Danantara Belum Restui Suntikan Modal USD 500 Juta ke Krakatau Steel

13 November 2025 19:09 WIB
ยท
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Danantara Belum Restui Suntikan Modal USD 500 Juta ke Krakatau Steel
Danantara belum setujui suntikan modal USD 500 juta ke Krakatau Steel karena model bisnis dinilai belum tepat, proses kajian dan efisiensi masih berlangsung.
kumparanBISNIS
Chief Operating Officer (COO) Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) Dony Oskaria berjalan untuk bertemu dengan Presiden Prabowo Subianto di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (20/5/2025). Foto: Hafidz Mubarak A/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Chief Operating Officer (COO) Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) Dony Oskaria berjalan untuk bertemu dengan Presiden Prabowo Subianto di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (20/5/2025). Foto: Hafidz Mubarak A/ANTARA FOTO
Danantara Indonesia belum merestui pengajuan suntikan modal PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS) senilai USD 500 juta, karena masih mengkaji model bisnis perusahaan yang dinilai masih belum tepat.
Chief of Operating Officer (COO) Danantara Indonesia, Dony Oskaria, mengatakan Danantara masih mengkaji proses penyehatan bisnis (turn around) Krakatau Steel, yang sejauh ini tidak bisa hanya ditambal oleh suntikan modal.
"Perbaikannya tidak bisa cukup dengan uang, tetapi kita mesti melakukan turn around terhadap bisnisnya. Jadi yang kami lakukan itu mereview setiap bisnisnya dulu, kalau dia sudah masuk ke dalam model yang benar, baru kita hitung berapa kebutuhan finansialnya," jelasnya saat ditemui di kantor Garuda Operation Center, Kamis (13/11).
Dony menyebutkan, masih ada kewajiban-kewajiban yang harus dijalankan direksi Krakatau Steel untuk bisa memproses suntikan modal, Menurutnya, jika direksi tidak berkomitmen melakukan persyaratan seperti pemotongan biaya danefisiensi, maka tidak akan dipenuhi.
Sebab, dia menegaskan Danantara bertanggung jawab secara penuh terhadap kualitas seluruh BUMN, baik itu dari sisi model bisnis, Harga Pokok Penjualan (HPP) atau COGS, EBITDA, hingga margin keuntungan apakah dapat menutupi biaya operasional.
"Kalau enggak mampu, percuma kan kita in-charge. Misalnya gini, sudah jelas itu bisnisnya diapain pun negatif. Kalau kita kasih uang berapa pun, habis uang kita, kan," tegasnya.
"Jadi ada persyaratan, tapi dia masuk dulu ke dalam bisnis model yang proper, baru kita hitung. Kalau butuh modal kerja, baru kita hitung," imbuh Dony.
Pabrik Krakatau Steel. Foto: Shutterstock
Dengan demikian, Dony meminta manajemen Krakatau Steel untuk memenuhi segala persyaratan perbaikan model bisnis, baru mengajukan suntikan modal kepada Danantara.
"Sama dengan Krakatau Steel. Kita tentu saja sebelum melakukan proses ini, kita meminta mereka untuk melakukan beberapa prasyara terutama masuk ke dalam modelling yang benar. Kalau setelah kita hitung contribution margin-nya positif, dia mampu untuk menutup fixed cost-nya, baru kita lakukan," pungkas Dony.
Sebelumnya, dikutip dari laman keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), saat ini KRAS memang sedang mengusulkan permohonan dukungan dana dari Danantara sebesar USD 500 juta.
Permohonan tersebut salah satunya akan dipenuhi dalam bentuk Pinjaman Pemegang Saham (PPS) senilai USD 250 juta.
Dana tersebut akan digunakan untuk kebutuhan operasional utama, antara lain adalah pembelian bahan baku berupa slab baja untuk pabrik HSM, hot rolled coil (HRC) dan cold rolled coil full hard (CRC F/H) pabrik CRM PT KBI, HRC pabrik pipa baja PT KPI, serta produk baja turunan.
Trending Now