BCA: Belanja Pemerintah, MBG-Kopdes Jadi Pendorong Ekonomi RI 2026

25 November 2025 8:14 WIB
·
waktu baca 7 menit
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
BCA: Belanja Pemerintah, MBG-Kopdes Jadi Pendorong Ekonomi RI 2026
BCA memproyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026 akan didorong oleh belanja pemerintah, termasuk program MBG-Kopdes Merah Putih.
kumparanBISNIS
Kepala Biro Banking Research & Analytics BCA, Victor George Petrus Matindas, di Universitas Indonesia, Depok, Senin (24/11/2025). Foto: Najma Ramadhanya/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Kepala Biro Banking Research & Analytics BCA, Victor George Petrus Matindas, di Universitas Indonesia, Depok, Senin (24/11/2025). Foto: Najma Ramadhanya/kumparan
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa/Kelurahan (Kopdes) Merah Putih diproyeksikan menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026.
Kepala Biro Banking Research & Analytics BCA, Victor George Petrus Matindas, menjelaskan tahun 2025 merupakan tahun transisi karena banyak program pemerintah baru yang mulai berjalan pada periode tersebut. Ia memperkirakan, kedua program ini akan semakin cepat dan efektif pada 2026 sehingga akselerasi belanja pemerintah dapat menjadi motor pertumbuhan.
“Harusnya tahun 2026 program-program ini akan semakin cepat dan lebih efektif lagi. Akselerasinya itu semakin bagus. Jadi belanja pemerintah ini tetap kita harapkan sebagai driver,” kata Victor dalam acara Indonesian Economic Outlook 26 di Universitas Indonesia, Depok, Senin (24/11).
Optimisme itu sejalan dengan proyeksi Badan Gizi Nasional (BGN) yang menargetkan realisasi program MBG dapat menjangkau hingga 70 juta penerima akhir tahun ini, dari target 82,9 juta penerima.
“Kita kejar 82,9 juta (penerima) mudah-mudahan mencapai. Kita optimis lah ya, walaupun mungkin mentok-mentoknya 70 juta gitu. Tapi itu sudah akan melebihi pagu yang 70 juta,” ujar Kepala BGN, Dadan Hindayana, saat ditemui di Hotel JS Luwansa, dikutip Selasa (25/11).
Per 16 Oktober 2025, realisasi MBG baru mencapai 35,6 juta penerima atau 42,9 persen dari target, dengan 12.003 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dan penyerapan anggaran Rp 27 triliun.
Sejumlah siswa menyantap makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SDN Pejaten Barat 1 Pagi, Jakarta Selatan, Senin (29/9/2025). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
Untuk memenuhi kebutuhan MBG yang lebih besar pada 2026, pemerintah mulai memperkuat kapasitas produksi pangan nasional. Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, menekankan penyediaan protein, mulai dari telur, ikan, ayam, hingga sayur dan buah, harus ditingkatkan untuk memenuhi kebutuhan harian 82,9 juta penerima mulai 2026.
“Kalau satu hari perlu satu butir telur, maka kita perlu satu hari 82,9 juta butir telur tahun depan. Lalu kita perlu ikan, maka kita perlu 82,9 juta potong ikan tahun depan,” ujarnya dalam gelaran ISRF 2025 di Jakarta, dikutip Selasa (25/11).
Untuk itu pemerintah akan membangun tambak ikan berskala besar sekitar 20.000 hektare di Jawa serta mengembangkan tambak di 500 kabupaten/kota. Langkah tersebut diperkuat dengan rencana pembangunan 2.000 desa nelayan pada 2026.
MBG Berkontribusi dalam Pertumbuhan Ekonomi Kuartal III-2025
Kontribusi program MBG juga mulai terlihat dalam laporan Badan Pusat Statistik (BPS) mengenai kinerja ekonomi kuartal III-2025.
“Kebijakan fiskal pemerintah dalam memastikan efektivitas belanja, khususnya melalui implementasi program Makan Bergizi Gratis, turut menopang kinerja ekonomi pada triwulan III 2025,” kata Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, Moh Edy Mahmud, seperti dikutip dari Antara, Selasa (25/11).
Edy memaparkan, pertumbuhan sektor pertanian tercatat mencapai 6,51 persen, didorong meningkatnya permintaan daging ayam dan telur ayam ras seiring semakin luasnya distribusi makanan bergizi. Sub-sektor tanaman pangan juga tumbuh 9,94 persen, sejalan dengan kenaikan produktivitas dan bertambahnya luas panen padi yang ikut menjaga ketersediaan pangan untuk mendukung MBG.
Kemudian, industri pengolahan makanan dan minuman tumbuh 6,49 persen, diikuti peningkatan produksi berbagai bahan pangan olahan. Dari sisi konsumsi, konsumsi rumah tangga tumbuh 4,89 persen dan menyumbang 53,14 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).
“Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga tetap menjadi motor utama pertumbuhan dengan kontribusi 2,54 persen terhadap PDB,” kata Edy.
Foto udara pembangunan proyek LRT Jakarta Fase 1B Rute Velondrome-Rawamangun di kawasan Pramuka, Matraman, Jakarta, Selasa (22/7/2025). Foto: Darryl Ramadhan/kumparan
Peningkatan aktivitas digital juga terlihat dari naiknya transaksi e-commerce sebesar 6,19 persen secara kuartalan, didorong semakin banyaknya pelaku usaha pangan termasuk UMKM yang memanfaatkan platform daring untuk distribusi MBG.
BPS mencatat pasar tenaga kerja ikut membaik. Hingga Agustus 2025, jumlah penduduk bekerja bertambah 1,90 juta orang, sementara tingkat pengangguran menurun menjadi 4,85 persen.
Seluruh 80 Ribu Kopdes Ditargetkan Rampung 2026
Selain MBG, pemerintah juga mendorong pembangunan Kopdes Merah Putih agar dipercepat pada 2026. Menteri Koperasi (Menkop), Ferry Juliantono, mengungkapkan per 6 November 2025, terdapat 7.923 Kopdes yang sedang dibangun, dengan 11 ribu titik lahan yang tengah diverifikasi oleh PT Agrinas Pangan Nusantara. Setiap titik Kopdes idealnya memiliki tujuh gerai, mulai dari sembako, cold storage, layanan obat murah, klinik desa, simpan pinjam, logistik, hingga kantor koperasi.
Ferry menargetkan 40 ribu titik lahan dapat terverifikasi pada November, sehingga pembangunan bisa dimulai untuk 20 ribu Kopdes. Pada Desember, pemerintah menargetkan 50 ribu Kopdes mulai dibangun.
“Desember nanti kita akan bangun 40 ribu sampai 50 ribu. Lalu data tanahnya bisa mencapai 80 ribu yang terinventarisasi. Januari dibangun semua. Insyaallah Maret fisik bangunannya, termasuk gudang, gerai, dan sarana pendukung, bisa selesai,” kata Ferry ketika ditemui di Kantor Kemenko Pangan, dikutip Selasa (25/11).
Selain itu, Ferry menyatakan pihaknya telah merekrut dan melatih 7.867 asisten bisnis yang akan menjadi pendamping utama dalam pengelolaan dan pengembangan koperasi di tingkat desa dan kelurahan. Adapun pemerintah menargetkan seluruh 80 ribu Kopdes rampung sekitar Maret–April 2026.
Ekonomi Kuartal III-2025 Ditopang Belanja Pemerintah
BPS mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III-2025 tercatat mencapai 5,04 persen secara tahunan.
“Lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 4,95 persen,” ucap Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, Moh. Edy Mahmud, dalam konferensi pers, dikutip Selasa (25/11).
Kenaikan ini terutama ditopang lonjakan belanja pemerintah yang tumbuh 5,49 persen, berbalik dari kontraksi 1,38 persen pada kuartal sebelumnya.
Selain itu, ekspor barang dan jasa meningkat signifikan menjadi 9,91 persen dari sebelumnya 6,78 persen, menjadikannya komponen dengan pertumbuhan tertinggi. Sementara itu, impor melambat dari 3,96 persen menjadi 1,18 persen.
Konsumsi rumah tangga tetap terjaga di level 4,89 persen, sedangkan investasi atau Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) menunjukkan perbaikan dengan akselerasi menjadi 5,04 persen dari 2,12 persen pada kuartal sebelumnya.
BPS menilai perkembangan tersebut memberi sinyal positif untuk prospek ekonomi pada kuartal IV 2025. Secara musiman, aktivitas ekonomi pada kuartal III biasanya lebih rendah dibandingkan kuartal IV, terutama pada komponen belanja pemerintah dan konsumsi rumah tangga.
Rupiah Diproyeksikan Mencapai Rp 16.800 pada 2026
PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) atau BCA memproyeksikan nilai tukar rupiah pada 2026 akan berada di kisaran Rp 16.800 per dolar AS.
Kepala Biro Banking Research & Analytics BCA, Victor George Petrus Matindas, menjelaskan bahwa proyeksi tersebut mempertimbangkan arah kebijakan suku bunga bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed).
“Dan kami sendiri di report-report biasa kami taruh di 16.800-an untuk tahun depan. Faktor-faktor apa aja sih yang mempengaruhi? Faktor yang paling kuat saat ini tentu saja dengan arah suku bunga (The Fed),” kata Victor di Universitas Indonesia, Senin (24/11).
Ilustrasi Dolar-Rupiah Foto: ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan
Menurutnya, apabila Presiden AS Donald Trump menunjuk ketua The Fed yang baru dan penurunan suku bunga acuan benar-benar dilakukan tiga kali seperti perkiraan, peluang rupiah untuk menguat terhadap indeks dolar akan semakin besar.
“Itu yang sisi positifnya ya, seandainya itu terjadi. Sisi dari negatifnya, yang bisa membuat rupiah itu tertekan lebih dalam adalah kalau seandainya misalnya efek dari Trump tarif ini cukup signifikan ke neraca dagang kita,” tutur Victor.
Selanjutnya, dari sisi konsumsi yang mulai membaik, peningkatan belanja memang akan memberi dorongan positif bagi perekonomian. Namun, konsekuensinya adalah naiknya kebutuhan impor.
“Sehingga, kalau seandainya harga komoditas itu relatif weak, itu bisa membuat rupiahnya ini sedikit melemah,” tambah Victor.
Victor juga menyinggung keputusan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang menyuntik dana lebih dari Rp 200 triliun ke perbankan, yang diperkirakan akan membuat kondisi likuiditas baik pada tahun depan.
“Ada possibility bahwa tahun depan itu kita akan membaik. Karena arahnya itu mau ke atas, ke arah high demand. Karena sisi likuiditasnya itu mulai perlahan membaik,” lanjut Victor.
Ia menilai momentum tahun depan menunjukkan keseimbangan antara perbaikan permintaan dan peningkatan likuiditas, dengan kecenderungan yang lebih mengarah pada tercapainya kondisi permintaan tinggi dan likuiditas yang lebih longgar.
“Jadi setelah kita lihat cycle-nya, di sini memang ada 50-50 dengan sedikit kemungkinan lebih besar bahwa permintaannya akan baik,” ucap Victor.
Trending Now