Bank Tanah Optimalkan 273 Ribu Ha Lahan untuk Hilirisasi Kelapa-Cengkeh di Malut
23 Oktober 2025 17:33 WIB
·
waktu baca 3 menit
Bank Tanah Optimalkan 273 Ribu Ha Lahan untuk Hilirisasi Kelapa-Cengkeh di Malut
Kesepakatan itu dilakukan Deputi Badan Bank Tanah Hakiki Sudraja, Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda, dan BNI. kumparanBISNIS

Badan Bank Tanah bersama Pemerintah Provinsi Maluku Utara resmi menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) untuk optimalisasi pertanahan dan pengelolaan tanah negara di wilayah Provinsi Maluku Utara. Langkah ini menjadi bagian untuk memperkuat pengelolaan aset tanah negara sekaligus mendukung percepatan pembangunan daerah.
Deputi Bidang Pemanfaatan dan Kerja Sama Usaha Badan Bank Tanah, Hakiki Sudrajat mengatakan kesepakatan ini dilakukan untuk pemanfaatan dan analisis mengenai potensi tanah-tanah yang berada di provinsi Maluku Utara. Ia menilai hal ini tidak hanya sebagai forum investasi melainkan juga semakin memperkuat kolaborasi berbagai sektor.
“Kegiatan ini diharapkan semakin memperkuat kolaborasi Bank Tanah dengan Bank BNI, dengan perbankan, dengan pemerintah daerah, pemerintah desa yang diharapkan tentunya akan semakin memperkuat posisi masing-masing dalam menjalankan tugas-tugasnya,” kata Hakiki di Menara BNI, Jakarta, Kamis (23/10).
Sementara itu, Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda mengungkapkan provinsinya memiliki potensi besar dalam sektor pertanian dan perkebunan. Berdasarkan data, terdapat sekitar 2,5 juta hektare kawasan hutan dan 273 ribu hektare lahan Area Penggunaan Lain (APL) yang bisa dimanfaatkan untuk pengembangan industri hilir, terutama kelapa, cengkeh, pala, dan jagung.
“Di Maluku Utara saat ini sudah memiliki dua pabrik produk turunan kelapa dan dua sedang dalam pembangunan. Maluku Utara juga saat ini menghasilkan sekitar 6 juta buah kelapa per harinya, tetapi masih banyak potensi yang belum dioptimalkan.
Oleh karena itu, kata Sherly, momentum ini sangat penting sebagai bentuk kerja sama antara Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional, bank tanah untuk memetakan semua potensi lahan yang ada di Maluku Utara.
Ia menambahkan, pemerintah daerah kini fokus memetakan potensi lahan sesuai Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD), termasuk menentukan area yang cocok untuk komoditas tertentu. Data tersebut akan dipublikasikan agar investor bisa mengakses dan melihat peluang investasi yang tersedia.
“Bagaimana kita mapping mana yang untuk kelapa, mana yang untuk jagung, mana untuk cengkeh dan pala. Data itu pun bisa kita publish dan para investor bisa mengaksesnya dan melihat potensi apa yang cocok,” ujarnya.
Sherly menekankan, Pemprov Malut membuka pintu lebar bagi investor untuk mengelola lahan-lahan tidur guna memberikan kesejahteraan bagi petani di Maluku Utara
Sherly menuturkan, pertumbuhan ekonomi Maluku Utara saat ini tercatat tertinggi di Indonesia, mencapai 32 persen di tingkat provinsi dan terdapat kabupaten yang memiliki pertumbuhan ekonomi hingga 70 persen. Menurutnya, angka tersebut menjadi bukti keseriusan pemerintah daerah dalam menciptakan iklim investasi yang kondusif.
“Kita punya kabupaten yang pertumbuhan ekonominya 70 persen jadi membuktikan kami pemerintah provinsi Maluku Utara Sangat serius dalam menciptakan iklim investasi yang baik sehingga investor yang hadir bertumbuh secara optimal,” ujarnya.
Ia menegaskan Pemprov Malut saat ini sangat fokus memanfaatkan lahan untuk penanaman kelapa. Pasalnya, permintaan produk turunan seperti kelapa kering, susu kelapa, dan santan sangat tinggi..
“Jadi ada demand sekitar 1 juta liter coconut milk per harinya dan saat ini dunia kekurangan kelapa, Maluku Utara punya lahan tidur yang siap dioptimalkan untuk ditanam kelapa,” jelasnya.
Melalui kerja sama lintas sektor ini, Pemprov Maluku Utara berharap kesepakatan tersebut menjadi komitmen nyata untuk menjadikan tanah sebagai sumber kemakmuran. Kolaborasi antar lembaga dan dunia usaha diharapkan mampu mengubah lahan-lahan yang sebelumnya tidak produktif menjadi pusat pertumbuhan
“Rakyat yang tadinya hanya duduk menunggu bisa menikmati hasil dari optimalisasi lahan tersebut,” pungkasnya.
Reporter: Nur Pangesti
