Dari Minyak Jelantah ke Langit RI: Pertamina Dorong Penerbangan Rendah Emisi
16 Oktober 2025 19:54 WIB
·
waktu baca 3 menit
Dari Minyak Jelantah ke Langit RI: Pertamina Dorong Penerbangan Rendah Emisi
Pertamina Patra Niaga dorong kolaborasi nasional menuju langit rendah emisi lewat SAF Forum 2025. kumparanBISNIS

Dari minyak jelantah yang biasa dianggap limbah, kini lahir energi baru yang mampu membawa Indonesia menuju langit rendah emisi. Pertamina Patra Niaga, Subholding Commercial & Trading PT Pertamina (Persero), menggelar Pertamina Sustainable Aviation Fuel (SAF) Forum 2025 bertema “From Used Cooking Oil to Indonesia’s Sky: Driving the Circular Economy for a Clean Energy Transition”, Kamis (16/10) di Jakarta.
Forum ini menjadi wadah kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, industri energi, maskapai penerbangan, produsen pesawat, serta lembaga sertifikasi nasional dan internasional untuk mempercepat pengembangan dan implementasi Sustainable Aviation Fuel (SAF) di Indonesia. Kegiatan ini terselenggara dengan dukungan Indonesia National Air Carriers Association (INACA) dan Board of Airline Representatives–Indonesia (BARINDO).
Direktur Bioenergi Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Edi Wibowo, mengatakan pengembangan SAF merupakan langkah nyata dalam roadmap transisi energi nasional menuju Net Zero Emission (NZE) 2060.
“Saat ini sedang disusun regulasi penahapan implementasi SAF yang diusulkan dimulai tahun 2026, dengan tahap awal sebesar 1 persen melalui mekanisme mass balance dan sertifikasi rantai suplai (skema CORSIA) untuk penerbangan internasional dari Jakarta (CGK) dan Denpasar (DPS),” ujar Edi.
Ia menambahkan, implementasi SAF akan meningkat secara bertahap hingga 5 persen pada 2035. “Inisiatif seperti Pertamina SAF Forum 2025 menjadi momentum penting untuk menyatukan langkah seluruh pihak dalam membangun rantai pasok SAF yang terintegrasi. Keberhasilan ini tentu membutuhkan dukungan kuat dari semua pemangku kepentingan, pemerintah, sektor swasta, industri energi, dan maskapai,” jelasnya.
Sementara itu, Direktur Utama Pertamina Patra Niaga Mars Ega Legowo Putra menegaskan komitmen perusahaan sebagai penggerak utama rantai pasok SAF nasional, mulai dari pengumpulan bahan baku, penyimpanan, hingga penyediaan bahan bakar bagi maskapai penerbangan.
“Indonesia memiliki keunggulan sebagai salah satu penghasil minyak jelantah terbesar, dan SAF menjadi solusi untuk mengubah limbah sehari-hari menjadi energi berkelanjutan yang bernilai ekonomi sekaligus mendukung masa depan hijau," katanya.
Pertamina Patra Niaga telah menempuh perjalanan panjang dalam pengembangan SAF. Pada 2024, perusahaan meraih sertifikasi ISCC CORSIA dan ISCC EU untuk Aviation Fuel Terminal di Bandara Soekarno-Hatta dan Ngurah Rai—menandai kepatuhan terhadap standar keberlanjutan global sekaligus menjadikannya pelopor di Asia Tenggara.
Tahun 2025, Pertamina Patra Niaga sukses memasok SAF berbasis minyak jelantah produksi dalam negeri dari PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) untuk Pelita Air di Bandara Soekarno-Hatta, serta memperluas sertifikasi ISCC ke Bandara Halim Perdanakusuma.
Ketua Umum INACA Denon Prawiraatmadja menyebut kolaborasi antara industri penerbangan dan Pertamina sebagai langkah strategis menuju penerbangan rendah emisi.
“Indonesia telah menghadirkan SAF melalui Pertamina. Inisiatif ini sejalan dengan dorongan International Civil Aviation Organization (ICAO) melalui skema CORSIA, agar Indonesia mulai bertransformasi dari bahan bakar fosil ke bahan bakar penerbangan berkelanjutan secara voluntary pada 2026 dan mandatory mulai 2027,” ujarnya.
Denon pun mengajak seluruh pelaku industri penerbangan untuk bersatu mewujudkan transformasi menuju industri rendah karbon dan berkelanjutan, sehingga Indonesia dapat memperkuat posisinya sebagai pemain penting dalam pencapaian Net Zero Emission 2060.
Pengembangan dan implementasi Pertamina SAF menjadi wujud nyata komitmen Pertamina Group dalam membangun bisnis rendah karbon serta mendukung masa depan energi bersih dan berkelanjutan bagi Indonesia.
