Ada 23 Ribu Merek Alas Kaki di Indonesia, Mayoritas Produksi Jawa

4 November 2025 16:08 WIB
Β·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ada 23 Ribu Merek Alas Kaki di Indonesia, Mayoritas Produksi Jawa
Meski banyak produsen alas kaki di Jawa, tapi masih ada sejumlah tantangan mulai dari kualitas hingga daya saing.
kumparanBISNIS
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita dalam gelaran Peresmian Balai Pemberdayaan Industri Persepatuan Indonesia (BPIPI) di Sidoarjo, Selasa (4/11/2025). Foto: Widya Islamiati/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita dalam gelaran Peresmian Balai Pemberdayaan Industri Persepatuan Indonesia (BPIPI) di Sidoarjo, Selasa (4/11/2025). Foto: Widya Islamiati/kumparan
Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita membeberkan saat ini ada 23 ribu merek alas kaki di Indonesia. Berdasarkan data Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham), merek mereka terdaftar dalam periode 10 tahun yaitu per Desember 2021 sampai Desember 2031.
β€œ(Ada) 23.000 merek, tentu dari berbagai merek tersebut banyak di antaranya yang sudah kita kenal, banyak di antaranya yang sudah menjadi prevensi masyarakat karena memang produk-produknya berkualitas tinggi, harganya juga relatif baik dan mudah didapatkan,” tutur Agus dalam gelaran Peresmian Balai Pemberdayaan Industri Persepatuan Indonesia (BPIPI) di Sidoarjo, Selasa (4/11).
Agus menyebut beberapa merek sepatu atau alas kaki yang cukup sering ditemui di baik di ritel maupun marketplace, seperti Eagle, Kasogi, Ardiles, Brodo, Pakalolo, Buccheri, Prabu, Ortuseight, League, Piero juga 910.
Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Reni Yanita mengatakan sebanyak 80 persen dari 23.000 merek alas kaki di Indonesia itu diproduksi di Pulau Jawa.
"da di Kota Mojokerto, Magetan. Pokoknya yang memang awalnya kan harus kulit gitu ya, kulit kan produk hilirnya ada tas, ada alas kaki, ada fashion, jaket, itu dia berkemasan,” tutur Reni ditemui di tempat yang sama.
Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Reni Yanita usai gelaran Peresmian Balai Pemberdayaan Industri Persepatuan Indonesia (BPIPI) di Sidoarjo, Selasa (4/11/2025). Foto: Widya Islamiati/kumparan

Daya Saing Jadi Tantangan

Meski demikian, Reni mengatakan masih ada tantangan besar bagi industri persepatuan nasional, yaitu memastikan produk memiliki kualitas dan daya saing komersial.
Reni mengatakan upaya dari Kemenperin untuk menghadapi tantangan tersebut salah satunya dengan memperkuat pengembangan industri alas kaki melalui Balai Pemberdayaan Industri Persepatuan Indonesia (BPIPI) di Sidoarjo, Jawa Timur.
β€œSekarang itu bagaimana ketika kita punya merek, komersialisasinya jangan hanya merek saja. Makanya lewat BPIPI ada pelatihan, ada coaching, tujuannya supaya merek ini diiringi dengan kualitas,” ujarnya.
BPIPI diresmikan oleh Menperin Agus Gumiwang disaksikan oleh jajaran Dirjen dan perwakilan pemerintah daerah sekitar Jakarta Timur pada Selasa (4/11).
Ilustrasi pabrik sepatu. Foto: Shutterstock
BPIPI menjadi pusat pelatihan dan inovasi industri alas kaki nasional. Hingga 2025, balai ini telah melakukan pendampingan kepada lebih dari 13 ribu SDM industri alas kaki, terdiri dari 3.608 pengusaha IKM dan 9.396 tenaga kerja terampil di berbagai daerah.
Selain pelatihan, BPIPI juga memiliki laboratorium sertifikasi produk keselamatan (safety suits) yang menjadi satu-satunya di Indonesia.
Reni juga melihat potensi pasar dalam negeri masih sangat besar dan perlu dikuasai oleh merek-merek lokal. Namun, tak sedikit produsen yang juga mulai menembus pasar ekspor dengan segmen khusus, seperti produk custom atau handmade.
β€œKalau dilihat, pasar kita kan besar, minimal di dalam negeri dulu kita merajai. Tapi ada juga beberapa merek yang memang custom, seperti Sagara, yang fokus pada ekspor. Jadi mereka sudah bersaing secara global,” jelasnya.
Trending Now