Bahlil: IPO Perusahaan Panas Bumi Bisa Dongkrak Harga Saham Berkali-kali Lipat

17 September 2025 14:10 WIB
ยท
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Bahlil: IPO Perusahaan Panas Bumi Bisa Dongkrak Harga Saham Berkali-kali Lipat
Menteri ESDM menyebut industri panas bumi punya potensi besar sebagai sumber energi masa depan.
kumparanBISNIS
Foto: Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, dalam acara Indonesia International Geothermal Convention and Exhibition 2025, di JCC Jakarta, Rabu (17/9/2025). Foto: Muhammad Fhandra Hardiyon/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Foto: Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, dalam acara Indonesia International Geothermal Convention and Exhibition 2025, di JCC Jakarta, Rabu (17/9/2025). Foto: Muhammad Fhandra Hardiyon/kumparan
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyebut industri panas bumi (geotermal) memiliki potensi besar menjadi sumber energi masa depan sekaligus peluang investasi yang menjanjikan.
Ia bahkan mengeklaim harga saham perusahaan panas bumi berpotensi naik berkali-kali lipat jika melakukan penawaran umum perdana (initial public offering/IPO).
"Secara ekonomis memang teman-teman pengusaha yang telah punya geothermal, begitu IPO pasti harga sahamnya naik berkali-kali lipat," ujar Bahlil dalam acara Indonesia International Geothermal Convention and Exhibition 2025, di JCC Jakarta, Rabu (17/9).
Bahlil menjelaskan, saat ini Indonesia memiliki cadangan panas bumi terbesar di dunia, sekitar 27 gigawatt atau 27 ribu megawatt. Namun, hingga saat ini baru sekitar 10 persen yang berhasil dikelola.
Dia menyebut panas bumi memiliki peran strategis sebagai salah satu sumber energi baru terbarukan yang akan menjadi pilar utama transisi energi nasional. Menurutnya, pengembangan energi bersih kini menjadi tren global yang tidak bisa dihindari.
"Dan ini adalah energi masa depan. Di saat bersamaan tema-tema green industry, green energy, green job, ini sekarang lagi membooming. Di hampir semua belahan dunia, ketika orang berbicara tentang green, itu adalah sesuatu yang baik," ujar dia.
Meski potensinya besar, Bahlil mengakui masih ada sejumlah hambatan pengembangan panas bumi di Indonesia. Salah satunya adalah kebutuhan belanja modal (capital expenditure/CAPEX) yang besar serta regulasi yang dinilai rumit oleh investor.
"Ketika saya masuk jadi Menteri ESDM, peraturannya macam-macam. Dan salah satu investor itu tidak sukai adalah aturan yang berbelit-belit," jelasnya.
Selain itu, jaringan transmisi listrik yang belum terhubung ke lokasi-lokasi sumber panas bumi juga menjadi kendala.
Dia menegaskan perlunya percepatan pembangunan infrastruktur transmisi agar potensi panas bumi bisa dimanfaatkan maksimal. Dengan perbaikan regulasi dan dukungan infrastruktur, kata dia, pengembangan panas bumi bisa menjadi investasi strategis yang memberi keuntungan besar.
"Makanya barang ini seperti emas, namanya emas uap. Ini emas uap, dan harganya pun yang pemerintah telah terapkan cukup ekonomis," lanjut Bahlil.
Trending Now