Cahaya di Pulau Terpencil yang Hidupkan Ekonomi Penduduk

23 Oktober 2025 21:30 WIB
ยท
waktu baca 6 menit
clock
Diperbarui 17 November 2025 16:29 WIB
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Cahaya di Pulau Terpencil yang Hidupkan Ekonomi Penduduk
Cahaya dari PLTS Kalosot dan Sapeken mengubah hidup warga Madura. Listrik tak hanya menerangi malam, tapi membuka jalan menuju keadilan energi.
kumparanBISNIS
Petugas PLN saat Memasang Arus Listrik Penduduk Usai PLTS Kalosot Beroperasi di Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur. Foto: Dok. PLN Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Madura
zoom-in-whitePerbesar
Petugas PLN saat Memasang Arus Listrik Penduduk Usai PLTS Kalosot Beroperasi di Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur. Foto: Dok. PLN Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Madura
โ€œKetika pertama ada pembangkitan tenaga surya di Kalosot itu, hari-hari di sana berubah. Rumah-rumah dan jalan jadi terang, kegiatan ibadah lebih lancar, anak-anak bisa belajar sampai malam,โ€
- Ahmad Basir, warga Dusun Kalosot, Desa Brakas, Kecamatan Raas, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur.
Ahmad Basir masih ingat betul momen paling bersejarah baginya dan ratusan warga Desa Brakas pada malam 29 Juni 2025 lalu. Setelah bertahun-tahun hidup dalam kegelapan, akhirnya PLN Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Madura menerangi daerah tertinggal, terdepan, dan terluar itu.
Pembangkit listrik tenaga surya berkapasitas 25 kilowatt kini menyalakan sendi-sendi perekonomian bagi 400 kepala keluarga. Selain jalanan yang menjadi terang, Basir dan warga lain akhirnya bisa merasakan geliat ekonomi meski malam telah tiba.
โ€œSekarang orang bisa kerja malam. Dulu kerja kerajinan seperti monte-monte cuma bisa siang karena enggak ada listrik. Setelah salat Isya, kami bisa lanjut kerja karena sudah ada lampu dari pembangkit itu,โ€ kata Basir saat bercerita kepada kumparan, Kamis (23/10).
Dahulu, sebelum listrik tenaga surya itu hadir, anak-anak hanya bisa belajar hingga pukul 14.00 WIB siang. Sore hingga malam, mereka terpaksa berhenti belajar karena tak ada penerangan.
Jangankan untuk belajar, sekadar mengisi baterai ponsel saja warga harus menumpang ke rumah yang memiliki mesin diesel.
โ€œLampu tenaga surya pribadi hanya cukup untuk penerangan, tidak kuat untuk TV, pompa air, atau kulkas,โ€ kata dia.
Sementara itu, di pulau lain di ujung timur Madura, cerita serupa datang dari Susanto, seorang nelayan di Sapeken. Dahulu pulaunya hanya diisi suara ombak dan deru mesin diesel. Tak ada penerangan. Tak ada televisi. Anak-anak belajar dengan lampu seadanya.
โ€œSejak nenek moyang kami, belum pernah ada listrik PLN,โ€ tutur Susanto, nelayan pelayaran yang setiap hari mengangkut material dan barang di sekitar kepulauan Sumenep.
PLTS Kalosot di Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur. Foto: Dok. PLN Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Madura
Dulu, warga Sapeken bergantung pada pembangkit listrik tenaga diesel yang hanya menyala dari pukul 17.00 WIB hingga 22.00 WIB.
โ€œTegangannya juga enggak bagus. Kadang lampu redup, kadang mati mendadak,โ€ kenangnya.
Kini, pembangkit tenaga surya berdiri di pulau itu, memberi napas baru bagi warga. โ€œKalau sekarang, kami sangat terbantu, walaupun belum maksimal,โ€ ucapnya.
Setidaknya saat ini 490 kepala keluarga bisa menikmati aliran listrik tersebut. Sebelum ada bantuan pembangkit, banyak warga mengandalkan lampu tenaga surya pribadi dengan daya kecil.
Tak jauh berbeda dengan Kalosot, listrik di Sapeken membuat anak-anak bisa belajar di malam hari, sementara orang tua mereka menambah pundi-pundi penghasilan.
โ€œSekarang masyarakat bisa berproduksi. Ada yang bikin es batu, jual es teh, blender bisa jalan,โ€ kata Susanto.
Ia sadar, listrik bukan hanya soal terang, tetapi tanda bahwa kehidupan di pulau kecil seperti Sapeken ikut bergerak maju.
โ€œYang penting, kami enggak gelap lagi,โ€ tuturnya.
PLTS Kalosot di Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur. Foto: Dok. PLN Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Madura
Genjot Penerangan di Daerah 3T
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat Elektrifikasi nasional pada kuartal I 2025 sebesar 99,83 persen, sementara Rasio Elektrifikasi PLN untuk periode yang sama mencapai 98,51 persen.
Berikutnya rasio Desa Berlistrik nasional mencapai 99,94 persen dengan Rasio Desa Berlistrik PLN sebesar 93,13 persen.
Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, menyebut rasio elektrifikasi nasional saat ini telah mencapai 99,1 persen. Sisanya sulit untuk dijangkau karena rumah tangganya tersebar di berbagai pulau terluar dan pedalaman.
Oleh karena itu Kementerian ESDM melakukan transformasi menuju energi yang lebih bersih. Proyek pembangunan pembangkit listrik energi terbarukan dikebut, banyak di antaranya yang sudah diresmikan dan berjalan baik.
"Di desa-desa terpencil, cahaya listrik kini menjadi simbol kehadiran negara dan pembuka jalan bagi kesempatan sosial-ekonomi. Listrik tidak lagi hanya aspek penerangan, namun meningkatkan pula akses pendidikan, produktivitas, dan taraf hidup masyarakat," ujar ," kata Bahlil, di Jakarta, Selasa (21/10).
Sementara itu, PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi (UID) Jawa Timur menargetkan seluruh kawasan terdepan, terluar, dan tertinggal (3T) di provinsi ini akan teraliri listrik sepenuhnya pada 2026.
Pada tahun ini, PLN menggarap elektrifikasi di 128 lokasi yang tersebar di wilayah kepulauan dan daerah terpencil dengan berbagai tantangan teknis dan geografis.
Manager Komunikasi dan TJSL PLN UID Jawa Timur, Dana Puspita Sari, menjelaskan bahwa medan sulit dan akses terbatas menjadi kendala utama di lapangan.
โ€œLokasi yang cukup sulit dijangkau seperti di pulau-pulau terluar, misalnya di Kabupaten Sumenep, harus ditempuh lewat laut dan sangat bergantung pada jadwal kapal serta kondisi cuaca. Namun, berkat kolaborasi PLN dengan pemerintah daerah dan stakeholder, tantangan itu bisa diakselerasi,โ€ ujarnya kepada kumparan, Kamis (23/10).
Buka Ekonomi Baru
Suasana Anak-Anak di Kabupaten Sumenep setelah mendapat aliran listrik dari PLTS Kalosot. Foto: Dok. PLN Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Madura
Dana menambahkan, program elektrifikasi tahun ini didukung oleh pendanaan dari APBN melalui program listrik desa. Sementara untuk tahun depan, PLN telah mengusulkan lanjutan program dengan skema APBN maupun Penyertaan Modal Negara (PMN).
โ€œKami bekerja sama dengan pemerintah pusat, pemda, dan berbagai pihak lain agar pelaksanaan program listrik desa berjalan lancar dan tepat sasaran,โ€ jelasnya.
Sejalan dengan agenda transisi energi bersih, PLN UID Jatim memastikan bahwa 100 persen proyek elektrifikasi 3T menggunakan energi terbarukan berbasis PLTS off-grid.
Untuk menjaga keandalan sistem, PLN memperkuat sisi pembangkitan, melakukan pemeliharaan rutin, serta mempercepat penanganan gangguan.
โ€œKami juga menjalankan program row clearance dan pemeliharaan jaringan berkala agar sistem di kawasan 3T tetap andal,โ€ kata Dana.
Program Listrik Desa memperluas jangkauan hingga 10.068 lokasi, menghampiri lebih dari 1,2 juta calon pelanggan baru. Sementara itu, realisasi Bantuan Pasang Baru Listrik (BPBL) periode 2024 telah diterima 155.429 rumah tangga (RT) dan periode Januari-September 2025 sebanyak 135.482 RT telah terpasang dari target 215.000 RT sampai akhir 2025.
Melalui program ini Pemerintah berkomitmen untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat, sekaligus mempercepat pemerataan energi, sebagai bagian dari keadilan dan kemandirian nasional.
Selain menghadirkan listrik, PLN turut memperkuat dampak sosial dan ekonomi di wilayah 3T. Melalui program Bantuan Pasang Baru Listrik (BPBL), PLN memberikan sambungan gratis bagi rumah tangga miskin belum berlistrik.
Ada pula program Light Up The Dream (LUTD), inisiatif donasi pegawai PLN untuk membantu masyarakat yang belum menikmati akses listrik.
โ€œKami berharap kehadiran listrik tidak hanya menerangi rumah, tapi juga membuka peluang ekonomi baru di daerah-daerah 3T,โ€ tutup Dana.
Tantangan dan Harapan
Petugas PLN berada di dekat area Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) terapung Tambaklorok, Semarang, Jawa Tengah, Rabu (25/6/2025). Foto: Aprillio Akbar/ANTARA FOTO
Pengamat Ekonomi dari INDEF, Abra Talattov, menyampaikan PT PLN menghadapi tantangan besar dalam memperluas akses listrik di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T).
Meski tingkat elektrifikasi nasional sudah mencapai 99 persen, wilayah 3T masih tertinggal karena kondisi geografis dan keterbatasan infrastruktur transmisi serta distribusi.
Di banyak daerah, PLN masih mengandalkan pembangkit tenaga diesel yang mahal dan sulit dioperasikan secara berkelanjutan.
Biaya investasi di wilayah 3T bisa mencapai lima hingga delapan kali lipat lebih besar dibandingkan daerah lain. Faktor logistik, tenaga teknis, hingga perawatan sistem membuat biaya produksi listrik meningkat signifikan. Karena itu, sebagian beban biaya harus ditanggung negara melalui subsidi dan kompensasi.
โ€œTidak mungkin semuanya dibebankan ke pelanggan, negara harus hadir untuk mewujudkan keadilan energi,โ€ ujar seorang pengamat energi.
Selain itu, skema pembiayaan campuran seperti blended finance dan kemitraan publik-swasta mulai dipertimbangkan untuk menekan biaya investasi di daerah terpencil.
Ia berharap langkah modernisasi jaringan distribusi juga menjadi bagian penting dari solusi jangka panjang. Pemerintah dan PLN menargetkan sistem kelistrikan di daerah 3T lebih andal dan stabil melalui peningkatan infrastruktur serta pemanfaatan energi lokal terbarukan.
Dengan pendekatan kolaboratif antara pemerintah pusat, daerah, dan swasta, "pemerataan listrik nasional diharapkan benar-benar terwujud tanpa meninggalkan masyarakat di wilayah paling terpencil," tutup Abra.
Trending Now