Bahlil Ungkap Sulitnya Garap Proyek Petrokimia di Cilegon yang Sempat Mangkrak
6 November 2025 14:37 WIB
Β·
waktu baca 2 menit
Bahlil Ungkap Sulitnya Garap Proyek Petrokimia di Cilegon yang Sempat Mangkrak
Bahlil mengungkapkan tantangan saat proses membangun proyek pabrik Petrokimia.kumparanBISNIS

Bahlil mengungkapkan proyek dengan investasi sekitar USD 4 miliar atau sekitar Rp 65 triliun tersebut sempat mangkrak selama 5 hingga 6 tahun. Namun kini telah diresmikan oleh Presiden Prabowo Subianto Kamis (6/11).
βBapak Presiden, kami laporkan proyek ini sempat mangkrak selama 5 sampai 6 tahun. Kami (Bahlil) jadi Kepala BKPM, setelah itu membuat Satgas Investasi. Jadi yang menyelesaikan masalah tanah ini, adalah kepolisian sama jaksa dan ini banyak yang masuk sekolah gara-gara proyek ini waktu proses pembangunannya,β ujar Bahlil saat peresmian Pabrik New Ethylene Project PT LCI, di Cilegon, Banten, Kamis (6/11).
Bahlil menjelaskan pada 2020 hingga 2021 atau pada saat pandemi COVID-19, pihaknya tetap bolak-balik ke Korea Selatan (Korsel) untuk mengurus proyek tersebut. Ia mengatakan saat itu salah satu stafnya terkena COVID-19 di sana dan tinggal sementara di Korsel.
βTapi demi membangun kebersamaan Korea dan Indonesia, kita maju terus, pantang mundur. Saya masih ingat betul pada tahun 2020, ini adalah pertemuan Presiden Indonesia dan Presiden Korea, Presiden Moon waktu itu di Busan untuk kita melakukan proyek ini,β ungkap Bahlil.
Setelah bolak-balik mengunjungi Korsel, Bahlil merasa lega karena pada 2022 konstruksi proyek yang masuk dalam deretan Proyek Strategis Nasional (PSN) tersebut dimulai.
βKonstruksi proyek ini mulai tahun 2022 dan berhasil mulai beroperasi pada Oktober 2025 berkolaborasi yang solid antara tenaga ahli Indonesia dan Korea serta dukungan penuh dari pemerintah pusat dan pemerintah daerah,β tutur Bahlil.
Ketika beroperasi penuh, pabrik tersebut akan menghasilkan produk hilirisasi minyak dan gas bumi (migas) senilai USD 2 miliar per tahun, di mana USD 1,4 miliar merupakan substitusi impor dan USD 600 juta berkontribusi pada peningkatan ekspor nasional.
Pabrik ini menggunakan bahan baku berupa Naphta (3,200kTA) (LPG 0~50 persen) menjadi produk hulu dan produk hilir. Adapun produk hulu berupa Ethylene (1,000kTA), Propylene (520kTA), Mixed C4 (320kTA), Pyrolysis Gasoline (675kTA), Pyrolisis Fuel Oil (26kTA), dan Hydrogen (45kTA), serta produk hilir berupa High Density Poly Ethylene (250kTA), Linear Low Density Poly Ethylene (200kTA), Poly Propylene (350kTA), Butadine (140kTA), Raffinate (180kTA), Benzene, Toluene, Xylene (400kTA).
Produk-produk tersebut akan menjadi bahan baku penting pembuatan botol plastik, kabel, bumper mobil, peralatan medis, ban, karet sintetis, pembasmi serangga, dan cat.
