Apindo: Dampak Konflik AS–Venezuela ke Perdagangan Indonesia Masih Terbatas

5 Januari 2026 19:00 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Apindo: Dampak Konflik AS–Venezuela ke Perdagangan Indonesia Masih Terbatas
Apindo menyebut dampak konflik AS-Venezuela masih terbatas ke perdagangan Indonesia.
kumparanBISNIS
Ketua Penyelenggara B20 Indonesia Shinta Kamdani. Foto: B20
zoom-in-whitePerbesar
Ketua Penyelenggara B20 Indonesia Shinta Kamdani. Foto: B20
Serangan Amerika Serikat (AS) ke Venezuela yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolas Maduro membuat ketegangan geopolitik kedua negara perlu dicermati dari perspektif kepentingan Indonesia, terutama terkait hubungan perdagangan.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta Kamdani, menyatakan hubungan perdagangan Indonesia–Venezuela saat ini masih tergolong kecil terhadap total perdagangan nasional. Namun, ketegangan geopolitik antara AS dan Venezuela memang perlu dicermati secara serius.
“Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Venezuela memang perlu dicermati secara serius, namun juga harus ditempatkan secara proporsional. Secara struktur, hubungan perdagangan Indonesia-Venezuela masih relatif kecil dalam konteks total perdagangan nasional,” kata Shinta kepada kumparan, Senin (5/1).
Pihaknya mencatat, total nilai perdagangan Indonesia–Venezuela pada 2024 berada di sekitar USD 69,2 juta dengan laju pertumbuhan periode 2020–2024 mencapai 25,4 persen. Pada periode Januari–Oktober 2025, nilai perdagangan tersebut meningkat menjadi sekitar USD 82,7 juta atau tumbuh 44,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Ekspor Indonesia ke Venezuela sendiri tercatat naik dari sekitar USD 27,7 juta pada 2023 menjadi USD 48,8 juta pada 2024 atau tumbuh sekitar 76 persen. Tren tersebut berlanjut pada Januari–Oktober 2025 dengan nilai ekspor mencapai sekitar USD 68,7 juta, meningkat sekitar 80,25 persen secara tahunan. Meski demikian, kontribusi Venezuela dalam peta ekspor Indonesia secara keseluruhan masih sangat terbatas.
Dengan struktur tersebut, neraca perdagangan Indonesia–Venezuela justru mencatat surplus yang semakin besar. Surplus perdagangan meningkat dari sekitar USD 7,3 juta pada 2023 menjadi USD 28,5 juta pada 2024, dan kembali melonjak menjadi sekitar USD 54,7 juta pada periode Januari–Oktober 2025.
Melihat komposisi itu, Shinta menilai dampak langsung ketegangan geopolitik AS–Venezuela terhadap perdagangan dan investasi Indonesia dinilai masih terbatas. Namun, sejumlah risiko tetap perlu diantisipasi. Ketegangan geopolitik berpotensi menahan laju ekspor Indonesia ke Venezuela.
“Mengingat pertumbuhan ekspor yang sangat tinggi dalam dua tahun terakhir sangat bergantung pada stabilitas ekonomi dan daya beli di Venezuela. Dari sisi impor, terdapat risiko sektoral tertentu, misalnya pada komoditas kakao, yang meskipun nilainya kecil secara agregat, perlu dimitigasi oleh pelaku usaha terkait melalui diversifikasi sumber pasokan,” jelas Shinta.
Kemudian, di luar dampak langsung, Shinta menyatakan eskalasi geopolitik juga berpotensi memengaruhi Indonesia melalui jalur tidak langsung, terutama dari sisi sentimen global. Ketidakpastian geopolitik dapat meningkatkan volatilitas harga energi dan komoditas, memengaruhi biaya logistik, pembiayaan, serta transaksi internasional.
“Dalam konteks energi, dunia usaha juga mencermati potensi dampak lanjutan terhadap harga energi dan biaya produksi, yang apabila berlangsung berkepanjangan dapat memengaruhi inflasi dan daya beli masyarakat,” lanjut Shinta.
Foto udara pembangunan proyek LRT Jakarta Fase 1B Rute Velondrome-Rawamangun di kawasan Pramuka, Matraman, Jakarta, Selasa (22/7/2025). Foto: Darryl Ramadhan/kumparan
Oleh karena itu, stabilitas makroekonomi dan koordinasi kebijakan dinilai menjadi kunci dalam meredam dampak lanjutan. Kata Shinta, dunia usaha sedang mendorong langkah-langkah antisipatif, antara lain melalui diversifikasi pasar ekspor dan sumber impor, penguatan manajemen risiko rantai pasok, serta peningkatan efisiensi dan daya saing industri domestik.
“Kami memandang bahwa meskipun ketegangan AS-Venezuela perlu diwaspadai, eksposur langsung Indonesia saat ini masih relatif terbatas, dan risiko yang ada masih dapat dikelola melalui koordinasi kebijakan yang baik serta kesiapan dunia usaha,” tutur Shinta.
Ke depan, pihaknya akan terus mencermati perkembangan geopolitik global karena berpotensi menambah ketidakpastian dan volatilitas perekonomian global. “Dengan harapan agar dinamika yang terjadi tidak semakin menambah ketidakpastian dan volatilitas perekonomian global yang pada akhirnya dapat berdampak pada kinerja dunia usaha di Indonesia,” sebut Shinta.
Berdasarkan catatannya, pada 2024, Venezuela berada di peringkat ke-108 dari 201 negara tujuan ekspor Indonesia dengan pangsa sekitar 0,02 persen dari total ekspor nasional. Di kawasan Amerika Latin dan Karibia, Venezuela menempati peringkat ke-17 dari sekitar 33 negara dengan pangsa sekitar 1,6 persen.
Komoditas ekspor utama Indonesia ke Venezuela pun didominasi oleh produk manufaktur dan barang konsumsi, seperti sabun dan preparat pembersih, kendaraan dan suku cadang, serat stapel buatan, pakaian jadi non-rajutan, serta kertas dan karton.
Sementara dari sisi impor, nilainya relatif terbatas. Pada 2024, impor dari Venezuela tercatat sekitar USD 20,3 juta dan menurun menjadi sekitar USD 14,0 juta pada Januari–Oktober 2025, yang sebagian besar berupa kakao, produk cokelat, dan sayuran.
Trending Now