BPS Catat Neraca Perdagangan RI Surplus USD 5,49 Miliar pada Agustus 2025

1 Oktober 2025 12:24 WIB
ยท
waktu baca 3 menit
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
BPS Catat Neraca Perdagangan RI Surplus USD 5,49 Miliar pada Agustus 2025
Surplus neraca perdagangan Agustus 2025 ditopang komoditas nonmigas, mulai dari lemak hingga besi dan baja.
kumparanBISNIS
Aktivitas bongkar muat kontainer berlangsung di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Jumat (16/9/2022). Foto: Aditya Pradana Putra/Antara Foto
zoom-in-whitePerbesar
Aktivitas bongkar muat kontainer berlangsung di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Jumat (16/9/2022). Foto: Aditya Pradana Putra/Antara Foto
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia pada Agustus 2025 secara bulanan mengalami surplus sebesar USD 5,49 miliar. Surplus terbesar terjadi terhadap Amerika Serikat (AS).
Deputi Bidang Statistik Produksi BPS, M. Habibullah, mengatakan dengan pencapaian neraca perdagangan pada Agustus 2025, Indonesia mencatatkan surplus selama 64 bulan berturut-turut, sekaligus surplus terbesar sejak November 2022.
"Pada Agustus 2025, neraca perdagangan barang mencatat surplus sebesar USD 5,49 miliar. Neraca perdagangan Indonesia telah mencatatkan surplus selama 64 bulan berturut-turut sejak Mei 2020," katanya saat rilis BPS, Rabu (1/10).
Habibullah menjelaskan, surplus neraca perdagangan pada Agustus 2025 ditopang oleh surplus pada komoditas nonmigas sebesar USD 7,15 miliar, dengan komoditas penyumbang lemak dan minyak hewan nabati (HS 15), bahan bakar mineral (HS 27), serta besi dan baja (HS 72).
Pada saat yang sama, lanjut dia, neraca perdagangan komoditas migas tercatat defisit USD 1,66 miliar dengan komoditas penyumbang defisit yakni minyak mentah dan hasil minyak.
Deputi Bidang Statistik Produksi BPS M. Habibullah di Kantor Pusat BPS, Selasa (8/4). Foto: Ave Airiza/kumparan
Habibullah mengumumkan neraca perdagangan kumulatif sepanjang Januari hingga Agustus 2025 juga tercatat surplus sebesar USD 29,14 miliar, ditopang oleh surplus komoditas nonmigas sebesar USD 41,21 miliar, sementara komoditas migas masih mengalami defisit sebesar USD 12,07 miliar.
Dia mencatat, jika dilihat menurut mitra dagang, neraca perdagangan kumulatif Indonesia ditopang oleh tiga negara penyumbang surplus terbesar yaitu AS dengan nilai USD 12,20 miliar, India sebesar USD 9,43 miliar, dan Filipina sebesar USD 5,85 miliar.
"Sedangkan negara penyumbang defisit terdalam adalah Tiongkok sebesar minus USD 13,09 miliar, Singapura minus USD 3,55 miliar, Australia sebesar minus USD 3,49 miliar," kata Habibullah.
Sementara neraca perdagangan kelompok nonmigas, terdapat tiga negara penyumbang surplus terbesar yaitu AS sebesar USD 14,09 miliar, India sebesar USD 9,47 miliar, dan Filipina sebesar USD 5,81 miliar.
Sedangkan tiga negara penyumbang defisit terdalam pada kelompok nonmigas adalah China sebesar minus USD 14,32 miliar, Australia minus USD 3,05 miliar, dan Brasil minus USD 1,09 miliar.
Habibullah mencatat komoditas penyumbang surplus nonmigas terbesar sepanjang Januari-Agustus 2025, pertama didorong oleh komoditas lemak dan minyak hewan nabati (HS 15) sebesar USD 22,83 miliar, lalu bahan mineral (HS 27) sebesar USD 17,8 miliar, serta besi dan baja Kode (HS 72) surplus sebesar USD 12,18 miliar.
Sementara defisit utamanya berasal dari komoditas mesin dan peralatan mekanis (HS 84) defisit sebesar USD 17,90 miliar, lalu mesin dan perlengkapan elektrik (HS 85) sebesar USD 7,53 miliar, serta plastik dan barang dari plastik (HS 39) sebesar USD 5,03 miliar.
Adapun sepanjang Januari-Agustus 2025, nilai ekspor Indonesia tercatat sebesar USD 185,13 miliar, meningkat 7,72 persen dibanding periode yang sama tahun 2024. Nilai impor sepanjang Januari-Agustus 2025 mencapai USD 155,9 miliar, naik 2,05 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2024.
Trending Now