ADB–Bank Dunia Pertimbangkan Kolaborasi untuk Proyek di Indonesia
4 Desember 2025 10:40 WIB
·
waktu baca 3 menit
ADB–Bank Dunia Pertimbangkan Kolaborasi untuk Proyek di Indonesia
ADB membuka peluang kolaborasi dengan Grup Bank Dunia untuk sejumlah proyek di Indonesia.kumparanBISNIS

Asian Development Bank (ADB) membuka peluang kolaborasi dengan Grup Bank Dunia untuk sejumlah proyek di Indonesia. Namun, pembahasan masih berlangsung di level awal dan belum mengerucut pada sektor tertentu.
Director General for Pacific ADB, Emma Veve, mengatakan kerja sama lintas lembaga ini tengah disiapkan secara bertahap bersama negara-negara anggota, termasuk Indonesia.
“Ini masih dalam tahap pengembangan. Kami sedang berdiskusi dengan semua pemerintah kami, termasuk Bank Dunia, untuk mengidentifikasi proyek-proyek ini. Namun saat ini, kami tidak ingin menyebutkan negara atau proyek tertentu. Sebagai informasi, ada sejumlah proyek yang akan masuk ke sistem kami masing-masing dalam waktu dekat,” kata Emma dalam konferensi pers, Kamis (4/12).
Emma menegaskan bahwa ADB belum dapat membagi detail karena seluruh alur kerja masih disusun. Namun secara umum, kerangka kerja bersama (full mutual reliance framework/FMRF) dirancang agar proyek dapat diproses lebih cepat, efisien, dan menggunakan satu set prosedur yang sama.
Assistant General Counsel ADB, Kostradia Muklisa, menegaskan bahwa FMRF dirancang fleksibel sehingga dapat digunakan untuk berbagai bentuk pembiayaan.
Ia menekankan bahwa kerangka kolaborasi ini tidak dibatasi oleh sektor tertentu, ukuran proyek, ataupun bentuk pinjamannya. Menurutnya, ruang kerja sama ini terbuka sepenuhnya bagi negara-negara yang ingin memanfaatkannya, termasuk Indonesia.
“Selain itu, terdapat saling ketergantungan dan saling menguntungkan dalam pembiayaan lembaga kami. Misalnya, kami dapat menggunakan FMRF untuk pinjaman berbasis kebijakan, pinjaman berbasis hasil, dan pinjaman investasi. Jadi, FMRF sangat terbuka dan luas untuk proyek-proyek di negara-negara berkembang anggota kami,” kata Kostradia.
Dengan fleksibilitas itu, pemerintah dapat mengusulkan beragam program tanpa khawatir harus menyesuaikan sektor tertentu.
Contoh Penerapan: Fiji dan Tonga, Vietnam Menyusul
Walau belum ada proyek spesifik untuk Indonesia, ADB memberi gambaran bagaimana FMRF sedang diuji coba di wilayah lain. Dua proyek pertama dalam kerangka FMRF berjalan di kawasan Pasifik.
Salah satunya adalah proyek Fintech for Inclusion Transformation/FIT di Fiji dan negara-negara sekitarnya di sektor kesehatan. Proyek lainnya berada di Tonga, yang berfokus pada pembangunan perkotaan dan konektivitas.
Kedua contoh itu dipilih untuk menunjukkan bahwa FMRF dapat diterapkan pada sektor yang sangat berbeda mulai dari layanan kesehatan hingga urban development dan infrastruktur konektivitas.
Vietnam juga sedang mengembangkan jalur kerja serupa, tetapi ADB belum membeberkan proyek spesifik karena tahapannya masih awal, sama seperti Indonesia.
Menurut Emma, tujuan utama dari kerangka ini adalah mempercepat penyaluran manfaat kepada masyarakat. Dengan penggunaan satu sistem prosedur, proses administrasi menjadi lebih efisien dan waktu penyelesaian proyek lebih singkat.
“Dari perspektif klien, manfaatnya adalah administrasi yang lebih efisien, penyelesaian proyek yang lebih cepat, melalui penggunaan satu set prosedur, dan inilah yang sebenarnya telah diminta oleh klien kami berdua dalam jangka waktu yang lama, dan kami berharap ini berarti manfaat proyek dapat dirasakan masyarakat lebih cepat,” kata Emma.
