Alasan Bisnis Warung Sembako Masih Tetap Menjanjikan
12 September 2024 21:06 WIB
·
waktu baca 4 menit
Alasan Bisnis Warung Sembako Masih Tetap Menjanjikan
Bisnis warung sembako dan produk Fast Moving Consumer Goods (FMCG) masih merupakan salah satu bisnis yang menjanjikan. kumparanBISNIS

Bisnis warung sembako dan produk Fast Moving Consumer Goods (FMCG) masih merupakan salah satu bisnis yang menjanjikan.
Jenis produk yang merupakan kebutuhan harian masyarakat dan perputaran barang yang cepat, menjadikan bisnis toko sembako dan produk FMCG memberikan peluang besar untuk meraih kesuksesan dan omzet yang tinggi.
Berdasarkan data BPS di Februari 2024, terdapat 149,38 juta orang angkatan kerja, namun sekitar 4,82% masih dikategorikan pengangguran terbuka. Ironisnya, 5,89 juta di antara berada di perkotaan.
Atas kondisi itu, pengangguran terbuka bisa memulai usaha dengan membuka warung sembako.
“Tidak selamanya membangun usaha sendiri itu lebih buruk ketimbang menjadi pengejar karier korporasi, dan membuka warung sembako adalah salah satu opsi yang menarik,” ungkap Brand Marketing Lead AwanToko, Agung Priambodo, Kamis (12/9/2024).
Menurut Agung, ada lima hal yang perlu dibandingkan antara menjadi pemilik warung sembako dan karyawan.
1. Minat dan mimpi
Minat dan mimpi sangat penting untuk menentukan kehidupan dan karier seseorang. Mengetahui apa yang benar-benar disukai dapat membantu memilih antara membuka bisnis atau bekerja di kantor.
Memahami tujuan jangka panjang akan membantu untuk dapat memilih jalur yang sesuai untuk mencapainya. Jika mimpi sesorang adalah menjadi pengusaha, membuka usaha mungkin menjadi pilihan yang lebih baik dan logis.
2. Risiko dan manfaat pada aspek keuangan
Saat memutuskan untuk memulai usaha toko sembako, risiko finansial yang mungkin dihadapi adalah kondisi di awal-awal, yang mungkin tidak akan memiliki banyak uang.
Sebagian besar dana akan digunakan untuk modal awal membangun bisnis, membeli stok barang, dan mengelola operasional. Bahkan, ketika bisnis sudah mulai berjalan, ada kemungkinan besar yang akan tercampur, antara uang pribadi dan uang bisnis, sehingga dapat membuat keuangan menjadi lebih rumit.
Namun, apabila mengelola keuangan dengan baik dan terstruktur, bisnis akan memiliki peluang untuk berkembang pesat. Keuntungan yang diperoleh dari bisnis tersebut bisa menjadi jauh lebih besar dari gaji yang diperoleh jika bekerja di kantor.
3. Komitmen terhadap waktu
Ketika bekerja di kantor, jam kerja sudah ditentukan oleh perusahaan. Hal ini bisa membatasi fleksibilitas dalam mengatur waktu untuk melakukan aktivitas lain di luar pekerjaan. Seperti mengurus kebutuhan pribadi, keluarga, atau bahkan mengejar hobi.
Namun, ketika menjadi pengusaha toko sembako, memiliki kendali besar atas waktu karena dapat merencanakan jam kerja yang sesuai dengan kebutuhan bisnis, dan juga dapat melakukan kegiatan lain. Fleksibilitas waktu ini bisa menjadi nilai tambah bagi banyak orang, terutama bagi yang menghargai keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.
4. Gaya hidup
Sebagai seorang pengusaha toko sembako, harus berhati-hati dalam memilih dan menentukan gaya hidup. Alasannya karena keuangan yang cenderung bersifat dinamis.
Pemilihan gaya hidup harus sejalan dengan pendapatan yang dihasilkan dari bisnis. Harus memprioritaskan keuangan bisnis agar tetap berjalan dengan lancar dan berkembang.
Sementara itu, ketika bekerja di kantor, keuangan lebih stabil. Penghasilan cenderung pasti, karena memiliki gambaran yang jelas mengenai sumber penghasilan. Ini dapat memberikan memberikan kebebasan dalam menentukan gaya hidup tanpa perlu terlalu mengkhawatirkan fluktuasi keuangan.
5. Kepemilikan Aset
Jika memutuskan untuk membuka usaha toko sembako, JUGA dapat memiliki kendali atas berbagai aset yang dapat menjadi sumber kekayaan dan stabilitas jangka panjang.
Contohnya seperti inventaris bangunan, dan stok barang. Keduanya merupakan aset yang memiliki nilai berkelanjutan dan dapat digunakan sebagai jaminan atau investasi jangka panjang.
Sedangkan, pekerja kantoran biasanya tidak memiliki kepemilikan aset dalam bisnis yang dikerjakan. Gaji yang diterima adalah bentuk kompensasi sebagai imbalan atas pekerjaan yang dilakukan, dan tidak ada kepemilikan dalam aset atau saham perusahaan. Oleh karena itu, tidak memiliki keuntungan finansial yang terkait dengan kepemilikan aset bisnis.
Menurut Agung, lima aspek di atas dapat memberikan pandangan mengenai perbedaan antara menjadi pengusaha toko sembako dan menjadi pekerja kantoran. Karena yang paling penting adalah merencanakan karier dengan cermat, dengan mempertimbangkan semua faktor yang relevan, dan disesuaikan dengan tujuan.
“Dukungan teknologi dan permodalan yang mudah akan sangat membantu untuk menjadi pengusaha Warung yang sukses. Untuk itulah AwanToko hadir agar pemilik Warung dan juga Grosir bisa makin mudah menjalankan bisnisnya dan semakin besar keuntungannya” tutup Agung.
