BI Pangkas Porsi SRBI, Likuiditas di Sistem Keuangan Bakal Bertambah Rp 210 T

24 Oktober 2025 13:35 WIB
ยท
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
BI Pangkas Porsi SRBI, Likuiditas di Sistem Keuangan Bakal Bertambah Rp 210 T
Bank Indonesia pastikan porsi penerbitan SRBI akan dipangkas untuk menambah likuiditas di sistem keuangan.
kumparanBISNIS
Ilustrasi uang rupiah. Foto: Maciej Matlak/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi uang rupiah. Foto: Maciej Matlak/Shutterstock
Bank Indonesia (BI) akan tetap mempertahankan penerbitan instrumen moneter Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), meskipun porsinya terus dipangkas menjadi Rp 707 triliun pada 21 Oktober 2025.
Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI, Juli Budi Winantya, mengatakan BI terus melakukan ekspansi atau meningkatkan likuiditas di pasar uang dan perbankan dengan memangkas nilai instrumen SRBI, dari Rp 916 triliun menjadi Rp 707 triliun per 21 Oktober 2025.
"Sebagai instrumen moneter kontraksi, nilainya menurun dari Rp 916 triliun menjadi Rp 707 triliun. Artinya, terdapat tambahan likuiditas sekitar Rp 210 triliun yang masuk ke sistem keuangan," jelasnya saat Media Gathering BI di Bukittinggi, Jumat (24/10).
Juli menjelaskan, tambahan likuiditas juga berasal dari pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder oleh BI, termasuk program debt sharing bersama pemerintah, dengan total sekitar Rp 199,45 triliun.
Selain itu, ada tambahan likuiditas melalui kebijakan makroprudensial melalui Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) yang mencapai sekitar Rp 393 triliun. Dengan begitu, secara total, injeksi likuiditas yang dilakukan BI ke sistem perbankan mencapai lebih dari Rp 800 triliun.
Dia menyebutkan, SRBI merupakan instrumen moneter dan instrumen kontraksi, yang tentunya masih akan terus diperlukan sebagai bagian dari operasi moneter, baik itu berupa penyerapan likuiditas dari sistem apabila diperlukan, atau penambahan likuiditas apabila kebijakannya ekspansif.
"Instrumen moneter ini juga dimaksudkan untuk mentransmisikan kebijakan dari BI Rate ke suku bunga pasar uang, suku bunga perbankan, dan akhirnya ke sektor riil. Jadi SRBI sebagai instrumen moneter akan tetap ada," ungkap Juli.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, saat Media Gathering di Bukittinggi, Sumatra Barat. Jumat (24/10/2025). Foto: Fariza Rizky Ananda/kumparan
Ke depannya, Juli menyebutkan instrumen moneter tersebut akan ditambah dengan BI Floating Rate Note (BI-FRN) untuk memperkaya instrumen sekaligus memperdalam pasar keuangan.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan bahwa selama ini, aset dasar (underlying asset) yakni berupa SRBI atau SBN. Ke depannya, BI akan terus perluas kepada surat berharga lain yang berkualitas tinggi.
"Bentuknya seperti apa nanti akan disampaikan, tapi tujuannya adalah memperdalam pasar keuangan domestik agar bisa mendukung sektor riil melalui peningkatan penyaluran kredit," tuturnya.
Meski begitu, Denny menegaskan bahwa instrumen SRBI akan tetap diperlukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah dan likuiditas di pasar keuangan.
"SRBI tetap diperlukan karena menjadi bagian dari instrumen moneter. Yang perlu digarisbawahi adalah bagaimana BI secara kontinu menakar jumlah SRBI agar tetap mendukung stabilitas nilai tukar rupiah, sekaligus menjaga likuiditas di pasar uang untuk mendorong pertumbuhan kredit," jelas Denny.
Trending Now