Blok Masela Bakal Jadi Pusat CCS, Investasi Inpex Naik Rp 16 Triliun
28 Agustus 2025 20:28 WIB
ยท
waktu baca 3 menit
Blok Masela Bakal Jadi Pusat CCS, Investasi Inpex Naik Rp 16 Triliun
Proyek LNG Abadi Masela yang berada di Blok Masela akan menjadi hub carbon capture karena bisa menerima pengiriman CO2 dari tempat lain. kumparanBISNIS

Inpex Corporation (Inpex), melalui anak perusahaannya Inpex Masela Ltd, menargetkan proyek LNG Abadi Masela akan menjadi Carbon Capture Storage (CCS) hub alias pusat CCS.
Proyek tersebut telah memasuki tahap Front-End Engineering and Design (FEED), setelah penunjukan kontraktor untuk mengerjakan empat paket utama FEED yaitu Subsea Umbilicals, Risers and Flowlines, Gas Export Pipeline (GEP), Floating Production Storage and Offloading (FPSO), dan Onshore Liquefied Natural Gas (OLNG) Plant.
Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, mengatakan kenaikan investasi Abadi Masela yang diakibatkan teknologi CCS mencapai 5 persen dari total investasi, yakni USD 1 miliar atau sekitar Rp 16,3 triliun (kurs Rp 16.331 per dolar AS).
"Dari USD 20 miliar, 5 persennya itu nambah sekitar USD 1 miliar akibat dari ada proyek CCS," ungkapnya saat konferensi pers Peresmian Tahap FEED LNG Abadi Masela, Kamis (28/8).
Djoko membuka potensi Abadi Masela menjadi CCS hub karena bisa menerima pengiriman emisi karbondioksida (CO2) dari tempat lain, bahkan diimpor dari negara lain.
"Tidak hanya dari proyek Masela, tapi dari luar juga bisa diinjeksi di situ. Jadi semacam hub untuk injeksi CO2," imbuhnya.
President & CEO Inpex Corporation, Takayuki Ueda, membenarkan bahwa keberadaan teknologi CCS menyebabkan terdapat kenaikan investasi sebesar 5 persen dari total investasi yang digelontorkan perusahaan.
Proyek Abadi Masela memiliki nilai investasi USD 20,94 miliar. Namun, Ueda menyebutkan kepastian total investasi CCS di proyek tersebut baru bisa diputuskan setelah tahap FEED rampung.
"Kenaikan biaya proyek CCS tentu saja konkretnya akan terlihat jelas melalui proses FEED. Namun, kami menekankan bahwa kenaikan biaya sebesar 5 persen dari total biaya proyek Abadi kami akan dialokasikan untuk CCS," tuturnya.
Ueda menjelaskan, melalui teknologi tersebut, CO2 akan diinjeksikan ke dalam reservoir. Namun selain dari proyek itu sendiri, CO2 bisa didatangkan dari negara lain. Dengan begitu, Abadi Masela diharapkan menjadi proyek CCS berskala dunia di masa depan.
"Kami berpikir bahwa di masa depan, mungkin CCS Abadi tidak hanya akan menjadi proyek CCS yang menyuntikkan CO2 dari Proyek Abadi, tetapi juga menyuntikkan CO2 dari banyak negara lain, termasuk Jepang dan Korea," jelasnya.
Meski demikian, dia enggan menjelaskan lebih lanjut dampak dari kenaikan investasi akibat CCS terhadap harga gas alam cair (liquified natural gas/LNG) yang diproduksi di Abadi Masela.
"Saya hanya ingin menjelaskan proyek Abadi tampaknya begitu menarik bagi calon pembeli. Proyek Abadi adalah proyek yang diproduksi secara lokal di kawasan Asia dan untuk konsumsi lokal di Asia," kata Ueda.
Selain itu, menurut Ueda, tidak banyak proyek energi skala besar lain di kawasan Asia selain proyek Abadi Masela. Dengan begitu, permintaan LNG dipastikan akan sangat besar.
"Abadi berlokasi di Asia. Tentu saja ada beberapa bisnis di kawasan Asia. Namun, ada sedikit yang bebas dari negara-negara Timur Tengah atau Amerika Serikat semacam itu, dan jarak antara Abadi dan konsumen sangat dekat. Oleh karena itu, proyek Abadi memiliki banyak keuntungan," jelas Ueda.
Berlokasi di Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Provinsi Maluku, proyek ini akan mengolah gas alam dari Lapangan Abadi untuk memproduksi sekitar 9,5 juta metrik ton per annum (MTPA) LNG per tahun, 150 juta kaki kubik per hari (MMSCFD) gas pipa, dan 35.000 barel kondensat per hari.
