BTN Pastikan Bank Syariah Nasional Beroperasi Penuh Sebelum 2026
10 September 2025 14:12 WIB
ยท
waktu baca 3 menit
BTN Pastikan Bank Syariah Nasional Beroperasi Penuh Sebelum 2026
PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk memastikan UUS miliknya akan resmi bertransformasi menjadi Bank Syariah Nasional (BSN) sebelum awal 2026.kumparanBISNIS

PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk memastikan Unit Usaha Syariah (UUS) miliknya akan resmi bertransformasi menjadi Bank Syariah Nasional (BSN) sebelum awal 2026.
Direktur Utama BTN, Nixon L.P. Napitupulu, mengatakan pekan lalu anak usaha syariah BTN telah menyelesaikan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) dan resmi berganti nama menjadi Bank Syariah Nasional, setelah sebelumnya bernama Bank Victoria Syariah.
"Sehingga BSN akan beroperasi penuh sebelum awal tahun 2026,โ ucap Nixon ketika Public Expose 2025 secara daring, Rabu (10/9).
Nixon menyebut keberadaan BSN bakal memperluas pilihan layanan keuangan syariah di Tanah Air. Menurutnya, bank syariah baru ini nantinya akan dimiliki oleh negara sehingga memperkuat ekosistem perbankan syariah nasional sekaligus memberikan lebih banyak alternatif layanan bagi masyarakat.
Kinerja UUS BTN Semester I 2025
Nixon menuturkan, Unit Usaha Syariah (UUS) BTN mencatat kinerja yang solid pada semester I 2025. Aset UUS tercatat tumbuh 18 persen menjadi Rp 66 triliun per Juni 2025, melampaui kinerja induk perusahaan.
Dengan capaian tersebut, BTN Syariah kini sah menyandang predikat sebagai bank syariah terbesar kedua di Indonesia. Nixon optimistis aset tersebut masih bisa meningkat hingga Rp 70 triliun pada akhir tahun.
"Asetnya tumbuh sangat baik, bahkan lebih bagus dari induknya, tumbuhnya 18 persen menjadi Rp 66 triliun dan sudah sah menjadi Bank Syariah terbesar nomor dua. Kita expect akhir tahun bisa mencapai Rp 70 triliun,โ paparnya.
Pertumbuhan itu ditopang portofolio pembiayaan yang naik 17 persen menjadi Rp 48 triliun. Dana Pihak Ketiga (DPK) syariah juga meningkat 91,8 persen menjadi Rp 55 triliun, dengan porsi CASA mencapai 58,9 persen per Juni 2025.
Sementara laba bersih tercatat Rp 401 miliar, naik 8,3 persen year-on-year (yoy), dengan rasio margin bunga bersih setara (NIM equivalent) 3,7โ3,8 persen dan kualitas aset yang terjaga.
Mengenai kebutuhan modal, Nixon menjelaskan BTN membutuhkan tambahan permodalan agar BSN memiliki struktur yang sehat setelah spin off. Saat ini, modal awal sekitar Rp 1,5โRp 1,6 triliun telah disiapkan melalui akuisisi BVIS sebagai kendaraan transformasi.
Dengan proyeksi aset sekitar Rp 70 triliun dan pembiayaan Rp 50 triliun pada akhir tahun 2025, BTN memperkirakan BSN membutuhkan modal inti sekitar Rp 6 triliun untuk menjaga rasio kecukupan modal (CAR) setara dengan bank induknya.
Meski secara formal belum spin off, Nixon juga mengatakan UUS telah memiliki rekening antar kantor (RAK) yang pada praktiknya berfungsi sebagai modal. Jumlahnya mencapai sekitar Rp 3,8 triliun dalam bentuk RAK modal dan Rp 655 miliar dalam bentuk RAK transaksi, sehingga total sekitar Rp 4,4 triliun.
Jika digabungkan dengan modal awal Rp 1,6 triliun dari akuisisi BVIS, maka total modal yang sudah ada mencapai Rp 5 triliun. Dengan demikian, kebutuhan tambahan modal hanya sekitar Rp 800 miliar hingga Rp 1 triliun dalam bentuk tunai.
