Asosiasi Emiten Respons Rencana BEI Siapkan Insentif Buat Obligasi Berkelanjutan

11 Juni 2025 10:48 WIB
ยท
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Asosiasi Emiten Respons Rencana BEI Siapkan Insentif Buat Obligasi Berkelanjutan
Asosiasi Emiten Indonesia (AEI) merespons rencana Bursa Efek Indonesia (BEI) memberi insentif perusahaan yang menerbitkan obligasi berkelanjutan.
kumparanBISNIS
Layar digital menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (8/4/2025). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Layar digital menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (8/4/2025). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
Asosiasi Emiten Indonesia (AEI) merespons rencana Bursa Efek Indonesia (BEI) terkait pemberian insentif baru bagi perusahaan yang ingin menerbitkan obligasi berkelanjutan (sustainability bond).
Kebijakan ini dinilai BEI sebagai langkah untuk memperluas pasar keuangan berwawasan lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) di Indonesia.
Selama ini, insentif hanya berlaku untuk green bond sesuai ketentuan Pasal 17 (1) Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 60/POJK.04/2017.
Green bond merupakan instrumen utang yang hasilnya digunakan khusus untuk proyek-proyek ramah lingkungan. Namun, dengan perluasan ke sustainability bond, cakupan pembiayaan tidak hanya mencakup lingkungan, tetapi juga aspek sosial dan tata kelola yang baik.
Direktur AEI Gilman Pradana Nugraha menyambut baik langkah BEI. Menurutnya, kebijakan ini bisa memberikan pemahaman lebih luas terkait tantangan keberlanjutan.
โ€œAEI pada dasarnya menyambut baik inisiatif BEI untuk memperluas insentif dari green bond ke sustainability bond secara umum. Langkah kebijakan ini bisa memberikan pemahaman jika tantangan keberlanjutan tidak hanya terbatas pada isu lingkungan, tetapi juga mencakup aspek tata kelola (governance) dan sosial,โ€ kata Gilman kepada kumparan, Rabu (12/6).
Kata Gilman, dengan insentif yang lebih luas, emiten-emitan akan memiliki lebih banyak ruang untuk membiayai proyek-proyek berkelanjutan secara menyeluruh. Hal ini berpotensi memperkuat peran pasar modal dalam mendukung agenda pembangunan nasional yang berkelanjutan.
Namun begitu, Gilman menilai penting untuk merancang insentif dengan hati-hati mengingat cakupan sustainability bond yang lebih kompleks dibanding green bond.
โ€œJika terkait cakupan sih, cakupan sustainability bond memang akan lebih luas dibanding green bond, mungkin perlunya pendekatan yang cermat dalam desain insentif dengan tetap memperhatikan integritas dari setiap aspek keberlanjutan,โ€ jelasnya.
Terkait minat emiten, Gilman mengungkapkan sudah ada anggota AEI yang menerbitkan Sustainable Linked Bond.
Meski demikian, kata dia, tantangan akan tetap ada. Khususnya dalam penyusunan framework atau kerangka kerja untuk penerbitan sustainability bond.
"Kalau di green bond kan parameternya sudah bisa dibilang baku/terukur (efisiensi energi, karbon, dll), terkait sustainability ini kan jauh lebih luas jadi baik secara internal or eksternal akan melibatkan banyak pihak juga. Karena perlu pendekatan yang lebih luas dan terintegrasi antar faktor ESG,โ€ ucapnya.
Gilman optimistis jika kebijakan ini resmi diterapkan, akan mendorong peningkatan jumlah emiten yang masuk ke pasar ESG. Dilanjut Gilman, tentunya juga bisa menjadi sinyal positif bagi investor institusional domestik maupun internasional bahwa market Indonesia terus bergerak menuju arah yang lebih berkelanjutan.
Trending Now