Bali Pick Fresh Dorong Ekspor Buah dan Bunga Edible Lewat Dukungan LPEI

16 Oktober 2025 11:00 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Bali Pick Fresh Dorong Ekspor Buah dan Bunga Edible Lewat Dukungan LPEI
Bali Pick Fresh merupakan mitra binaan dari LPEI yang fokus pada produk fresh, termasuk sayuran, buah, dan bunga yang edible untuk garnish.
kumparanBISNIS
Bali Pick Fresh di Trade Expo Indonesia 2025. Foto: Najma Ramadhanya/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Bali Pick Fresh di Trade Expo Indonesia 2025. Foto: Najma Ramadhanya/kumparan
Bali Pick Fresh, sebuah usaha berbasis sosial (sociopreneur), terus berkomitmen mendukung petani kecil agar mampu meningkatkan kualitas hasil panen mereka hingga layak diekspor.
Managing Farmer Bali Pick Fresh, I Gede Sucahya Jaya atau yang akrab disapa Dede, menjelaskan bahwa Bali Pick Fresh merupakan salah satu mitra binaan dari Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) atau Indonesia Eximbank.
“Kami memfokus untuk (menjual) produk fresh, produk segar. Produk segar ada banyak, tapi kita mengkhususkan di bunga. Bunga edible, kemudian herbs, juga buah-buahan,” ucap Dede dalam gelaran Trade Expo Indonesia 2025 di ICE BSD, Tangerang Selatan, Rabu (15/10).
Ia menerangkan, produk buah-buahan termasuk markisa biasanya berkembang di Taiwan, Kolombia dan Ekuador ini memiliki permintaan tinggi di pasar ekspor, khususnya ke Prancis dan Jerman, dengan volume mencapai sekitar 7 ton per minggu.
Selain buah-buahan, Bali Pick Fresh juga mengekspor bunga edible atau bunga yang bisa dikonsumsi ke Singapura, Hong Kong, Malaysia, dan Makau, seperti baby rose dan microgreens juga dibudidayakan secara lokal dengan konsep “barang impor, harga lokal”, dengan tujuan agar bisa diekspor kembali.
“(Bunga edible) itu sebagai garnish. Biasanya fine dining, Michelin restaurant, hotel 5 star, ya kayak gitu. Supaya harga makanan mereka mahal. Salah satunya garnish, micro green, edible flower,” kata Dede.
Selain itu, Dede menuturkan Bali Pick Fresh juga menanam berbagai tanaman subtropis seperti blackberry, raspberry, dan blueberry melalui riset yang dilakukan selama dua tahun. Tanaman tersebut membutuhkan dataran tinggi dengan ketinggian antara 900 1.200 mdpl agar bisa tumbuh optimal.
Adapun Dede menyebut produknya masih berlabel natural, yakni organik tanpa sertifikasi, karena biaya sertifikasi yang dinilai sangat mahal bagi usaha yang baru memulai ekspor. Oleh karena itu, sebagian besar buyer melakukan kunjungan langsung ke kebun (farm visit) untuk memastikan kualitas produk.
“(Harga sertifikasi) sampai ratusan juta ada, puluhan juta rata-rata. Buat saya yang baru memulai ekspor, berat. Dan (sertifikasi) itu harus diperbarui setiap tahun. Berat. Jadi saya lebih banyak farm visit. Datang aja ke kebun, tes sendiri, kalau cocok, oke,” terang Dede.
Dukungan LPEI Percepat Akses Ekspor
Dede menuturkan, kerja sama dengan Indonesia Eximbank (LPEI) memberikan banyak dukungan, mulai dari pembiayaan, penyediaan alat pertanian, hingga fasilitasi pameran dan program Desa Devisa.
“Mulailah dapat dukungan Dana Devisa. Kemudian alat-alat pertanian untuk kelompok taninya, dukungan pameran, jadi didorong supaya lebih cepat ekspornya. Termasuk pembiayaan juga,” katanya.
Ia menuturkan, dengan adanya dukungan dari LPEI, usahanya dapat melakukan kontrak dengan pembeli, dapat melacak dana atau transaksi, hingga kemudahan dana dalam melakukan ekspor. “Nah itu kelebihan di LPEI dibandingkan yang lain,” kata Dede.
Kendati demikian, Dede juga menyatakan hingga saat ini usahanya masih menghadapi tantangan dalam logistik, terutama untuk produk segar yang membutuhkan pengiriman udara agar tetap terjaga kesegarannya. Saat ini, pengiriman langsung baru bisa dilakukan dari Jakarta dan Bali, sementara di luar negeri, distribusi produk segar masih terkendala karena memerlukan distributor dengan cold storage dan izin khusus.
“Jadi saya kendalanya di situ sekarang, saya masih cari relasi lah di sini,” tambah Dede.
Dalam hal pemasaran, Bali Pick Fresh beroperasi dengan model business-to-business (B2B) dan akan mulai merambah ke business-to-consumer (B2C) secara bertahap. Kemudian untuk promosi, Bali Pick Fresh banyak terlibat dalam kegiatan sponsorship seperti ajang kuliner dan pameran, termasuk mendukung kompetisi MasterChef.
“(Pasar) baru ke Lombok area, Labuan Bajo, Sumba, Semarang. Ya, (rata-rata pasar ekspatriat), target saya sekarang memang ke Jakarta. Makanya di (TEI 2025) sini juga, mulai banyak yang cari tahu, pengin kenal,” kata Dede.
Hingga kini, Bali Pick Fresh telah membina sekitar 54 desa di wilayah Bali, meski tiap desa biasanya hanya memiliki satu hingga dua petani penggarap. Pembinaan dilakukan dengan pendekatan sosial, di mana Dede berperan sebagai “Bapak Asuh” sekaligus pengganti penyuluh lapangan.
Kata Dede, kegiatan seperti Trade Expo Indonesia (TEI) 2025 yang sedang diselenggarakan saat ini sangat bermanfaat untuk pelaku usaha sepertinya, karena dapat bertemu langsung dengan buyer atau pembeli potensial.
“Kita masih menunggu buyernya (sekarang). Saya baru dapat dari dari Algeria. Ini baru satu yang serius menurut saya. Ini satu dari Algeria untuk minta buah. Kemudian (ada yang) bayar existing. Jerman dan Prancis,” jelas Dede.
Ke depan, Dede berharap agar perwakilan Pusat Promosi Perdagangan Indoensia atau ITPC dapat lebih banyak mengadakan event spesifik terkait bisnis ekspor di negara-negara potensial.
“Jadi lebih spesifik kalau kita tahu negara tujuan yang membutuhkan produk. Misalnya buah tropis itu sudah pasti negara Skandinavia, Eastern Europe, itu butuh,” tutur Dede.
Trending Now