Amran Ungkap Pemulihan Pertanian Pascabencana Sumatera Butuh Dana Rp 6,6 T
14 Januari 2026 15:06 WIB
ยท
waktu baca 3 menit
Amran Ungkap Pemulihan Pertanian Pascabencana Sumatera Butuh Dana Rp 6,6 T
Amran mengungkap kebutuhan anggaran untuk pemulihan sektor pertanian pascabencana di Sumatera capai Rp 6,6 triliun.kumparanBISNIS

Anggaran tersebut terdiri atas Rp 1,49 triliun dari alokasi APBN Kementerian Pertanian Tahun Anggaran 2026 dan usulan tambahan anggaran sebesar Rp 5,1 triliun untuk menangani dampak bencana di tiga provinsi, yakni Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Hal tersebut disampaikan Amran dalam rapat kerja bersama pimpinan dan anggota Komisi IV DPR terkait upaya pemulihan sektor pertanian, perikanan, dan kehutanan pascabencana.
"Dengan mengoptimalkan anggaran yang tersedia di tahun 2026 maupun dengan mengusulkan anggaran tambahan apabila memungkinkan alokasi anggaran APBN Kementerian Pertanian 2026 yang siap digulirkan untuk pemulihan pasca bencana mencapai Rp 1,49 triliun," ucap Amran.
Anggaran Rp 1,49 triliun tersebut dialokasikan untuk rehabilitasi lahan sawah rusak ringan, sedang, dan jaringan irigasi sebesar Rp 736,21 miliar, bantuan benih tanaman pangan Rp 68,6 miliar, rehabilitasi kawasan perkebunan Rp 50,46 miliar, serta penyediaan alat dan mesin pertanian (alsintan), pupuk, dan pestisida sebesar Rp 641,25 miliar.
"Alokasi bantuan-bantuan tersebut kami prioritaskan pada wilayah-wilayah yang paling terdampak di ketiga provinsi, khususnya lahan sawah yang rusak ringan, sedang," kata dia.
Namun demikian, Amran menilai alokasi anggaran bersumber dari APBN Kementan 2026 itu belum cukup untuk menutup seluruh kebutuhan pemulihan sektor pertanian akibat dampak bencana yang cukup luas. Oleh karena itu, Kementerian Pertanian mengusulkan tambahan anggaran sebesar Rp 5,1 triliun.
"Selain dengan mengoptimalkan alokasi anggaran yang tersedia saat ini pada APBN Kementerian Pertanian 2026, kami memperkirakan kebutuhan anggaran untuk membantu pemulihan sektor pertanian di tiga provinsi terdampak tersebut memerlukan anggaran tambahan Rp 5,1 triliun," lanjutnya.
Usulan tambahan anggaran difokuskan untuk rehabilitasi tambahan lahan sawah senilai Rp 3,4 triliun, rehabilitasi kawasan perkebunan Rp 456,4 miliar, bantuan benih hortikultura Rp 19,1 miliar, bantuan pakan ternak Rp 262,8 miliar, penyediaan sarana dan prasarana pertanian Rp 674,7 miliar, serta rehabilitasi bangunan dan sarana penunjang pertanian dan kegiatan lainnya sebesar Rp 291 miliar.
"Untuk itu pada kesempatan ini kami memohon dukungan dari pimpinan anggota Komisi IV DPR untuk mendukung adanya alokasi tambahan anggaran dalam rangka mempercepat proses pemulihan pasca bencana yang terjadi, khususnya pemulihan sektor pertanian," ucap Mentan.
107,3 Ribu Hektare Sawah Terdampak
Berdasarkan data per 13 Januari 2026 yang dipaparkan Amran, luas lahan sawah yang terdampak bencana di tiga provinsi di Sumatera mencapai 107,3 ribu hektare.
Terdiri atas sawah rusak ringan seluas 56 ribu hektare, rusak sedang 22,1 ribu hektare, dan rusak berat 29 ribu hektare. Dari total lahan sawah terdampak, luas areal tanaman padi dan jagung yang mengalami gagal panen mencapai 44,6 ribu hektare.
Selain sawah, dampak bencana juga meluas ke sektor perkebunan dan hortikultura. Luas lahan perkebunan terdampak pada tanaman kopi, kakao, kelapa dalam, dan komoditas lainnya di luar lahan sawah mencapai 29,3 ribu hektare.
Sementara itu, lahan hortikultura yang terdampak pada tanaman sayuran, buah, dan tanaman obat tercatat mencapai sekitar 1.800 hektare.
Pada subsektor peternakan, Kementan mencatat jumlah ternak mati dan hilang yang terdiri atas sapi, kerbau, kambing, domba, dan unggas mencapai lebih dari 820 ribu ekor.
Kerusakan juga terjadi pada sarana dan prasarana penunjang pertanian. Rumah potong hewan (RPH) rusak sebanyak 58 unit, alsintan hilang atau rusak sekitar 2.300 unit, balai penyuluhan pertanian (BPP) rusak 74 unit, bendungan rusak 3 unit, jaringan irigasi rusak sepanjang 153 kilometer, serta jalan produksi pertanian rusak sebanyak 820 unit.
