BI Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi RI Tumbuh di Atas 5 Persen pada 2025

17 September 2025 17:40 WIB
ยท
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
BI Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi RI Tumbuh di Atas 5 Persen pada 2025
BI memproyeksi ekonomi Indonesia 2025 tumbuh di atas titik tengah kisaran 4,6โ€“5,4 persen, ditopang sinergi kebijakan moneter, fiskal, dan ekspor.
kumparanBISNIS
Gubernur Bank Indonesa Perry Warjiyo menyampaikan paparan saat konferensi pers hasil rapat Dewan Gubernur di Gedung Thamrin Bank Indonesia, Jakarta, Rabu (19/3/2025). Foto: Bayu Pratama S/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Gubernur Bank Indonesa Perry Warjiyo menyampaikan paparan saat konferensi pers hasil rapat Dewan Gubernur di Gedung Thamrin Bank Indonesia, Jakarta, Rabu (19/3/2025). Foto: Bayu Pratama S/ANTARA FOTO
Bank Indonesia (BI) memproyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia secara tahun penuh 2025 berada di atas titik tengah kisaran 4,6โ€“5,4 persen.
Gubernur BI Perry Warjiyo menuturkan, BI akan terus memperkuat bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.
Langkah itu ditempuh melalui penurunan suku bunga, pelonggaran likuiditas, peningkatan insentif makroprudensial, serta percepatan digitalisasi ekonomi dan keuangan.
โ€œDengan penguatan sinergi kebijakan Bank Indonesia dan pemerintah tersebut, pertumbuhan ekonomi semester II 2025 diperkirakan membaik sehingga secara keseluruhan tahun 2025 akan berada di atas titik tengah kisaran 4,6โ€“5,4 persen,โ€ kata Perry dalam konferensi pers, Rabu (17/9).
BI menilai belanja pemerintah akan meningkat di semester II 2025. Hal ini sejalan dengan implementasi proyek prioritas pemerintah terkait ketahanan pangan, energi, pertahanan dan keamanan, serta paket kebijakan ekonomi 2025.
โ€œBank Indonesia akan terus memperkuat sinergi dengan kebijakan stimulus fiskal dan sektor riil pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dengan tetap menjaga stabilitas perekonomian,โ€ ujarnya.
Selain itu, ekspor diperkirakan juga membaik, ditopang kenaikan ekspor produk pertanian dan manufaktur, khususnya komoditas minyak kelapa sawit (CPO) ke India seiring penurunan bea impor.
Meski demikian, Perry menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia masih perlu ditingkatkan agar sesuai dengan kapasitas perekonomian. Pada kuartal III 2025, sejumlah indikator menunjukkan konsumsi rumah tangga masih belum kuat akibat menurunnya ekspektasi konsumen, khususnya kelompok menengah ke bawah, serta terbatasnya lapangan kerja.
โ€œInvestasi juga perlu terus diperkuat melalui percepatan realisasi berbagai program prioritas pemerintah, termasuk pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di berbagai daerah,โ€ jelasnya.
Ekonomi global masih melambat
Sejumlah warga melihat gedung bertingkat di Beijing, China, Minggu (11/5/2025). Foto: Pedro Pardo/AFP
Terkait lanskap perekonomian global, BI menilai perekonomian dunia masih berada dalam tren melambat. Kondisi ini merupakan dampak dari penerapan tarif resiprokal Amerika Serikat (AS) dan ketidakpastian global yang masih tinggi.
โ€œBerbagai indikator menunjukkan perlambatan pertumbuhan ekonomi terjadi di sebagian besar negara disertai dengan disparitas pertumbuhan antarnegara,โ€ ujarnya.
Perry menjelaskan, di AS keyakinan pelaku ekonomi menurun karena kebijakan tarif yang melemahkan konsumsi rumah tangga dan meningkatkan pengangguran.
Sementara itu, kinerja ekonomi China juga masih tertekan akibat turunnya ekspor, terutama ke AS, serta melemahnya permintaan domestik, khususnya pada investasi.
โ€œEkonomi Eropa dan Jepang juga dalam tren menurun sejalan dengan tertekannya kinerja ekspor. Sementara itu, ekonomi India sedikit meningkat ditopang stimulus fiskal untuk mendorong konsumsi,โ€ kata Perry.
Dengan kondisi tersebut, BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia bisa lebih rendah dari proyeksi awal sebesar 3,0 persen.
Hal ini seiring prospek ekonomi global yang belum kuat dan menurunnya tekanan inflasi, sehingga mendorong sejumlah bank sentral menempuh kebijakan moneter akomodatif, kecuali di Jepang.
Selain itu, probabilitas penurunan Fed Funds Rate (FFR) semakin tinggi sejalan dengan naiknya tingkat pengangguran di AS.
โ€œDi pasar keuangan global, yield obligasi pemerintah AS (US Treasury) menurun sejalan dengan ekspektasi penurunan FFR dan mendorong pelemahan indeks dolar AS (DXY). Dengan masih tingginya ketidakpastian, aliran modal global ke emas semakin meningkat, sementara aliran modal ke emerging market (EM) masih tertahan,โ€ jelas Perry.
Trending Now