5 Alasan Pengajuan Kredit Ditolak Meski Penghasilan Cukup Besar
27 November 2025 17:00 WIB
ยท
waktu baca 3 menit
5 Alasan Pengajuan Kredit Ditolak Meski Penghasilan Cukup Besar
Penolakan pengajuan kredit tidak hanya karena pendapatan kamu kecil, ya. Orang dengan berpenghasilan besar pun bisa saja ditolak karena alasan tertentu. Apa itu?kumparanBISNIS

Penghasilan cukup bukan jaminan lolos pengajuan kredit. Banyak calon debitur yang merasa bingung ketika permohonan pinjaman mereka ditolak meski jumlah pendapatan bulanan sudah memenuhi persyaratan.
Fenomena ini menjadi perhatian serius karena cukup banyak masyarakat modern kini bergantung pada layanan cicilan dan pinjaman untuk berbagai kebutuhan, mulai dari pembelian barang elektronik hingga modal usaha.
Ada beberapa faktor yang jadi penyebab pengajuan pinjaman seseorang ditolak meski penghasilannya besar. Apa saja?
5 Alasan Pengajuan Kredit Ditolak
1. Skor Kredit Kurang Baik
Skor kredit menjadi salah satu faktor utama penilaian lembaga keuangan. Skor ini menunjukkan seberapa baik kamu mengelola kewajiban finansial di masa lalu. Jika skor kredit rendah, kemungkinan besar aplikasi kredit akan ditolak meskipun penghasilan terlihat cukup di atas kertas.
Skor kredit dipengaruhi oleh riwayat pembayaran tagihan, jumlah utang yang dimiliki, serta durasi penggunaan produk keuangan. Misalnya, jika kamu sering terlambat membayar kartu kredit atau memiliki banyak pinjaman aktif, hal tersebut bisa menurunkan skor kredit secara signifikan.
Untuk meningkatkan skor kredit, pastikan semua kewajiban finansial dibayar tepat waktu dan hindari pengambilan utang yang tidak diperlukan.
2. Rasio Utang terhadap Pendapatan Tinggi
Lembaga keuangan juga memeriksa rasio utang terhadap pendapatan (debt-to-income ratio). Meski penghasilan kamu cukup, tetapi sebagian besar digunakan untuk membayar utang lain, risiko gagal bayar dinilai lebih tinggi. Idealnya, total cicilan tidak boleh melebihi 30 persen dari penghasilan bulanan.
Untuk menghindari masalah ini, evaluasi kembali semua cicilan yang sedang berjalan. Prioritaskan pelunasan utang dengan bunga tinggi agar rasio utang dapat dikendalikan.
3. Dokumen Tidak Lengkap atau Tidak Valid
Kesalahan administratif sering kali menjadi penyebab penolakan kredit. Dokumen yang tidak lengkap atau tidak sesuai standar bisa membuat proses verifikasi terhambat. Contohnya, slip gaji yang tidak mencantumkan detail pendapatan bersih atau dokumen identitas yang sudah kedaluwarsa.
Pastikan semua dokumen yang diajukan lengkap dan valid. Periksa ulang setiap data yang diinput dalam formulir aplikasi. Jika ada ketidaksesuaian antara dokumen dan informasi yang diberikan, segera perbaiki sebelum mengajukan ulang. Langkah ini membantu mempercepat proses persetujuan.
4. Riwayat Keuangan Tidak Stabil
Riwayat keuangan yang fluktuatif atau tidak stabil juga menjadi alasan penolakan. Bank dan lembaga pembiayaan cenderung menghindari risiko dengan memilih calon debitur yang memiliki pola keuangan konsisten.
Misalnya, jika penghasilan kamu berubah-ubah setiap bulan atau terdapat transaksi mencurigakan di rekening, hal ini bisa mempengaruhi keputusan kreditur.
Untuk memperbaiki kondisi ini, pertahankan stabilitas keuangan dengan menjaga saldo rekening tetap positif dan menghindari transaksi yang tidak penting. Buat catatan pengeluaran rutin untuk memastikan arus kas tetap terkendali.
5. Informasi Data Tidak Konsisten
Inkonsistensi informasi antara dokumen dan wawancara juga sering menjadi pemicu penolakan. Contohnya, jika penghasilan yang dilaporkan dalam formulir aplikasi tidak sesuai dengan bukti dokumen atau pernyataan saat wawancara, hal ini bisa menimbulkan keraguan bagi kreditur.
Agar terhindar dari masalah ini, pastikan semua informasi yang diberikan konsisten dan benar. Gunakan sumber data yang akurat dan selalu update informasi pribadi jika ada perubahan. Transparansi menjadi kunci utama dalam membangun kepercayaan dengan lembaga keuangan.
Ya, mengajukan kredit memang memerlukan persiapan matang. Dengan memahami penyebab umum penolakan dan cara mengatasinya, kamu dapat meningkatkan peluang lolos sebagai debitur.
Ingat, tanggung jawab utama ada pada konsumen untuk memilih platform yang tepat dan mengelola keuangan dengan bijak.
