BTN: Dana Pemerintah Rp 25 T Baru Masuk Likuiditas Usai Bank Salurkan Kredit
19 September 2025 19:40 WIB
ยท
waktu baca 3 menit
BTN: Dana Pemerintah Rp 25 T Baru Masuk Likuiditas Usai Bank Salurkan Kredit
BTN mengatakan, dana dari pemerintah tidak langsung jadi likuiditas riil perbankan, harus direalisasikan untuk penyaluran kredit terlebih dulu. kumparanBISNIS

PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau BTN mendapatkan dana dari pemerintah sebesar Rp 25 triliun. Direktur Treasury & International Banking BTN, Venda Yuniarti, mengatakan dana dari pemerintah tersebut tidak serta-merta masuk ke likuiditas perbankan.
Saat ini, dana tersebut sudah berada pada Giro Wajib Minimum (GWM) BTN yang tersimpan dalam rekening giro di Bank Indonesia (BI). Sehingga, BI baru bisa mencairkan dana tersebut setelah mendapat realisasi penyaluran kredit dari perbankan, seperti sistem reimburse.
"Uangnya sudah ada di kami, sudah ada di GWM kami (BTN). Jadi mekanismenya adalah uang itu baru bisa dipakai ketika kita sudah mencairkan kreditnya," ujar Venda saat diskusi dengan media di Mason Pine, Bandung, Jumat (19/9).
"Uang itu sudah di kita, tapi uang itu baru keluar dari GWM kami untuk bisa masuk jadi likuiditas riil kami setelah kreditnya cair. Jadi nggak bisa sekarang langsung jadi likuiditas kami, jadi benar matching dengan kreditnya," lanjutnya.
Hingga saat ini, belum ada definisi pasti mengenai sektor riil mana yang bisa mendapatkan kredit dari dana pemerintah. Namun dia memastikan, BTN akan fokus menyalurkan dana tersebut untuk Kredit Pemilikan Rumah (KPR).
"Definisi kreditnya mana saja yang bisa digunakan untuk kredit sektor riil, tapi masih didiskusikan sektor riil mana saja," kata Venda.
Sementara itu, Direktur Utama BTN Nixon L.P Napitupulu memastikan dana dari pemerintah sebesar Rp 25 triliun akan terserap habis pada Desember 2025.
Dana tersebut juga akan meningkatkan pertumbuhan kredit perseroan di tahun ini menjadi sekitar 7-9 persen. Sebelumnya, BTN menargetkan pertumbuhan kredit tahun ini sebesar 7-8 persen.
"Kapan terserap? Desember habis, Desember akan kita habiskan Rp 25 triliun, prediksi berdasarkan pipeline yang disusun," tambahnya.
Likuiditas Bukan Lagi Persoalan Bank
Nixon menuturkan, guyuran dana dari pemerintah turut mendorong likuiditas. Saat ini, tantangannya adalah perebutan kredit pada perbankan.
"Persoalan kami bukan likuiditas lagi, tapi pipeline kami akan diambil bank sebelah enggak? Memindahkan kompetisi di likuiditas di sisi perebutan kredit. Yang sudah di pipeline kami usahakan jaga perannya, dieman-eman supaya jangan pindah ke bank lain, creating-nya di sana, likuiditas bukan persoalan lagi, at least six month," kata Nixon.
Adapun hingga semester I 2025, pertumbuhan kredit BTN mencapai 6,8 persen, dengan pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar 11,2 persen. Sementara kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) gross sebesar 3,3 persen.
Lebih lanjut, BTN juga menilai tambahan likuiditas Rp 25 triliun dapat memberikan dorongan lebih bagi perseroan untuk terus menurunkan biaya dana (cost of fund), terutama setelah Bank Indonesia (BI) memangkas suku bunga acuan (BI Rate) hingga 125 basis poin (bps) dalam satu tahun ke belakang. Sebagai langkah konkret, Nixon mengungkapkan, BTN telah menurunkan bunga deposito special rate tidak lama setelah tambahan dana segar dari pemerintah diterima perseroan.
โWaktu Jumat (12 September) diputuskan oleh pemerintah, Senin (15 September) kami memutuskan untuk menurunkan bunga special rate deposito 50 bps. Dana Rp 25 triliun membantu BTN menurunkan suku bunga dana mahal dan kami akan memastikan special rate akan terus turun hingga akhir tahun,โ ujarnya.
Langkah tersebut dinilai dapat berdampak positif pada profitabilitas BTN yang akan terefleksi pada margin bunga bersih (NIM) perseeroan. Tren penurunan biaya dana di BTN belakangan juga telah berkontribusi pada NIM yang meningkat 139 bps ke level 4,4 persen hingga semester I-2025.
