perlu dimiliki. Barangkali logika mistika justru menjadi titik tumpu seseorang berpikir logika seperti yang terjadi pada sosok Gen Alfarizi. Barangkali kemanusiaan dan nalar masuk akal justru menguat melalui hal-hal yang tidak masuk akal.

