Ada Negosiasi Tarif Trump, Ekspor RI ke AS Anjlok 12,39 Persen pada Agustus 2025

1 Oktober 2025 14:37 WIB
Β·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ada Negosiasi Tarif Trump, Ekspor RI ke AS Anjlok 12,39 Persen pada Agustus 2025
Meski neraca perdagangan RI surplus, tapi ekspor ke AS anjlok secara bulanan karena tarif impor Trump.
kumparanBISNIS
Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto. Foto: Carlos Barria/REUTERS dan ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari
zoom-in-whitePerbesar
Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto. Foto: Carlos Barria/REUTERS dan ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekspor Indonesia ke Amerika Serikat (AS) anjlok sebesar 12,39 persen secara bulanan (month-to-month/mtm), usai adanya negosiasi penurunan tarif impor yang ditetapkan Presiden AS Donald Trump.
Deputi Bidang Statistik Produksi BPS, M Habibullah, mengatakan ekspor barang Indonesia ke AS mengalami penurunan secara bulanan pada Agustus 2025, namun masih naik jika dilihat secara tahunan.
"Ekspor ke Amerika Serikat pada bulan Agustus tahun 2025 mencapai USD 2,72 miliar, turun sebesar 12,39 persen dibanding bulan sebelumnya month-to-month, dan naik sebesar 2,96 persen untuk year-on-year," jelasnya saat rilis BPS, Rabu (1/10).
Habibullah menjelaskan, sepanjang Januari-Agustus 2025, neraca perdagangan Indonesia-AS mengalami surplus terutama pada komoditas mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya (HS 85) sebesar USD 3,07 miliar, kemudian pakaian dan aksesoris rajutan (HS 61) dengan surplus USD 1,86 miliar, serta komoditas alas kaki (HS 64) mencapai USD 1,82 miliar.
Deputi Bidang Statistik Produksi BPS M. Habibullah di Kantor Pusat BPS, Selasa (8/4). Foto: Ave Airiza/kumparan
Sementara komoditas yang mengalami defisit perdagangan adalah biji dan buah mengandung minyak (HS 12) sebesar USD 0,65 miliar, bahan bakar mineral (HS 27) defisit USD 0,33 miliar, serta komoditas ampas dan industri makanan (HS 23) sebesar USD 0,33 miliar.
BPS mencatat neraca perdagangan Indonesia pada Agustus 2025 secara bulanan mengalami surplus sebesar USD 5,49 miliar dan secara kumulatif (Januari-Agustus 2025) sebesar USD 29,14 miliar, menjadi surplus terbesar sejak November 2022.
Sepanjang Januari-Agustus 2025, nilai ekspor Indonesia tercatat sebesar USD 185,13 miliar, meningkat 7,72 persen dibanding periode yang sama tahun 2024, sementara nilai impor mencapai USD 155,9 miliar, naik 2,05 persen.
Sebelumnya, Kementerian Perdagangan (Kemendag) mengatakan negosiasi pemerintah Indonesia dengan Amerika Serikat (AS) terkait tarif impor masih terus berlanjut hingga melewati tenggat pada 1 September 2025.
Dirjen Perundingan Perdagangan Internasional Kemendag, Djatmiko Bris, mengatakan setiap negara pasti memperjuangkan kepentingan dan keinginannya dalam negosiasi ini, sehingga negosiasi masih terus berlanjut. Dia juga menyoroti gencatan perang tarif yang disepakati AS dengan China selama 90 hari.
β€œ(Target negosiasi rampung 1 September?) Masih berunding. Kayak (dengan) China aja mundur juga, (jadi) November,” kata Djatmiko di Kantor Kemendag, Jakarta, Kamis (28/8).
Djatmiko mengaku belum bisa memperkirakan kapan negosiasi ini akan rampung atau target tenggat waktu terbaru yang dibidik pemerintah untuk menyelesaikan negosiasi ini.
Presiden Donald Trump menunjukkan dokumen yang telah ditanda tangani mengenai tarif impor baru saat "Make America Wealthy Again" di Gedung Putih, Washington DC, Amerika Serikat, Rabu (2/4/2025). Foto: Brendan Smialowski/AFP
Hingga kini, pemerintah masih berupaya mendapatkan tarif impor yang lebih baik dari yang ditetapkan saat ini sebesar 19 persen. Salah satunya soal beberapa komoditas unggulan Indonesia yang ditargetkan bisa mendapatkan tarif 0 persen.
Komoditas-komoditas tersebut utamanya yang dibutuhkan oleh AS dan tidak diproduksi di sana. Dengan demikian pengenaan tarif 0 persen untuk impor dari Indonesia tidak akan mengganggu kinerja industri lokal AS.
β€œIntinya yang menjadi andalan Indonesia intinya kita sampaikan untuk dipertimbangkan untuk mendapatkan tarif yang baik, yang lebih bagus dari Amerika. Dan tentunya itu didasarkan oleh alasan-alasan yang mendukung pemerintah Indonesia yang mestinya bisa dipahami oleh Amerika,” jelasnya.
Trending Now