China Hadapi Penuaan Populasi, Ancam Industri Manufaktur-Ekonomi
26 Mei 2025 10:00 WIB
·
waktu baca 3 menit
China Hadapi Penuaan Populasi, Ancam Industri Manufaktur-Ekonomi
Di China, jumlah tenaga kerja produktif terus menurun yang dapat mengancam industri manufaktur hingga struktural ekonomi. kumparanBISNIS

China merupakan negara dengan jumlah penduduk terbanyak nomor 2 di dunia. Tercatat ada 1,4 miliar penduduk pada 2023. Namun siapa sangka, ternyata jumlah penduduk China perlahan mulai menurun.
Jumlah penduduk China terancam karena angka pernikahan mulai mengalami penurunan. Tidak hanya itu, usia penduduk yang ada saat ini, semakin menua.
Pemerintah sudah menggencarkan program pro-natalis, hanya saja belum mendapat respons baik dari masyarakat. Pro-natalie adalah rangkaian kebijakan pemerintah untuk meningkatkan angka kelahiran dan pertumbuhan populasi.
Profesor dari Universitas Tsinghua, Jiang Xiaojuan, membeberkan pemerintah China memang mempunyai tantangan berat terkait masalah penuaan populasi ini, mulai dari industri manufaktur hingga tenaga kerja produktif yang akan menurun.
“Dari sisi sosial, salah satu tantangan paling menonjol adalah penuaan populasi yang berkembang pesat,” kata Jiang dalam panel diskusi di Beijing, Minggu (25/5).
“Jumlah penduduk lansia meningkat dengan cepat, sementara pertumbuhan tenaga kerja muda melambat, menyebabkan masalah struktural dalam tenaga kerja,” tambah dia.
Eks Wakil Sekretaris Jenderal Dewan Negara ini menjelaskan, dalam menghadapi kondisi ini, pemerintah China (Partai Komunis China) berkomitmen mengambil tindakan melalui empat jalur utama yakni kebijakan, reformasi, keterbukaan, dan inovasi.
“Tujuannya adalah untuk menjaga pertumbuhan ekonomi dalam laju yang wajar dan menjaga kestabilan kebijakan serta momentum ekonomi,” ucap Jiang.
Jiang pun membeberkan beberapa langkah utama yang akan diambil pemerintah dalam waktu dekat:
1. Kebijakan fiskal akan diperkuat
“Tahun lalu, kita mulai menerbitkan obligasi pemerintah jangka sangat panjang suatu sistem pembiayaan baru. Tahun ini, kita menambahkan lagi 300 miliar RMB, dengan total mencapai 1,3 triliun RMB dalam obligasi tersebut,” kata Jian.
Menurutnya, ditambah dengan obligasi pemerintah khusus untuk pemerintah daerah dan perbankan, total utang pemerintah yang baru diperkirakan mencapai 12 triliun RMB—naik 3 triliun dari tahun lalu. “Ini adalah skala yang cukup besar,” kata dia.
2. Kebijakan moneter akan tetap akomodatif
Dari laporan kerja pemerintah 5 Maret, pemerintah China sudah dua kali menurunkan suku bunga dan cadangan wajib bank. Selain itu Gubernur bank sentral menyampaikan jika dibutuhkan, penurunan suku bunga akan dilakukan lagi.
“Tujuan utamanya adalah mendorong pinjaman, menurunkan biaya pembiayaan, dan mendorong pertumbuhan ekonomi baru. Kebijakan fiskal dan moneter kita cukup agresif dan besar skalanya,” ucap Jian.
Sebelumnya, data menunjukkan, angka pernikahan di Tiongkok tahun lalu anjlok hampir 21 persen ke titik terendah sepanjang sejarah. Penurunan ini memperburuk krisis demografi.
Angka kelahiran turun dan populasi menyusut selama tiga tahun berturut-turut. Kondisi ini menjadi ancaman serius bagi pertumbuhan ekonomi dan ketersediaan tenaga kerja, di tengah populasi lansia yang terus meningkat.
Secara budaya, kelahiran anak di luar nikah masih dipandang tabu. Tradisi dan aturan administratif menuntut pasangan memiliki surat nikah untuk mendaftarkan kelahiran anak agar mendapat akses layanan publik.
Meski beberapa provinsi telah melonggarkan aturan tersebut, tren angka kelahiran belum juga membaik. Presiden Xi Jinping pun angkat suara.
Ia menyerukan bimbingan ideologis untuk membentuk pandangan kaum muda tentang pernikahan dan keluarga. Media milik negara bahkan menyarankan universitas mengajarkan pendidikan cinta agar mahasiswa memahami hubungan emosional dengan lebih baik.
